بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
SEPASANG KARIH SAKTI bagian 3
Sepuluh tahun kemudian..
Adalah aneh kiranya jika di puncak gunung Merapi yang adalah hutan belantara terdengar suara anak kecil mengaji. Melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara yang begitu merdu. Terdengar pula suara saluangmengiringi anak kecil itu mengaji. Duduk seorang kakek tua berpakaian hitam-hitam, dengan rambut berwarna putih kelabu sepanjang pinggang, sedang meniup saluang. Bibir dan tangannya sampai sebatas bahu menghitam. Dialah Datuk Pidareh Hitam, meski tampangnya angker, dia adalah salah satu dari sekian banyak tokoh sakti golongan putih rimba persilatan pulau Andalas. Didepannya duduk seorang anak kecil berpakaian merah sedang membaca ayat suci Al-Qur’an dari lembaran-lembaran kulit Rusa. Mereka duduk di atas batu tinggi besar yang sekelilingnya ditumbuhi lumut. ( saluang = suling dari batang bambu, yang ukurannya lebih besar daripada suling biasa)
“Tabarokas murobbika zil jalaali wal ikroom” anak kecil berpakaian merah-merah itu mengakhiri lantunan suara merdunya. (Qur’an surat Ar-Rahman ayat 78; Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia)
Datuk Pidareh Hitam masih melanjutkan permainan saluangnya sesaat. Tampak dari cara ia memajamkan mata, ia begitu masuk ke dalam permainan saluangnya sendiri. Sesaat ia membuka mata dan menghentikan permainan saluangnya. Menatap wajah anak lelaki dihadapannya. Anak kecil berpakaian merah-merah dengan wajah tampan dan rambut panjang sebahu, itu hanya senyum-senyum melihat gurunya. Tubuh kecilnya tampak terlihat padat dan kekar, Kuku-kuku pada jemari tangannya berwarna hitam.
“Bagus Buyuang, bacaan Qur’anmu sudah mantap benar.” (Buyuang;buyung = sebutan untuk anak laki-laki)
“Terima kasih guru...” ucap anak lelaki itu.
“Sama-sama…” Datuk Pidareh Hitam menyorongkan saluang di tangan kanannya ke atas. Gerakan ini seperti hendak menggebuk.
Anak laki-laki itu meloncat turun dari batu besar. Diambilnya sebatang ranting kering dari tanah. Datuk Pidareh Hitam menyusulnya, saluang diayunkan keras. Anak lelaki menangkis dengan ranting kecil kering ditangan kanan. “Trang…” aneh kayu beradu bunyinya menyerupai dua besi yang beradu.
Datuk Pidareh Hitam mengayunkan saluangnya ke samping, bermaksud membabat bagian iga si anak lelaki. Dengan sebat pula anak kecil berpakaian merah itu menangkis. Kedua guru dan murid ini saling bertempur mengerahkan kemampuan yang ada. Mereka loncat ke sana kemari. Dari gerakannya kakek tua itu, seperti tidak main-main, jika sang murid tak bisa mengimbangi gerakan-gerakannya, tidak mustahil anak lelaki yang kira-kira masih berumur sepuluh tahunan itu akan celaka dibuatnya. Namun dilihat dari gerakan-gerakannya yang gesit. Anak kecil itu telah menguasai ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
Siapakah anak kecil itu? Dialah Samsul Alam, putra dari Datuk Mudo Rajo Alam, seorang kepala negeri yang mati terbunuh oleh kebiadaban Sepasang Kariah Sakti. Anak kecil itu dibawa lari oleh sang guru, Datuk Pidareh Hitam ke puncak gunung Merapi sedari ia masih bayi, tepat dihari pertama kelahirannya, tepat disaat itu pulalah ayah dan ibunya telah tiada.
Kedua orang guru dan murid sekarang saling berpandangan. Tangan Datuk Pidareh Hitam yang menghitam sampai kebahu tambah mengkilap kemerahan. Dia tengah merapal ajian pukulan Kelabang Merah. Pukulan sakti yang bisa membuat musuh bergidik takut, betapa tidak pukulan sakti ini jika terkena sedikit saja bagian tubuh, akan membuat sekujur tubuh bagian dalam merasakan panas. Hingga kulit memerah, lalu mati meregang nyawa, karena paru-paru bagian dalam akan meledak terbakar. Ditambah lagi kakek tua ini memiliki kedua tangan yang beracun, maka racun dari tangannya akan ikut terbawa dalam pukulannya.
“Sekarang kau tidak bisa main-main lagi buyuang…”
“Ha… ha… ha… jan banyak kecek guru!” (jan banyak kecek = jangan banyak omong)
Datuk Pidareh Hitam mengiblatkan pukulannya pada muridnya. Selarik sinar berwarna merah menggidikkan keluar mengarah tubuh anak kecil yang hanya berdiri bertolak pinggang.
Sehasta sinar merah itu hampir mengenai bagian dada dan perut si anak kecil. Anak kecil itu menyerongkan badannya ke belakang. Dua kepal tangannya ia sentakkan ke depan. Suara kilat menderu, tampak pijaran-pijaran api kilat keluar dari kepalan tangannya. membentuk tameng yang melindungi dari sinar merah pukulan kelabang merah sang guru.
Selarik sinar merah membalik arah, mengenai batang pohon pinus besar di samping kiri Datuk Pidareh Hitam. Batang pohon itu berubah warna merah kehitaman. Datuk Pidareh merah meski menggidik sendiri melihat akibat pukulannya terhadap pohon itu, hanya bisa menyeringai tersenyum.
“Bagus Buyuang, sekarang kau terima ini..” Datuk Pidareh Hitam membuat gerakan-gerakan berputar-putar, kedua tangannya yang dikembangkan, mengeluarkan kibasan angin. Inilah yang disebut jurus putaran angin menyerbu angkasa. Di akhir jurus ia mengarahkan kedua telapak tangannya kepada anak kecil dihadapannya. Serangkum angin dashyat menyerang anak kecil itu.
Namun anak kecil itu hanya membuat gerakan meloncat kebelakang. Membuat kuda-kuda yang sangat rendah. Dan mengayun-ayunkan kedua tangannya, sehingga dari kedua tangan tersebut sebatas siku mengeluarkan pijaran-pijaran api kilat. Ia membuat gerakan yang berputar-putar dengan kedua tangan diputar-putar pula. Ternyata ia memakai jurus yang sama untuk menangkal serangan gurunya. Tapi yang aneh dari angin yang mengibas dari putaran-putaran tersebut keluar pula pijaran kilat yang menyambar-nyambar. Kedua telapak tangan terbuka mengarah sang guru. Serangkum angin yang membawa kilat seperti segumpal awan dikala hujan akan turun, menyerang sang guru.
Terjadi letupan deras ketika dua rangkum angin beradu. Akan tetapi pijaran kilat yang menyambar-nyambar tetap menyerang sang guru. Sang guru pun menghentakkan kakinya meloncat menghindar kesamping, dan membuat sebuah ilmu pukulan yang langka. Asap hitam keluar dari kepalan tangannya. Bersamaan dengan itu sinar hitam mengiblat. Inilah yang dinamakan pukulan seribu racun. Kembali terdengar suara letupan keras, sambaran kilat dan sinar hitam beradu. Tanah dibawah menggompal kehitaman, antara hangus dan berbau racun jahat.
Sang guru menyeringai lagi. Geleng-geleng kepalanya. Lalu meloncat ke atas batu besar berlumut. Lalu memegang tasbih besar berwarna hitam, dan berdzikir. Memperhatikan muridnya di bawah sana yang berlutut hormat di hadapannya.
“Muridku.. coba kau buka lobang sengsara…!”
“Baik guru..” anak kecil berpakaian merah-merah itu berjalan ke samping kiri. Mengangkat ranting-ranting kayu yang dirajut dengan dedaunan. Dari bawahnya tampak sebuah lubang besar menganga. Di dalam lubang terdapat puluhan jenis ular dan kalajengking serta laba-laba besar yang menanti.
“Kawan-kawan apa kabar kalian siang ini..?” ujar anak lelaki itu pada hewan-hewan di dalam lubang.
“Masuklah ke dalam lubang muridku.. Bermainlah dengan kawan-kawanmu.. Guru tunggu engkau disini ketika tengah hari nanti, sama-sama kita nanti melaksanakan sholat dzuhur berjama’ah.”
“Baik guru..” Anak kecil itupun masuk ke dalam lubang. Terdengar suara canda tawa dari dalam lubang. Datuk Pidareh Hitam hanya sunggingkan senyum sambil berdzikir didalam hati.
***
“Muridku.., usiamu kiranya sudah sepuluh tahun. Selama itu pulalah kau ku bawa ke atas puncak gunung ini. Seluruh ilmu tenaga dalamku sudah kuwariskan kepadamu. Begitu juga ilmu silat dan ilmu mengaji. Aku percaya kelak kau akan menjadi orang besar, ketika dewasa nanti.” ucap Datuk Pidareh Hitam kepada Samsul Alam. Mereka tengah duduk bersila berhadap-hadapan. Tampaknya mereka telah melakukan shalat Dzuhur bersama, karena mereka duduk pada tikar sembahyang di atas batu besar yang berlumut.
“Kemarin malam aku bermimpi muridku, tepat hari ini kau akan dibawa oleh seorang sakti. Dia adalah inyiak gurumu. Kepadanya-lah engkau harus menuruti segala perintah dan pelajaran-pelajaran.”
“Siapa dia guru..?” anak kecil berbaju merah bertanya heran.
Kakek tua berambut kelabu sepanjang pinggang itu menarik nafas dalam. “Kau cukup memanggil namanya dengan sebutan Inyiak saja..!”
Sebenarnya dia ingin memberitahukan siapa nama kakek gurunya itu. Namun Datuk Pidareh Hitam tahu betul sifat kakek gurunya yang bukan merupakan manusia itu, bisa saja lelembut-lelembut itu marah jika ia mendahului kehendak mereka.
“Itu mereka telah datang…” seru Datuk Pidareh Hitam kepada muridnya sambil mengarahkan wajahnya ke hadapannya. Asap putih mengepul.
Dari balik kepulan asap yang semakin lama, semakin mereda. Muncul dua sosok makhluk. Yang satu berwujud kakek tua berpakaian destar hitam, dengan tongkat putih digenggam pada tangan sebelah kiri. Dan sebuah saluang emas terselip di pinggang. Sedang yang satu lagi berwujud harimau besar berwarna putih, mata harimau tersebut berwarna hijau menyala-nyala terang. Yang aneh dari kedua makhluk ini adalah kaki-kaki mereka tidak menjejak ke tanah. Tubuh mereka berdiri sama tinggi dengan Samsul Alam dan Datuk Pidareh Hitam, padahal kedua orang itu sedang duduk di atas batu besar yang tinggi.
“Cepat kau berlutut di hadapan mereka Samsul..!” Datuk Pidareh Hitam telah mendahului berlutut di hadapan kedua makhluk tersebut. Dengan segera Samsul Alam ikut duduk berlutut.
“Grrr.., rupa-rupanya anak ini telah kau didik dengan baik cucu..!” ucap kakek yang sedang memegang tongkat putih dan terselip saluang emas di pinggang.
“Itu semua berkat petunjuk inyiak pula. Ambo kiranya hanya menuruti apa yang inyiak perintahkan kepada ambo..”
“Hmm…, bagus-bagus cucu, Inyiak yo bana panggak punya murid berbakti seperti waang.” (Inyiak yo bana panggak = Kakek sangat bangga)
“Terima kasih banyak inyiak.”
Kakek berdestar hitam itupun maju beberapa langkah. Menatap tajam wajah anak kecil di hadapannya. Meski tatapan matanya tampak menakutkan dan berwibawa, senyuman pada bibirnya membuat wajah itu terlihat lebih ramah. Ia mengulurkan tangannya kepada Samsul Alam. Datuk Pidareh Hitam menyentuh bahu anak itu, dan mengerdipkan matanya. Samsul Alam mengerti betul arti isyarat dari gurunya. Ia mencium tangan kakek tua dengan saluang terselip di pinggang itu.
“Anak pintar..” kakek tua itu lalu mengelus-elus rambut Samsul Alam, “anak pintar…”
“Samsul.., ikutlah dengan inyiak..! Jadilah anak yang baik. Taati perintah agama.. Tegakkan selalu sholat yang lima waktu.. Hiduplah dengan jujur. Ikhlaskan semua yang kau kerjakan hanya untuk Yang Maha Kuasa. Setelah engkau dewasa kelak kunjungilah aku.., gurumu yang tua ini.. Ingin melihatmu menjadi pemuda gagah dan perkasa..” Datuk Pidareh Hitam meneteskan air matanya pada Samsul Alam.
“Guru…..” Samsul Alam memeluk gurunya. Tak kuat menahan haru, air mata keluar dari matanya. Ia peluk erat-erat tubuh kakek tua yang berbadan kekar itu, semakin erat, seakan-akan enggan untuk ia melepaskannya.
“Pergilah nak…! Perpisahan ini hanya sementara.. Aku akan menunggumu disini.. Ingatlah pesanku.. Selama engkau menuntut ilmu.. Katakan dalam hatimu, tak ada ilmu yang paling hebat selain ilmu Yang Maha Kuasa. Agar engkau tak menjadi orang congkak kelak dikemudian hari.”
Dengan susah hati Datuk Pidareh Hitam melepas rangkulan Samsul Alam. Kakek Tua yang dipanggil Inyiak oleh Datuk Pidareh Hitam hanya tersenyum melihat kedua guru dan murid ini. Ia angkat tubuh anak kecil di hadapannya, lalu memapahnya di bahu.
“Cucuku… Aku akan bawa muridmu ini untuk menuntut ilmu di hutan Gunung Singgalang sana! Kuharap engkau bersabar menunggu sampai muridmu berhasil menuntut ilmu. Setelah kukira ia berhasil, kelak ia akan kubawa kembali kesini.”
Datuk Pidareh Hitam hanya bisa menundukkan wajahnya. Memejamkan matanya, menahan air mata keluar lebih banyak. Begitu ia membuka mata. Kakek tua bersama Harimau putih besar tunggangannya sudah tak ada lagi di tempat itu, mereka pergi meninggalkan tempat itu. Kini ia sendiri. Ia melanjutkan tapanya lagi. Tapa yang terhenti selama sepuluh tahun. Oh, apakah muridnya akan baik-baik saja di luar sana.
***
Samsul Alam hanya bisa memejamkan matanya. Deru angin seperti menerpa wajahnya. Suara angin yang berhembus kencang seperti sebuah irama merdu yang indah sekali ditelinganya. Sejenak ia bisa melupakan wajah gurunya. Gurunya yang berwatak keras, namun sangat menyayanginya. Oh guru.., mengapa aku begitu merindukanmu.. padahal baru saja kita tak berjumpa..
Samsul Alam kini berada ditengah hutan belantara. Pepohonan-pepohonan besar nan rindang dengan dedaunan yang lebar menutupi sinar mentari untuk masuk. Suara makhluk-makhluk penunggu hutan menambah keadaan menjadi semakin mencekam. Kabutpun mulai muncul. Samsul Alam memperhatikan keadaan, hanya ada pohon, hanya ada semak. Dimanakah kini ia berada. Begitu sampai ia telah didudukkan oleh kakek tua dihadapannya dipinggiran sebuah pohon besar.
“Berdirilah anakku..!” ucap kakek tua dihadapannya, “Sesaat lagi akan kuperkenalkan engkau dengan sahabat-sahabatku…!!”
Samsul Alam berdiri, lalu hanya terdiam bisu. Ia tak tahu harus berkata apa. Meski ia hendak bertanya dimanakah kini ia berada. Ia merasakan enggan untuk berkata apa-apa. Lalu kakek tua itu berteriak keras, meraung, raungannya hampir seperti raungan harimau. Begitu keras, hingga menyakitkan gendang telinganya. Samsul Alam hanya dapat menutup lobang telinganya dengan kedua telapak tangannya.
“GGGGrrrrrAAAAuuuuuuuummmmmmmm……”
Suara itu menggema kemana-mana.
Beberapa saat kemudian, keanehan terjadi. Tanah serasa bergetar keras. Terdengar suara-suara raungan harimau. Juga terdengar suara-suara binatang-binatang hutan yang ketakutan. Dari balik semak di sebelah kiri ia berada muncul dua harimau besar. Di hadapannya muncul seekor harimau yang juga besar. Dari balik pohon di kanannya kembali muncul dua ekor harimau. Dia berdiri mematung, rasa takut hampir di kepalanya, jantungnya berdegup kencang. Tapi ia langsung terperanjak kaget ketika telapak tangannya yang menjuntai, menyentuh bulu-bulu harimau yang berjalan dari belakangnya. Ia lalu berlari mencari perlindungan, mencoba memeluk kakek tua yang membawanya ke hutan ini.
Tapi apa yang ia dapatkan. Kakek tua itu mendorongnya. Hingga tubuhnya terperosok jatuh terduduk. Ingin rasanya anak kecil itu menangis, namun Samsul Alam sudah tidak terbiasa menangis. Entah sejak kapan ia tidak menangis. Samsul Alam memandang mata kakek tua itu, pandangan yang tajam dan menakutkan. Begitupula dengan harimau putih tunggangannya. Mereka berdua seolah-olah semakin mendekatkan diri ke arahnya. Ia menjauh, tapi tak bisa, bagian belakang tubuhnya menyentuh tubuh seekor harimau. Ia kini tersadar harimau-harimau itu kini sudah mengurungnya.
“Berdirilah…..!” kakek tua itu menjulurkan tangan kearahnya.
Setelah ia menegakkan dirinya. Kakek tua itu mengelus rambut dan sebagian wajahnya. Memandangnya dengan pandangan yang tajam. Namun hangat.
“Anakku.. Aku akan meninggalkanmu disini. betah-betahlah kau disini!” ucap kakek tua berdestar hitam kepada Samsul Alam.
“Ke.. kenapa inyiak? saya takut jika inyik tinggalkan disini.”
“Tak usah takut keenam harimau ini akan menjadi teman-temanmu. Mereka akan menjadi temanmu sekaligus guru-guru terbaikmu.”
Samsul Alam memandang ke sekelilingnya. Harimau-harimau buas berwajah garang dan menyeramkan. Seperti siap menerkamnya dan menelannya hidup-hidup. Mereka yang akan dijadikan teman-teman, sekaligus guru juga. Hal yang sungguh sukar dipercaya olehnya, bahkan mustahil ia bayangkan.
“Aku tinggalkan engkau sekarang juga anakku. Tujuh tahun yang akan datang kita akan kembali bersua. Sementara itu bersabarlah engkau disini. Jangan engkau lupakan sholatmu anakku.” ucapan kakek tua itu begitu meresap dikepalanya.
Kakek tua bersama harimau putih besar tunggangannya berlalu pergi. Cepat sekali perginya. Sekali loncat saja, harimau putih itu telah lenyap dibalik dedaunan besar di atas sana. Ia menatap kagum. Di atas langit masih ada langit, ucapnya dalam hati.
Sementara ia masih terperangah menatap kepergian kakek tua yang ia panggil dengan sebutan inyiak itu. Tanpa ia sadari seekor harimau menerkamnya tepat di dada. Samsul Alam terperosok jatuh. Mulanya ia takut. Namun kini, ia berpikir, ia harus selamat dari terkaman harimau-harimau buas ini. Dari sorot mata mereka yang tajam dan lidah serta taring mereka yang mencuat keluar dari mulut, Samsul tahu betul mereka berniat mencelakainya. Kilatan listrik keluar dari dua belah tangannya sebatas siku. Ia memasang kuda-kuda rendah. Ia tahu betul lawan menyerang dengan loncatan dan terkaman. Jadi ia aman dengan kuda-kuda ini.
Seekor harimau meloncat dan menerkamnya ke arah wajah. Ia buat gerakan memuntir ke bawah, dimana badan dibuat rata dengan kuda-kuda yang rendah dan berputar. Ia menyerang lawannya dengan sebuah pukulan bertenaga dalam, selarik sinar kilat mengarah ke dada harmau tersebut. Tapi apa yang terjadi, harimau itu kembali berdiri tegak menghadap ke arahnya. Seperti pukulan yang dashyat tadi tidak membuat harimau itu merasakan apa-apa.
Sedang dua harimau lain sudah menyerangnya dari dua sisi yang berlawanan, kiri dan kanannya. Yang satu menerkam bawah, yang satu loncat dan menerkam bagian wajah dan kepalanya. Ia meloncat rendah, tubuh membentuk sebuah galah. pukulan ke arah dada ia tujukan pada harimau yang berada di atasnya. Sedang harimau yang melintas di bawah, ia pukul bagian punduk kepalanya.
Sekali lagi harimau-harimau itu tetap tegap di hadapannya. Dengan sorot mata yang tajam. Apa yang terjadi. Biasanya pukulannya dapat memukul pecah sebuah batu yang cadas sekalipun. Apalagi kilat dari tangannya dapat menghanguskan semua benda yang tersentuh. Kini ia hanya bisa berdoa dan mengatur jalan nafasnya. Sementara harimau-harimau itu terus menyerangnya.
Diposkan oleh Poetih Dekil
Best NFL Parlay Bets 2021 - Casino in Japan matchpoint matchpoint 온라인카지노 온라인카지노 368Dodgers Vs Clippers Predictions, Odds & Picks | FBCasino
BalasHapus