بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
SEPASANG KARIH SAKTI bagian 1
Hujan rintik-rintik tengah membasahi bumi. Seluruh permukaan angkasa berwarna gelap gulita, meski hari masih beranjak senja. Suara guntur menggelegar dan begitu mencekam. Angin menderu menggegubu begitu kencangnya hingga pepohonan bergoyang dan dedaunan berterbangan. Begitu keadaan kampung Panyalaian yang berada tepat dibawah gunung Merapi Tanah Datar pulau Andalas. Keadaan kampung begitu hening, karena derasnya hujan yang mengguyur kampung tersebut.
Suatu saat terdengar suara petir menggelegar tiga kali. Pada dentumannya yang ketiga, yaitu yang paling kencang, seolah-olah bumi bergetar. Guncangan itu semakin membuat takut para penduduk yang ada di kampung tersebut. Maklum kampung mereka berada tepat dibawah gunung merapi yang kapan saja bisa meledak, memuntahkan isinya. Bersamaan datangnya suara petir itu sayup-sayup terdengar suara rengekan bayi dari sebuah rumah gadang yang berada di atas pedataran sawah yang berundak-undak.
“Alhamdulillah…. Ya Allah puji syukur ambo… Anak ambo telah lahir ke dunia ya Allah…” begitu senangnya Datuk Mudo Rajo Alam. Segera dia beranjak dari duduknya menuju kamar tempat persalinan istrinya. (Ambo=saya)
Ia ketuk pintu kamar yang dijadikan kamar persalinan itu. “Bagaimana Amak..? Anak ambo laki-laki apo padusi..? Dan sehatkah keadaannya..?” Bertanya lelaki setengah baya dengan perawakan tubuh tinggi tegap dan wajah tampan klimis dengan janggut tipis, tanpa kumis sama sekali. (padusi = perempuan)
Dari dalam kamar, “Alhamdulillah Datuk, ini anak bayi lelaki yang paling sehat dan kuat yang amak jumpai.” Berucap perempuan dari dalam kamar.
Datuk Mudo Rajo Alam langsung tersenyum sumringah, terlihat tetesan air mata bahagia turun dari kelopak matanya. Langsung dia bersujud syukur kepada sang Kuasa.
“Ini Datuk.., jika Datuk Muda mau melihat anak pertama Datuk!” ucap seorang perempuan tua dari depan pintu kamar tadi.
Dengan bahagia lelaki berpakaian destar merah dan celana merah ini menggendong bayi laki-laki yang masih merah dan diselimuti kain. Lelaki berperawakan gagah ini menimang anaknya sebentar. Kemudian ia kecup kening anaknya lalu mengucapkan kalimat syahadat, “ASYHADU ALLA ILA HA ILALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARASULULLAH.” Kemudian ia mengazankan anaknya tersebut. Wajahnya tampak haru, tampak air mata kembali menetes dari kelopak matanya. Ketika Datuk Mudo Rajo Alam mengazankan anaknya ini kembali terjadi keanehan, sekejap saja hujan yang mengguyur deras berhenti, cuaca pun menjadi cerah kembali.
***
Sementara itu di dalam hutan, tampak berbaris dua puluh orang lelaki berpakaian hitam-hitam duduk di atas kuda mereka. Seorang lelaki manghadap ke Sembilan belas orang lainnya. Dari antara mereka lelaki ini tampak paling sangar. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam pula, hanya bedanya di bahunya menyelempang sarung berwarna merah. Ia mengenakan saluak yang juga berwarna merah. Di pinggang kanan-kirinya terselip sepasang karih. Pada wajahnya yang begitu kokoh tampak segaris bekas luka membujur pada keningnya. Rambutnya panjang menjula ke bahu. Ia berkumis dan berjanggut tipis. Ia-lah yang dinamakan sepasang karihsakti. (saluak =lilitan kain peci khas minang ; kariah = keris Minang)
“Kita akan turun gunung. Kita harus membalas dendam kita kepada para penduduk kampung itu. Sekalian aden harus membayar luka ini.” Menunjuk ia ke arah keningnya, “Datuk Mudo Rajo Alam harus membayarnya dengan bayaran yang setimpal. Ia harus mati di tangan aden sendiri. Sekalian istrinya yang cantik akan aden bawa untuk aden jadikan sebagai selir. Ha… ha… ha…” (Aden = aku; dalam bahasa kasar)
“Baik sekiranya angku mau membalas dendam. Tapi pertimbangkan baik-baik di kampung itu banyak sekali orang-orang yang ilmunya setanding dengan kita. Dulu.., dua tahun yang lalu kita sempat kocar-kacir dibuat mereka. Lalu Datuk Mudo Rajo Alam sendiri adalah seorang berilmu tinggi. Apakah ini sudah angku pikirkan matang-matang?” ucap salah seorang dari mereka, dialah yang tampak paling tua pada rombongan itu. (Angku = tuanku)
“Wa’ang takut mamak….? Ha… ha… ha…. Kalau takut tak usahlah mamak ikut dengan kami. Lebih baik mamak bergegas pergi meninggalkan rombongan ini. Ini lebih baik bagi mamak. Seandainya mamak bukan adik dari amak den, aden akan menebas leher mamak sekarang juga. Tidak ada alasan untuk takut atau ragu bagi pasukan rampok Hantu Hitam, mamak.” (Wa’ang = kamu; dalam bahasa kasar, Mamak = paman)
Mendengar ucapan sepasang karih sakti, sang paman hanya terdiam. Baginya biarlah ia menanggung derita ini. Keponakannya ini memang berlaku kurang ajar padanya. Betapa tidak, mana ada seorang paman harus patuh terhadap keponakannya. Mana ada seorang paman memanggil keponakannya dengan sebutan angku, mungkin hanya dia seoranglah di tanah Minang ini yang begitu. Nasibnya memang begitu buruk. Seandainya saja ia tak pernah berucap janji kepada almarhum kakak perempuannya, untuk menjaga anak tersebut sampai ajalnya menjemput.
Rombongan itu lalu bergegas pergi meninggalkan hutan di perbukitan tersebut. Derap langkah kaki kuda mereka berjalan perlahan, berbaris. Mereka seakan lebih tampak seperti rombongan prajurit. Bukan rombongan perampok.
***
Dilain tempat, disisi barat puncak gunung Merapi. Kabut tebal menyelimuti puncak gunung itu. Udara begitu dingin. Tepat disamping lubang kawah, duduk bersila seorang kakek tua diatas batu besar yang banyak ditumbuhi lumut. Meski dari raut wajahnya yang sudah sangat tua namun tubuh kakek tua ini begitu tegap dan kokoh. Rambutnya yang berwarna kelabu panjang sampai ke pinggang, berderai-derai dihembus tiupan angin, begitu juga dengan kumis dan janggutnya yang panjang. Ia mengenakan jubah dan celana berwarna hitam. Yang aneh dari kakek ini adalah bibir dan kedua tangannya yang berwarna hitam. Pada tangan kanannya ia sedang memegang tasbih panjang yang juga berwarna hitam.
Di dalam semedinya kakek tua itu terpekur beberapa lama. Di dalam benaknya selalu muncul wajah muridnya satu-satunya, Datuk Mudo Rajo Alam. Ia tak mau terusik. Ia kembali mengheningkan segala cipta dan rasanya. Namun bayangan itu kembali hadir. Sadar tapanya telah terganggu ia membuka matanya.
Kakek tua ini terperangah kaget, ketika ia melihat kabut bergulung-gulung di hadapannya. Ia mencium wangi kemenyan di tempat itu. Segera ia tersenyum, lalu turun dari batu besar tempat ia bersemedi. Lalu berdiri tegak dihadapan kabut yang bergulung-gulung tersebut. Tak lama dari balik kabut muncul sepasang harimau besar yang satu berwarna keemasan dan yang satu lagi berwarna putih. Dari mata harimau yang keemasan keluar sinar biru menyala-nyala, sedang dari mata harimau putih keluar sinar berwarna hijau menyala terang.
“Ah.., kiranya ambo mendapat kehormatan untuk didatangi oleh inyiakberdua.” Ia tersenyum pada kedua ekor harimau tersebut, lalu merapatkan kedua telapak tangannya, tanda hormat, “Sekiranya ada apa geranganinyiak berdua repot-repot berkunjung ke tempat ambo?” (inyiak = sebutan untuk kakek)
Lalu harimau besar berwarna kuning keemasan itu berubah menjadi sesosok manusia berwujud orang tua berambut putih. Ia memegang tongkat putih terbuat dari kayu di tangan kirinya. Sedang di pinggangnya terselip sebuahsaluang yang terbuat dari emas. berselempang kain putih dan tinggi melebihi manusia lainnya. Sepasang matanya berwarna kebiruan.
“Berdirilah cucuku Datuk Pidareh Hitam! Kedatangan aku dan harimau putih ini ingin memberi kabar padamu. Bahwa tepat pada malam ini, nyawa muridmu terancam.” (saluang= suling besar dari bambu, pidareh = pukulan beracun)
Datuk Pidareh Hitam langsung terperonjak kaget ketika mendengar ucapan kedua makhluk jejadian didepannya. Baru saja mulutnya mau berbicara.
“Jangan kau merasa bimbang dengan ucapan aku Datuk. Segeralah turun gunung. Satu pesanku. Kemungkinan besar firasat ku anak muridmu itu sudah tak bisa diselamatkan lagi. Dan engkau ku rasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena perjanjianmu kepada Sang Kuasa untuk tidak membunuh.”
“Satu yang kumohon padamu, engkau selamatkanlah anak lelaki dari muridmu. Dia memiliki pertanda baik untuk menjadi seorang besar. Tanpa harus diajarkan apa-apa, dari kedua tangannya, jika ia menghendaki akan muncul segelombang dahsyat kilat. Dia memiliki kesaktian laduni. Tapi kumohon sekiranya…” (laduni = ilmu yang bukan berasal dari dunia)
“Sekiranya.., apa inyiak?” Datuk Pidareh Hitam heran.
“Sekiranya engkau mau untuk mengajari seluruh kesaktianmu. Sampai anak itu berumur sepuluh tahun. Dan setiap tiga purnama sekali kau harus menyalurkan tenaga dalammu kepada anak itu. Dan jangan lupa alirkan juga segala macam racun yang ada pada tubuhmu. Sedari kau bawa anak lelaki itu ke puncak gunung ini.”
Gila.., anak bayi harus ku aliri tenaga dalamku dan seluruh racun yang ada dalam tubuhku. Apakah ini bukan pembunuhan namanya? Begitu pikir Datuk Pidareh Hitam.
“Baik Inyiak. Tapi kenapa hanya sampai umur sepuluh tahun saja?” lelaki tua berambut kelabu itu kembali merasa heran.
“Setelah ia berumur sepuluh tahun. Aku akan mengangkatnya sebagai muridku.” ucap orang tua itu.
Orang tua itu lalu duduk di atas harimau putih besar yang ikut serta bersamanya. “Ayo Datuk kita tinggalkan tempat ini!” ucapnya kepada harimau putih itu. Harimau putih itu menurutinya, mengaum satu kali, tanda perintah dari orang tua itu telah dimengerti. Lalu harimau putih itu membalikkan badannya. Namun baru satu langkah ia menjejaki kakinya, kabut tebal telah menyelimuti. Kedua sosok itu hilang begitu saja.
Datuk Pidareh Hitam, terperangah sesaat. Benarkah muridku akan kehilangan nyawanya malam ini. Langsung saja dia meloncat dan berlari menuruni gunung menuju ke arah timur.
Diposkan oleh Poetih Dekil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar