بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
SEPASANG KARIH SAKTI bagian 6
“HAHAHAHAHA…”
Terdengar suara tawa yang bergemuruh dari balik semak-semak sana. Samsul Alam yang sedang berjalan turun dari atas puncak gunung Merapi seketika itu menghentikan langkah kakinya. Pemuda ini langsung mengetahui, suara laki-laki yang didengarnya tadi dipenuhi aliran tenaga dalam. Sehingga gema dari suara tersebut tetap mengusik gendang telinga yang hampir saja pecah, jika ia tak menutup aliran darah menuju gendang telinganya. Ia lalu meloncat ke atas dahan pohon diatasnya, lalu berloncatan dari satu dahan ke dahan lainnya. Mencoba mencari asal suara itu.
“HAHAHAHAHAHA…” kembali suara tawa itu terdengar.
“Darimana asal suara tawa itu?” bertanya-tanya Samsul Alam dalam hatinya.
Dari kejauhan ia melihat sebuah telaga kecil. Dan bebatuan yang mengelilingi telaga tersebut.
“Jangan-jangan suara itu berasal dari seseorang yang sedang mandi di telaga itu. Dia berada di balik bebatuan besar yang ada disana.” Samsul Alam menyelidik. Segera ia meloncat ke dahan di sampingnya. Menuju samping telaga, agar bisa melihat dengan jelas siapa yang tertawa-tawa di siang hari yang cerah seperti ini.
Tiba-tiba.
“Pemuda berpakaian merah… Hahahaha…. Daripada mengintip orang mandi.. Lebih baik engkau ikut menceburkan dirimu yang sudah berbau busuk belerang itu… Hahahahaha…”
Samsul Alam yang sedang berdiri di atas sebuah dahan pohon langsung terheran mendengar perkataan itu. Ia berdiri terpaku, kebingungan, apakah betul dirinya yang dituju dalam ucapan seorang lelaki yang belum ia lihat tampak dan wujudnya.
“Berdiri seperti patung… Hahaha… Apakah engkau keturunan arca atau jangan-jangan ayah dan ibumu adalah pahat dan palu… Hahahaha…”
Karena merasa dihina ayah dan ibunya Samsul Alam geram, tangan kanannya bergetar, dia mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan itu. Kilatan-kilatan listrik sebatas siku tampak menyala-nyala dari tangan itu. Ia lalu memukul ke arah batu yang berdiri kokoh disamping telaga.
Duarrrr… Batu itupun pecah di beberapa bagian.
Namun tiba-tiba, sebuah benang melilit lehernya kencang. Lalu menariknya ke dalam telaga. Byur.., tak ayal ia tercebur ke dalam telaga tersebut.
“Dasar pemuda gendeng, kampret… Hahahaha… Disuruh mandi malah membuat tempat tidur-tiduranku hancur berantakan… Hahahaha… Rasakan akibatnya ku buat kau tak bisa bernafas di dalam air.”
Samsul Alam tak tahu apa yang terjadi. Yang ia rasakan kepalanya di sebelah belakang diinjak, sehingga ia tak bisa menggerakkan kepalanya dari dalam air telaga itu. Sedang pantatnya dipukul-pukul. Ia memberontak, setengah tenaga dalam ia kerahkan. Tapi karena ia kesulitan bernafas di dalam air. Apa daya tenaga dalamnya tak berguna apa-apa.
“Cukup pelajaran dariku… Sekarang basuh tubuhmu…. Tak sedap aku mencium bau tubuhmu yang busuk oleh bau belerang… Hahahaha…”
Samsul Alam langsung duduk bersila, mengatur jalan nafas. Dilihat olehnya seorang pemuda gagah kurus berpakaian putih-putih sedang asyik membasahi wajah dan tubuh sambil berlagak seperti perempuan kemayu yang sedang mandi dan tertawa-tawa girang. Pemuda tersebut seperti orang yang kurang ingatan alias gila. Ia yakin pemuda tersebut yang mengerjainya tadi.
“Siapa namamu?” ucap Samsul Alam.
Pemuda dihadapannya meliriknya sebentar lalu tertawa cekikikan.
“Aku bukan gadis.. Hahaha… Mau apa kau berkenalan denganku.. Hahaha.. Atau jangan-jangan engkau yang punya kelainan… Suka pada lelaki sesama jenis… Hahaha… Pantas rambutmu halus tergerai.. Wajahmu lembut bak bidadari… Hahahaha… Jangan-jangan engkau sebangsa laki-laki jadi-jadian… iya?”
Samsul Alam hanya tersenyum menggeleng-gelengkan wajahnya.
“Hati-hati.. Copot kepalamu geleng-geleng begitu… Hahaha…”
“Aku ingin bersahabat denganmu, kenapa aku tidak boleh mengenal siapa namamu?”
“Sebaiknya kau dulu yang menyebutkan nama… Hahaha.. Dan jangan lupa pula, jelaskan juga apa hubunganmu dengan pedang Dewa Api yang kau bawa itu.. Hahaha..”
Samsul Alam heran dengan ucapan pemuda tersebut. Bagaimana ia mengetahui tentang pedang Dewa Api yang ia bawa.
“Aku Samsul Alam. Akulah pemilik pedang Dewa Api yang kau sebut tadi. Tolong, sudilah engkau menyebutkan namamu wahai pendekar gagah.”
“Hahahaha… Engkau, pemilik pedang Dewa Api. Sungguh aku merasa takjub, bagaimana pemuda jadi-jadian sepertimu yang berjodoh memilki pedang sakti itu… Hahahaha..”
Samsul Alam tersenyum.
“Senyummu manis pemuda cantik.. Hahahaha… Sayang aku tak tertarik… Hahaha.. Kenalkan aku bernama Sukat Tandika… Hahaha… Jangan berharap aku bersedia menjadi kekasihmu.. Hahaha.. Karena aku tak tertarik dengan sesama kaum Adam… Hahaha…”
“Salam kenal dariku pemuda gagah bernama Sukat Tandika.. Sudilah kiranya jika Sukat mau menjadi sahabatku..”
“Apa..? Sahabat.., apa aku tak salah dengar..? Justru aku ingin mengambil nyawamu. Kenapa? Karena engkau telah menipuku wahai pemuda cantik yang punya kerjaan sebagai pencuri. Hahaha..”
Samsul Alam menahan kegeramannya. “Apa maksudmu menuduhku sebagai pencuri..?”
“Pedang itu… Kau bukanlah pemiliknya yang syah.. Hahaha… Kau hanya mencurinya dari seseorang tua diatas puncak sana.. Bukan begitu?”
Samsul Alam dapat langsung mengetahui siapa kiranya yang disebut oleh pemuda bernama Sukat dengan orang tua. “Maksudmu tentu adalah Datuk Pidareh Hitam wahai sobat. Aku muridnya..”
“Hahaha… Pandai kau menipuku.. Setahuku selama dua tahun aku mengenalnya, kakek tua yang kau sebut namanya dengan lidahmu tadi tak memilki seorang murid satupun…. Hahaha…”
Tiba-tiba dari bawah air melesat seutas benang menyerang wajah Samsul Alam. Samsul Alam meloncat menghindar. Dan mengeluarkan jurus angin berputar menyerang angkasa, jurus ini merupakan jurus yang ampuh untuk membela diri sekaligus menyerang. Serangkum angin yang keluar berputar-putar melindungi sekujur tubuhnya. Namun seutas benang itu tetap maju menyerangnya, dengan sekali sentak ia melilitkan benang tersebut dengan serangkum angin.
“Gila… Kusut benangku nanti..” seru Sukat Tandika geram. Segera ia menarik benang yang dipakainya untuk menyerang Samsul.
Samsul Alam lalu tegak di hadapan pemuda yang bernama Sukat Tandika itu. Sembari tersenyum ia berkata, “Tampaknya kau begitu mengkhawatirkan benangmu daripada nyawamu sendiri, sahabatku.”
“Apa maksudmu…?” Sukat Tandika heran dengan ucapan Samsul Alam.
Samsul Alam hanya melirik pada bagian bawah Sukat Tandika. Pemuda yang berpakaian putih itu langsung tertawa melihat celananya sudah merosot. Bagian bawahnya yang tidak tertutup suatu apapun dibukanya lebar-lebar dan sengaja dijadikannya bahan tontonan pada Samsul Alam.
“Hahahaha… puas kamu… kamu mau lihat anuku nih aku kasih lihat…. Dasar laki-laki jadi-jadian… Hahahaha…”
Tanpa disadari Samsul Alam, Sukat Tandika sambil tertawa-tawa dan berlagak aneh seperti itu, sebenarnya pemuda itu tengah menyerangnya. Plak…, sebuah tamparan mendarat pada pipi pemuda yang baru saja turun gunung itu.
Heran, karena ia tak bisa melihat gerakan yang sangat cepat itu. Dan dilihatnya Sukat Tandika sudah mengenakan celananya kembali. Bagaimana mungkin pemuda itu memukulnya dengan gerakan secepat itu, sambil mengenakan celana pula. Samsul Alam tersurut mundur beberapa langkah. Tapi Sukat Tandika seperti orang yang kerasukan, kembali menyerang Samsul Alam. Bagi Samsul Alam musuh jangan dicari, ada musuh pantang untuk lari. Maka pertarungan-pun tak ayal terjadi.
Mereka mencoba saling mengalahkan. Bagi Samsul Alam ini adalah musuh pertamanya. Bagi Sukat Tandika Samsul Alam ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Jurus-jurusnya yang terkenal membingungkan karena seperti orang gila yang sedang meracau dan tak bisa ditebak, ternyata tak bisa mengenai sasaran. Begitupun dengan Samsul Alam, ia bingung, tak satu pukulan-pun yang mengenai sasaran.
Meski sudah sepuluh jurus mereka keluarkan, tapi tak ada satupun yang dapat memukul tubuh lawan. Serangan demi serangan yang mereka andalkan hanya mengenai ruang kosong. Tenaga mereka sama-sama terkuras habis. Sukat Tandika benar-benar sudah dirasuki ingin menamatkan lawannya, dari pukulannya terdengar suara deru angin, tampak tenaga dalam yang tidak bisa dianggap enteng. Sedang Samsul Alam meski kebanyakan menghindar, tapi gerakan-gerakannya tak bisa dianggap enteng pula, karena setiap gerakannya mengandung pertahanan yang kuat sekaligus serangan yang mematikan.
“Lihat tangan…” seru Sukat.
Samsul Alam terjebak oleh ucapan Sukat. Ternyata Sukat Tandika hanya melakukan sebuah tipuan saja. Dengan tenaga dalam yang sudah dialirkan pada kaki, Sukat menendang Samsul Alam tepat di bahu. Samsul Alam terpental, tapi ia sempat menyarangkan pukulan telak di dada Sukat Tandika. Sukat pun terpental.
Darah kental sama-sama keluar dari sela-sela mulut mereka. Berbeda dengan Samsul Alam yang hanya meringis tersenyum, Sukat Tandika malah tertawa-tawa.
“Hahaha… jadi betul engkau murid petapa tua Datuk Pidareh Hitam sobat?”
“Sahabat.. Tak ada gunanya kita berkelahi. Karena aku memang betul murid Datuk Pidareh Hitam. Tujuh tahun aku dibawa oleh seorang kakek sakti berguru di tempat lain. Aku baru saja kembali satu purnama yang lalu, namun guruku sudah menyuruhku untuk mengangkat dari batu yang ada di dalam goa lubang kawah dan mengambil pedang ini menjadi milikku. Dan semenjak hari ini aku diperintahkan guruku untuk turun gunung.”
“Hmm, baiklah tak ada buruknya jika aku mempercayaimu. Toh tidak ada untung ruginya buatku. Hahahaha.. Sekarang aku bertanya, kemanakah arah tujuanmu selanjutnya?”
“Entahlah Sukat, aku tak tahu kemana kaki akan membawaku. Tapi mungkin ada perlunya aku mengetahui siapa yang membunuh ayah dan ibuku.”
“Hahahaha… Jadi kau ingin membalas dendam? Sama saja tujuan semua orang menuntut ilmu di dunia ini… Hahahaha… Balas dendam, darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Sungguh makin tua dunia semakin gila kita… Hahahaha… Tak bisakah kitakah hidup dalam cinta. Oh tapi cinta juga bisa membuat orang menjadi gila… Hahaha… Gila, gila…” seru Sukat Tandika sembari menggaruk-garukkan kepalanya dan berlagak seperti orang kegirangan.
Samsul Alam hanya tersenyum melihat lagak dari pemuda tampan dan berperawakan gagah yang seperti orang gila di hadapannya.
“Bolehkah aku ikut denganmu sobat Samsul… Hahaha.. Setidak-tidaknya aku ingin menonton pertumpahan darah yang akan terjadi nanti.. Hahahaha…”
“Aku tidak berniat membunuh siapapun yang membunuh ayah dan ibuku. Aku hanya ingin tahu siapa dia. Itu saja. Hanya untuk melegakan hatiku yang gamang dan sedih karena tak bisa melihat sosok ayah dan ibu.”
“Sungguh mulia hatimu sahabat… Hahahaha…” ujar Sukat Tandika, “Baik-baik… bolehkah aku ikut denganmu wahai sahabat baruku?”
“Dunia ini milik Tuhan. Jikalau Tuhan tiada melarang umatnya untuk berjalan di muka bumi ini. Maka aku tak akan melarangmu wahai sahabat.”
“Bagus-bagus… Hahaha… Kau orang pandai dan bijaksana rupanya.. Aku kagum padamu, masih muda sudah seperti orang tua saja… Hahahaha… Tak salah sikap dan ujarmu mirip dengan gurumu si Datuk Pidareh Hitam itu, petapa yang mengerti dengan ilmu agama…. Hahaha…”
Kedua orang pemuda itupun langsung bergegas dari tempat itu, jalan menuruni gunung Merapi.
***
Berkumpul di lapau adalah kebiasaan yang sudah lumrah bagi pria-pria Minangkabau pulau Andalas. Mereka menamakan kegiatan kumpul-kumpul itu dengan sebutanciloteh lapau. Selain sebagai salah satu tempat sumber informasi, Lapau juga terkadang menjadi tempat melepaskan penat maupun unek-unek dan segala hal yang kurang menyenangkan. Sambil minum kopi atau teh panas dan menyantap hidangan betapa nikmatnya bersenda gurau dengan sahabat dan tetangga. (lapau = sebutan warung untuk warga Minangkabau; ciloteh lapau = berceloteh/mengobrol di warung)
Namun tak jarang pula kita melihat lapau sebagai tempat berjudi. Para lelaki pemalas yang kerjaannya hanya mabuk atau ingin mendapatkan uang dengan cara mudah sering kita temui di lapau. Begitu pula dengan lapau Amak Radiah, lapaunya begitu ramai dengan kedatangan orang-orang yang singgah untuk makan dan minum. Tetapi ramai juga oleh kedatangan orang-orang yang hendak berjudi. Sebenarnya hatinya menolak, tapi apa daya, dia tak mau dibuat susah. Usianya yang sudah lanjut, tak punya daya dan upaya. Ia hanya memiliki seorang anak gadis, itupun sudah diambil orang menjadi istri. Suaminya yang tua hanya bisa tertidur di rumah, tak bisa apa-apa. Toh ia tak pernah menikmati uang judi itu secara langsung, uang yang dia dapat murni hasil penjualan makanan dan minuman yang ada di lapaunya.
Siang itu begitu ramai, memang lapau mak Rodiah adalah lapau yang sering dikunjungi oleh warga kampung maupun orang-orang yang singgah dalam perjalanan. Selain letaknya yang berada di samping jalan utama yang menghubungkan antar kampung dan nagari. Memang masakan mak Rodiah terkenal nikmatnya. Begitupun racikan kopi yang ditumbuk sendiri oleh tangan mak Radiah.
Di pojokan dekat pintu keluar, dua orang pemuda sedang duduk minum kopi dan makan pisang. kedua pemuda tersebut tampak berlainan watak dan perangai. Keduanya sama-sama berambut panjang, tapi yang satu rambutnya halus, yang satu lagi berambut awut-awutan. Pemuda berambut halus dan berpakaian merah-merah itu, memilki raut muka yang tenang dan selalu tersenyum tipis. Sedang pemuda yang satunya lagi, tak henti-hentinya bertingkah konyol dan tertawa-tawa sembari menggaruk-garuk rambutnya, sehingga bongkahan-bongkahan pisang pun menempel pada rambut yang awut-awutan itu.
“Kamu punya uang tidak.., Samsul?? Hahahaha..”
Samsul menggeleng, jangankan ditanya punya atau tidak. Mendengar kata uang-pun ia baru sekali itu, menjumpainya tentu belum pernah.
Pemuda berpakaian putih yang tak lain Sukat Tandika hanya bisa melotot sesaat kepada Samsul Alam, lalu tertawa cekikikan, dan menendang-nendang kaki meja. Namun betapapun meja itu terlempar-lempar, tak terdengar suara gaduh apapun, bahkan piring-piring yang berisi kue dan dua gelas kopi yang terletak diatas meja tak tumpah dan tak bergeming dari tempatnya.
“Bagaimana kita membayar semua ini goblog….??? Hahahaha…. Kau lucu… Kau lebih gila dari aku…. Hahahaha.” Sukat Tandika tak henti-hentinya tertawa.
Tawa Sukat Tandika terdengar oleh seisi warung, tampak mereka menoleh ke arah Sukat dan Samsul Alam. Beberapa diantara pengunjung ada yang tampak geram. Bahkan salah seorang laki-laki tampak mau bangkit berdiri. Namun lelaki itu dicegah, oleh teman yang ada disampingnya.
“dek waang mantagah den?” seru lelaki itu pada temannya. (dek waang mantagah den= kenapa kamu mencegahku)
“Ang indak tau sia inyo.. Ang tau indak inyo-lah nan disabuik Pandeka Gilo Patah Ati..” cegah temannya pada lelaki yang geram itu. Begitu mendengar ucapan itu baru laki-laki itu duduk terdiam. (Ang indak tau sia inyo.. Ang tau indak, inyo-lah nan disabuik Pandeka Gilo Patah Ati.. = Kamu tidak tahu siapa dia.. Kamu tahu tidak, dia-lah yang disebut Pendekar Gila Patah Hati)
Nama Pendekar Gila Patah Hati memang begitu menggetarkan seluruh antero pulau Andalas. Ia juga dikenal sebagai Pendekar Gila Pencabut Jiwa. Menurut kabar yang terdengar pendekar itu telah banyak membunuh banyak nyawa ditangannya. Ia telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagiu para penduduk Tanah Andalas, terutama Ranah Minang. Banyak orang yang sudah melihat dengan mata kepala sendiri ketika Pendekar itu mengamuk dan mencabut banyak ruh dari jasadnya.
Sukat Tandika terus tertawa sembari mengoceh tak jelas, karena mulutnya dipenuhi oleh pisang dan kue-kue. Sedang Samsul Alam hanya tersenyum melihat tingkah sahabat barunya. Hal ini membuat jengkel, seisi pengunjung lapau. Namun tak ada yang berani mengganggu keberadaan dua orang asing yang mereka satu diantaranya adalah Pendekar Gila Patah Hati. Namun tidak demikian dengan para penjudi dadu yang ada di pojokan sebelah dalam lapau. Mereka sangat terusik oleh tawa Sukat Tandika. Beberapa diantaranya berdiri dan berjalan menghampiri Sukat Tandika.
“Bangsat kurang ajar wa’ang….” seru salah seorang diantara mereka sembari menyerbu Sukat dengan golok panjang terhunus.
“Hahahaha….” Sukat hanya tertawa sembari membuat gerakan seperti menari dengan tubuh masih duduk diatas bangku, menghindari serangan golok yang bisa-bisa memapas lehernya hingga putus.
Sembari membuat gerakan menghindar dengan gerakan melecehkan lawan Sukat Tandika ternyata menyerang bagian bawah perut lawan dengan dua jari telunjuk dan tengahnya. Seperti gerakan menotok ia melancarkan serangan itu. Tapi tak ayal sang penyerang mental ke belakang. Terjelepok dengan keadaan mengenaskan dalam keadaan entah pingsan atau putus nyawa, karena sebelumnya saat terpental tubuhnya menimpa meja yang ada di belakangnya. Dipastikan beberapa tulang rusuknya telah patah.
Melihat temannya bernasib malang, para penyerang yang lain tak lantas kecut hatinya, mereka lantas menyerang Sukat dan Samsul bersama-sama. Dengan golok dan pedang di tangan, mereka menyerang dua pemuda asing itu dengan sebat dari berbagai arah. Samsul Alam yang sebenarnya dalam batinnya enggan untuk turun tangan, mau tak mau ikut ke dalam pertempuran. Baginya pantang untuk menghindar dari serangan lawan yang ingin memburu nyawanya.
Pertempuranpun terjadi di dalam lapau. Para penjudi yang tadinya enggan untuk turun tangan, melihat kawan-kawan mereka telah terdesak, menjadi ikut geram. Mereka pun menghunus senjata masing-masing menyerang kedua pemuda tersebut.
Saat itu Sukat sedang menghadapi lima orang secara bersamaan. Dua diantara mereka menyerang dengan menggunakan pedang dan tiga yang lainnya menyerangnya dengan golok. Mereka mengepungnya dari samping, depan dan belakang. Tapi dengan menggunakan jurusnya yang seperti orang gila sedang menari-nari ia dapat menghindari setiap serangan lawan. Sesekali ia meloncat ke atas meja dan menendang beberapa kepala penyerangnya. Dua orang rupanya dapat ia jatuhkan, mereka tersungkur akibat tendangan yang mengenai leher bagian belakang dan kepala bagian atas.
Tiga orang lagi dengan kalap menyerang Sukat Tandika secara bersamaan. Satu pedang menyerang dada, dua golok mengarah kepada leher dan perutnya. Sembari tertawa Sukat Tandika bergerak kebawah, sembari membuat gerakan tendangan berputar yang terarah pada pergelangan kaki setiap lawan-lawannya. Gerakan itu begitu cepat, hingga tak ayal, kaki mereka yang terdorong membuat mereka tersandung, dan senjata mereka mengenai kawan-kawannya sendiri.
Lalu apa yang terjadi dengan Samsul Alam? Pemuda ini sama halnya seperti Sukat ia diserang oleh tiga orang yang kesemuanya memegang golok ditangan mereka. Namun tanpa kesulitan berarti Samsul Alam, dengan kuda-kuda yang sangat rendah dan tangan yang berbentuk cakar, seperti harimau yang sedang menanti pemburunya, mengelak lalu menangkis dengan menangkap satu demi satu semua tangan penyerangnya yang memegang senjata. Dengan cengkramannya yang kuat dan mencakar, senjata itupun satu persatu lepas dari genggaman para penyerang. Lalu ia menggebuk dan menendang satu persatu lawan-lawannya di bagian dada dengan keras. Hingga mereka tersungkur tak berdaya.
Samsul kemudian menatap ke sekeliling. Lapau itu telah sepi oleh pengunjung. Mungkin para pembeli kabur ketika perkelahian terjadi. Warung itupun telah luluh lantak. Beberapa meja bahkan hancur dan makanan-makanan berceceran dimana-mana. Para penyerang mereka berdua tak satupun dalam keadaan sadar, entah hanya pingsan atau mati. Beginilah jika nafsu dan amarah melanda diri, nyawa hilang, badan tersiksa.
Mak Rodiah sedang berdiri ketakutan menatap ngeri kepada dua orang pemuda di hadapannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kelak. Apakah ia akan ditinggalkan hidup-hidup atau mati. Ia dulu pernah mendengar tentang kekejaman tindak tanduk orang yang berjuluk Pendekar Gila Patah Hati dari desas desus warga sekampungnya. Ia sama sekali tak menyangka sama sekali akan berhadapan langsung seperti itu. Jika ia memang ditinggalkan hidup-hidup bagaimana ia akan hidup nantinya. Lapau tempat ia mencari nafkah telah hancur luluh lantak akibat perkelahian.
Sukat yang melihat akan tingkah wanita tua itu lalu tertawa sembari garuk-garuk kepala sambil menghampirinya.
“Nenek…, hahahaha…. Engkau pasti takut dan cemas akan nasib warung nasimu bukan…?? Hahahaha…”
Mak Radiah hanya mengangguk, tampak sekali rasa takut dan cemas dari wajah dan tubuhnya yang bergetar.
“Tak usah takut nenek… Hahahaha…, kelak kau takkan rugi, makananmu paling nikmat sedunia… Lagipula…, hahahaha…, kau lihat uang yang ada di meja judi itu…!! Semua uang itu harap kau ambil sebagai pengganti modal makanan dan meja serta warungmu yang telah hancur… Hahahaha…”
Mak Radiah yang menatap uang yang bercecer di atas meja judi langsung tersenyum. Tapi ia kembali menoleh kepada Sukat Tandika. Wajahnya masih tampak kecemasan.
“Lantas bagaimana dengan mayat-mayat itu?” tanyanya.
“Soal mayat jangan nenek pikirkan… Hahaha… segera simpan uang-uang itu… Lalu lari kepada warga kampung…. Mintalah bantuan untuk membereskan lapau ini.. Setahuku yang menjadi mayat hanya tiga orang itu saja….!” seru Sukat sembari menunjuk kepada mayat orang-orang yang menyerangnya, merekalah tadi yang saling tikam. “Dan itu bukan kesalahanku… Hahahaha…, mereka saling tikam antar kawan sendiri.”
Samsul Alam lalu berjalan mendekati Sukat Tandika dan Mak Radiah. Ia lalu mengangguk dan tersenyum pada wanita tua itu.
“Ibu, benarlah apa yang diucapkan kawan saya ini. Tapi saya mohon kepada ibu. Janganlah ibu menjadikan lapau ini sebagai tempat untuk berjudi. Judi itu adalah tindakan tercela, bahkan agama memerintahkan penganutnya untuk menjauhi judi. Ibu membiarkan mereka-mereka itu berjudi di tempat ibu, sama saja ibu menjadi salah seorang diantara mereka. Bahkan ibu memakan dan meminum uang hasil judi.”
Sukat Tandika melirik kepada Samsul Alam. Begitu lugu teman barunya ini. Namun dibalik keluguan itu terdapat kebijaksanaan dan kewibawaan. Hal ini tentu membuat Sukat semakin tertarik untuk berkawan. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sembari tertawa cekikikan.
“Judi membuat seluruh harta kita, yang kita makan dan minum, kita tempati dan kita nikmati menjadi kotor. Barangkali kita menikmatinya. Tapi kita tak pernah tahu, bahwa itu adalah pangkal bahala yang akan menyiksa diri kita kelak.”
“Hahahaha… Bosan aku mendengar ceramahmu anak alim…. Ayo.., lebih baik kita menyegerakan diri beranjak dari sini!” ucap Sukat Tandika pada Samsul Alam.
Kedua pemuda itupun pergi melenggang meninggalkan lapau itu. Mak Radiah hanya menatap mereka dengan kagum, ternyata dugaannya selama ini salah tentang Pendekar Gila Patah Hati. Bahkan teman dari Pendekar Gila Patah Hati tadi telah memberikan wejangan yang cukup berharga untuk hidupnya. Ia kagum dengan dua orang pemuda yang berlainan watak dan sikap. Dari gaya berjalan mereka yang memunggunginya, Mak Radiah hanya bisa tersenyum melihat bagaimana pemuda yang satu berjalan tegap kalem, sedang yang satu berlenggak seperti orang gila yang gatal pada bagian kepalanya. Tubuh-tubuh mereka yang gagahpun menghilang dibalik kejauhan.
Diposkan oleh Poetih Dekil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar