بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
SEPASANG KARIH SAKTI bagian 5
“Muridku…………” seru orang tua berambut kelabu sepanjang pinggang. Segera ia meloncat turun dari batu besar yang ia duduki ke hadapan seorang pemuda di depannya. Dari jarak loncatannya kita dapat mengetahui bahwa orang tua itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa.
“Guru. Bagaimana kabarmu guru?” Pemuda berpakaian merah-merah yang tak lain adalah Syamsul Alam segera memeluk tubuh kekar orang tua yang sudah berumur sangat tua itu.
“Tak usah kau pikirkan gurumu ini nak. Bagaimana kabarmu? Kulihat engkau menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah.”
Samsul Alam hanya tersenyum mendengar ucapan gurunya. Dia segera memandang kesekelilingnya. Keadaan tak jauh berbeda dengan saat ia meninggalkan tempat ini dulu, tujuh tahun yang lalu. Batu besar berlumut tempat duduk gurunya, dimana terletak tasbih besar berwarna hitam untuk gurunya berzikir, lembaran-lembaran kulit rusa berisi tulisan-tulisan kitab suci dan sebuah saluang bambu yang siap ditiup oleh sang guru untuk melantunkan dendang-dendang penggugah hati. Di sebelah kirinya terletak sebuah lobang tempat gurunya menaruh kalajengking, kelabang, laba-laba besar dan puluhan jenis ular. Binatang-binatang itulah yang dulu menjadi sahabatnya. Sedang di sebelah kanan ia berdiri ada beberapa tonggak kayu dan batu-batu besar tempat ia berlatih silat bersama gurunya.
“Ayo anakku, duduklah diatas batu besar itu..! Ceritakan apa saja yang kau alami di luar sana! Gurumu ini sudah tak sabar mendengar ceritamu.” Datuk Pidareh Hitam yang memiliki tangan sebatas bahu serta bibir yang berwarna hitam ini lalu mencuat kembali ke atas batu.
Tak mau kalah, Samsul Alam pun ikut meloncat, bahkan ia sempat melakukan gerakan jungkir balik tiga kali. Padahal jarak antara mereka berdiri sampai atas batu sejauh lima tombak.
Setelah duduk berhadap-hadapan. Kedua guru dan murid itupun langsung bertutur cerita. Samsul Alam menceritakan semua kejadian yang dia alami, semenjak kepergiannya dari puncak gunung Merapi tempat ia kini berada sampai ia berada di sebuah hutan belantara di gunung Singgalang oleh kakek tua sakti yang ia sebut dengan Inyiak dan harimau putih tunggangannya. Dimana ia dipertemukan dengan enam ekor harimau besar yang akhirnya ia ketahui harimau-harimau tersebut memilki julukan enam datuk harimau. Sampai ia dilepaskan kembali oleh keenam Datuk Harimau kepada Inyiak tersebut. Dan kakek tua sakti itu memerintahkannya untuk kembali ke gunung Merapi setelah sebelumnya ia memberikan sebuah ajian ilmu pukulan sakti padanya.
Selagi Samsul Alam bercerita, Datuk Pidareh Hitam hanya tersenyum-tersenyum kecil saja. Kakek yang sudah berumur puluhan tahun tapi bertubuh kekar itu, lalu menepuk bahu Samsul Alam, muridnya tercinta.
“Anakku.., aku bersyukur engkau telah dididik dan digembleng selama tujuh tahun ini oleh saudara-saudara seperguruanku, bahkan diantara mereka ada seorang saudara sekandungku. Bagaimana kabar harimau yang paling besar dan menjadi pemimpin mereka anakku? Apo lai inyo sie-sie sajo?” (Apo lai inyo sie-sie sajo = apakah dia sehat-sehat saja)
Samsul Alam trerperanjak kaget. “Maksud guru..?”
“Mereka adalah manusia juga Samsul. Karena ketinggian ilmu mereka, mereka menjadi seperti itu. Terjebak dalam ilmu yang mereka pelajari sendiri. Kelak kau akan mengetahui juga siapa diriku.” Lama sang guru tertegun, namun tiba-tiba pandangan matanya membentur tiga goret luka bekas cakar harimau yang melintang besar didada kiri sampai ke perut kanan bagian atas muridnya.
Lalu Datuk Pidareh Hitam menyentuh dada itu dengan telapak tangannya. “Jadi mereka menurunkan semua kesaktian mereka padamu. Jadi engkaulah orang yang terpilih itu Samsul.”
Samsul Alam sama sekali tak mengerti ucapan gurunya. “Apa maksud guru?”
“Ah kelak engkau pun tahu seiring berjalannya waktu wahai muridku. Apakah engkau kuat menjadi orang yang terpilih, hanya itu saja yang kutakutkan.”
Samsul Alam terdiam. Ia sama sekali tak mengerti segala penuturan gurunya. Yang bisa ia lakukan hanya meresapi betul-betul segala apa yang akan gurunya ucapkan padanya.
“Harap engkau resapi syair yang akan kunyanyikan ini.” Datuk Pidareh Hitam lalu mengangkat saluang bambunya dan meniupnya. Terdengar dendang irama syahdu yang menentramkan orang yang mendengarnya. Namun entah bagaimana caranya gurunya itupun berbicara padahal saat itu mulutnya sedang meniup saluang. Dia yakin inilah ilmu Memindahkan Suara.
Manusia hidup di dunia hanya sementara
Kematian pasti melanda siapa saja yang bernyawa
Hanya Tuhanlah tempat kembali
Hanya Tuhanlah yang abadi
Iman dan taqwa mendatangkan syurga
Apakah kita bisa menjadi makhluk terpuji
Hidup sesat dan penuh maksiat mendatangkan neraka
Siksa kubur sungguh tak terperi
Segenggam ilmu mengubah dunia
Hati yang bersih dan pikiran yang jernih merasuk kedalam jiwa
Tutur kata berbudi dan tunduk hanya pada sang pencipta
Adalah kunci alam semesta
Pandanglah ke bawah, ingat kita terbuat dari tanah
Pandanglah ke atas, Hanya Tuhan-lah yang Maha Perkasa
Hiduplah dengan cinta
Jangan jadikan angkara murka melanda jiwa
Suara saluang berhenti. Datuk Pidareh Hitam menatap mata Samsul Alam tajam-tajam. “Coba kau ulangi syair lagu yang tadi kunyanyikan dengan meresapinya dalam-dalam didalam lubuk hati dan pikiranmu..!”
Samsul Alam pun kembali mengulangi mendendangkan syair yang sesaat sebelumnya dinyanyikan oleh gurunya. Meresapi betul-betul makna yang terkandung didalamnya.
“Bagus anakku.” Datuk Pidareh Hitam mengelus-elus janggutnya yang panjang sedada. “Sekarang, aku ingin dengar. Apakah Inyiak atau enam Datuk Harimau punya sebuah pesan yang harus disampaikan pada gurumu ini?”
Sesaat Samsul mengeryitkan keningnya, mencoba mengingat. Dia lalu mengangguk kepada gurunya.
“Apa bunyi pesannya muridku? Sampaikan saja padaku!”
“Kalau tidak salah Inyiak mengatakan pada saya.. Bahwa benda yang guru simpan serahkan saja pada saya!”
“Hmmm… Sebagai orang yang terpilih tentu kau harus memiliki senjata. Aku gurumu merestuimu mendapatkan senjata itu. Cuma senjata itulah yang akan memilih takdirnya sendiri, apakah ia akan patuh terhadapmu wahai anakku.”
“Maksud guru?” tanya Samsul Alam.
“Benda yang dimaksud Inyiak agar kuserahkan padamu adalah sebuah pedang sakti yang tertancap pada batu inti api di dalam lobang kawah di belakangku ini. Aku hanya ditugaskan untuk menjaganya saja. Pekerjaan ini sudah turun temurun sejak tujuh generasi. Tak kusangka jika memang aku berhadapan dengan orang yang berjodoh dengan senjata ini, yang ternyata adalah muridku sendiri, betapa beruntungnya aku sebagai gurumu, anakku. Tapi seperti kukatakan tadi..”
“Untuk memilki senjata ini kau harus berjuang nyawa anakku. Kau harus menunggu batu inti api tempat pedang itu tertancap, menyerap panas bumi. Ketika batu inti api berwarna kelabu, yang artinya sedang menyerap panas bumi baru kau bisa mencabut pedang itu. Tapi belum tentu kau bisa mencabutnya. Dan seandainya kau lambat mencabut pedang itu, jika batu inti api kembali berwarna kelabu, maka jangan harap kau keluar dari lubang kawah itu. Karena kau akan meleleh oleh air belerang mendidih yang mengelilingi batu itu.”
Samsul Alam terpekur. “Bisakah aku mendapat kehormatan mendapat pedang itu?” batinnya menelisik.
“Muridku, selama engkau menunggu batu inti api menyerap panas bumi. Hendaklah engkau berpuasa setiap hari. Bersahur dan berbukalah dengan lumut-lumut yang tumbuh disekeliling dinding lubang kawah. Serta banyak-banyaklah berdzikir sembari mengolah seluruh tenaga dalam yang ada ditubuhmu.”
Samsul Alam menunduk lesu. “Apakah aku bisa kuat menghadapi ujian yang diberikan?” kembali batinnya berkata.
“Beranikah engkau anakku?”
Samsul Alam terdiam.
“Beranikan dirimu..? Dibalik semua kesulitan ada kenikmatan.. Begitu janji Allah Yang Maha Kuasa wahai anakku.”
“Baik guru aku akan mencobanya..”
“Cepat terjunlah ke dalam lubang kawah itu….!!”
Samsul alam beranjak dari duduknya. Lalu melangkah pinggiran batu. Menatap ke dalam lubang kawah yang begitu gelap dan mengeluarkan asap belerang yang begitu tebal. Hawa panas sangat begitu terasa.
“Loncatlah anakku, masuklah ke dalam lubang kawah itu. Jangan terbersit satu pun ragu di hatimu. Aku gurumu, akan selalu mendoakanmu dari atas sini.”
“Aku berjanji akan membawa pedang itu kembali ke atas sini guru…” ucapnya. Ia pun lalu meloncat. “Hup…..”
“Aaaaaaaaaaaaa……………….” Hanya terdengar suara jeritannya saja dari dalam lubang kawah.
“Muridku.., Kita baru saja bertemu. Baru saja hatiku merasa senang menyaksikan kegagahanmu. Tapi kau sudah kembali pergi, berjuang untuk mendapatkan nasibmu yang besar. Meski ajal menanti, aral rintangan harus kau hadapi. Muridku aku menunggumu disini, kuharap engkau keluar dari lubang celaka itu.” ucap Datuk Pidareh Hitam meneteskan air mata.
***
Di sebuah perkampungan, berdiri kokoh sebuah rumah gadang besar diatas pesawahan tandus yang telah lama dibiarkan tak terurus. Mungkin para penduduk yang menetap di perkampungan ini telah lama meninggalkan pekerjaannya untuk bertani. Pesawahan yang berundak-undak membentuk sebuah bukit itu berdiri diatas pemukiman penduduk yang berada di bawahnya. Namun tak beda jauh keadaannya dengan pesawahan, pemukiman penduduk itupun tampak begitu suram. Semak dan pohon-pohon besar dibiarkan tumbuh menjalar membuat pemukiman itu tampak begitu mencekam.
Rumah gadang yang berdiri kokoh diatas bukit pesawahan itu tampak begitu besar dan mewah. Duduk di dalamnya seorang lelaki gagah berumur hampir setengah abad. Wajahnya yang kokoh tampak seram oleh brewok tebal yang menutupi wajahnya. Ia mengenakan saluak pada kepalanya. Rambutnya yang ikal panjang sebahu. Namun bila diteliti lebih jauh di sekitar kelopak matanya tampak begitu pucat memutih. Dialah yang bernama Sudin alias Sepasang Karih Sakti. (saluak = peci khas minang yang terbuat dari lilitan kain)
Ia sedang menghisap tembakaunya dalam-dalam. Kedua kakinya ia luruskan ke atas meja. Ia menengadahkan wajahnya ke atas ketika mengepulkan asap dari rokok tembakaunya perlahan-lahan. Lalu mengusap-usap janggutnya yang tebal dengan telunjuk dan ibu jarinya. Tampak kegusaran pada wajah seramnya.
“Melati…………!!” teriak Sepasang Karih Sakti berusaha memecahkan kegusaran yang melingkupi isi kepalanya.
Keluar dari sebuah kamar seorang gadis cantik dengan rambut lurus tebal terurai halus. Ditelinga kanannya terselip sebuah bunga melati berwarna putih.
“Ada apa ayah? Kenapa engkau berteriak memanggil namaku?” ucap gadis itu lembut kepada Sepasang karih Sakti.
“Engkau sudah tumbuh dewasa wahai anakku. Wajahmu tampak begitu cantik. Tak salah aku menamakanmu Melati, engkau tumbuh seperti bunga. Cantik berseri.”
Mendengar ucapan ayahnya Melati hanya tersenyum, wajahnya bersemu merah.
“Sudah sepatutnya engkau memiliki pasangan hidup untukmu kelak anakku. Maukah kau mendengar apa yang aku utarakan.”
“Silahkan wahai ayahku.”
“Bagaimana kalau engkau ku nikahkan dengan anak Datuk Pajunjuang Langik seorang perwira tinggi kerajaan. Anaknya ini sudah menjadi seorang perwira muda pula. Jika tak ada aral melintang Datuk Pajunjuang Langik akan menjadi salah seorang perpatih di kerajaan. Maka nasibmu kelak akan bahagia seumur-umur anakku.”
Mendengar ucapan ayahnya Melati menjadi gusar. Hatinya menjadi begitu gamang. Cintanya telah ia jatuhkan untuk pemuda yang ia temui didalam hutan seorang. Pemuda gagah pendiam bernama Samsul Alam.
“Kenapa ayah? Kenapa engkau menjodohkan aku dengan orang yang sama sekali tak aku kenal sebelumnya?”
“Anakku.., berkorbanlah demi diriku. Dengan berbesankan seseorang yang menjabat kedudukan tinggi di kerajaan, tentunya aku sebagai kepala rampok seluruh tanah Andalas ini akan untung besar. Aku tidak akan lagi merampok. Tapi hanya tinggal menunggu bagian hasil rampokan dari seluruh kelompok-kelompok rampok di seluruh nagari.”
“Ayah.., betapa teganya engkau mengorbankan perasaanku untuk kekejian pikiranmu.” ucap Melati terisak-isak.
“Apa katamu…?” berang Sepasang Karih Sakti.
“Mau tak mau kau harus mau. Kau harus dengarkan apa kata ayahmu ini. Sebagai tanda terima kasih karena aku telah bersedia mengurusmu sampai sedewasa ini. Bisa saja kau kucampakkan bersama ibumu. Dan anak-anak yang lahir dari hubunganku dengan perempuan-perempuan jalang yang lain. Tapi aku mengurusmu, membesarkanmu. Inikah budi baikmu untuk aku? Mana balas jasamu kepadaku?”
Mendengar ucapan itu Melati bergegas bangkit. Dengan terisak-isak menangis ia berjalan masuk ke kamarnya. Perasaannya begitu gundah. Kesedihan menyelimuti pikirannya. Inikah nasib hidupnya?
Melati duduk di atas dipannya. Menatap ke arah balik jendela, dimana gunung Merapi berdiri tinggi. Membayangkan wajah sosok pemuda yang baru saja ia temui satu purnama yang lalu. Hatinya telah terpatri pada pemuda tersebut. Terkenang kembali olehnya wajah yang begitu tampan dan mempesona hatinya. Kembali ia menangis tersedu-sedu.
“Kapan engkau menjemputku Uda?”
***
Kita kembali melihat keadaan di dalam kawah panas gunung Merapi. Seorang pemuda berpakaian merah-merah sedang berdiri bersender pada dinding kawah. Beberapa jengkal dihadapannya adalah sebuah kawah panas menyengat berbau belerang. Pemuda itu menatap ke tengah-tengah kawah. Sebuah batu berwarna merah membara berada di tengah-tengah air belerang mendidih yang bergolak-golak. Asap tebal berbau belerang menyengat membumbung dimana-mana. Di atas batu merah itu tertancap sebuah gagang pedang hitam mengkilap, yang pada ujung gagangnya terukir kepala harimau dengan mulut terbuka lebar.
Samsul Alam mencoba menguatkan diri. Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya. Hawa panas begitu menyengatnya. Membakar seluruh tubuh dan organ-organ didalamnya. Nafasnya begitu berat, rasa sesak begitu menekan dada. Bibir, lidah dan kerongkongannya begitu kering. Samsul Alam hanya bisa berdzikir menyebut nama Sang Khalik berkali-kali.
Sudah satu purnama ia disini. Menanti kapan waktu yang tepat untuk mencabut pedang dewa api yang tertancap pada batu inti api di tengah-tengah kawah itu. Pernah ia mencoba bagaimana panasnya air belerang mendidih di hadapannya dengan cara mencelupkan sebatang ranting kering ke dalam air belerang tersebut. Ranting itu langsung hangus lenyap oleh panasnya air kawah.
Selama menanti ia selalu berpuasa dan sholat seadanya. Karena tempat ia berpijak hanya beberapa jengkal saja. Makanan untuk sahur dan berbukapun hanya lumut-lumut kering yang tumbuh liar disekeliling dinding gua kawah. Yang bisa membuat ia bertahan selama ini adalah dengan jalan mengalirkan seluruh tenaga dalam berhawa dingin ke bagian paru-paru dan saluran pencernaannya. Jalan nafasnya tak teratur, karena bau belerang yang sangat menyengat dan udara panas yang ya ia hirup sangat menyesakkan seluruh pernafasannya.
Samsul Alam terpejam. Pemuda gagah berpakaian merah-merah itu merintih dengan suara tergagau. “Allahu Akbar…”
Samsul Alam lalu duduk bersimpuh. Mengangkat kedua tangannya.
“Ya Allah.., hanya Engkau-lah tempat hamba memohon pertolongan. Hanya Engkau-lah sumber dari segala pertolongan. Hamba hanya bisa meminta, tiada daya dan upaya yang melebihi kuasa-Mu. Ya Allah hapuskanlah segala perasaan sombong dalam diri hamba. Hamba hanya makhluk kecil yang tak kuasa apa-apa. Tolonglah hamba akan kekuasaan-Mu yang tiada tara wahai Tuhan seluruh alam dan seisinya…”
Tak lama bumi terasa bergetar hebat. Samsul Alam mencoba bertahan dengan bersender pada dinding goa kawah. Air kawah yang bergolak-golak mendidih seakan bermuncratan kemana-mana. Tak ada tempat untuk berlindung dari muncratan air belerang panas itu. Samsul Alam hanya bisa menghindar kesana-kesini sambil terus bersender pada dinding gua. Ucap dzikir tak henti-henti keluar dari mulutnya.
Beberapa saat berlalu. Keadaan kembali menjadi tenang, Air kawah yang biasanya bergolak mendidih kini menjadi tenang. Batu inti api yang berada ditengah-tengah kawah kini berubah warna menjadi kelabu. Tak ambil waktu lama, Samsul Alam meloncat ke atas batu inti api.
Menggenggam gagang pedang yang berwarna hitam itu ternyata tak semudah apa yang ia kira. Ada hawa panas yang bisa membuat kulit telapak tangannya melepuh seketika. Ia mengalirkan seluruh tenaga dalamnya. Kilatan-kilatan listrik muncul pada kedua belah telapak tangannya sampai sebatas siku.
“Bismillahirromannirrohim….”
Dengan sekerah tenaga ia genggam hulu pedang itu. Dan mencoba menarik pedang yang tertancap pada batu. Sedikit demi sedikit pedang mulai tercabut. Tampak api berkobar-kobar keluar dari badan pedang yang tercabut itu. Samsul Alam hanya bisa beristighfar berulang kali sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam dan luarnya. Akhirnya seluruh bagian pedang tercabut. Tapi apa yang terjadi…
Pedang itu seperti tak bisa dikendalikannya. Tangan dan tubuhnya seperti diatur oleh pedang itu. Pedang yang seluruh bagian badannya diselimuti api yang berkobar membuatnya jatuh terjerembab ke dalam air kawah. Tak ayal berlama-lama dalam genangan air kawah adalah menunggu waktu kematian sendiri. Lalu membuatnya bangkit berdiri dan membuat gerakan-gerakan yang bisa mencelekai dirinya sendiri.
Samsul Alam mulai berpikir saat itu ia berada di tengah-tengah kawah. Tak lama lagi tentu kawah itu kembali menjadi panas. Ia akan direbus hidup-hidup jika saja ia tak segera keluar dari dalam kawah ini. Ia memusatkan tenaga dalamnya pada bagian pinggul kebawah sampai kaki. Mencoba meloncat ke tepi mencari pijakan.
“Huuupp..” ia meloncat.
Dilihat di bawahnya air kawah kembali bergolak. Samsul Alam menarik nafas lega, andai saja ia lambat meloncat.
Usahanya untuk menuju tepi dinding goa, dimana terdapat tempat untuk berpijak sepertinya gagal. Entah mengapa pedang bergerak berputar-putar menjadi sebuah kitiran. Seluruh badan bagian atasnya tampak terasa remuk sekali. Samsul Alam tak tahu apalagi yang musti ia lakukan sekarang.
Pedang itu membuatnya terbang berputar, mengitari seluruh dinding goa yang berbentuk kubah itu. Ujung pedang yang lancip seperti hendak menggores dinding goa. Samsul Alam dapat menerka bahwa pedang ini hendak menulis sesuatu pada dinding goa.
“Pedang adalah senjata… Angkara murka dan kebenaran hanya berbeda satu jengkal saja.. Pedang adalah perisai diri... Hanya Tuhanlah letak kebenaran sejati.. Pedang Dewa Api kini telah bersaksi menjadi milik sang penggenggam.. Jika sang penggenggam membawa pedang Dewa Api kepada jalan kebenaran maka pedang ini dengan setia membantunya.. Jika sang penggenggam membawa Pedang Dewa Api kepada jalan sesat maka pedang ini pulalah yang akan membunuhnya kelak..”
Samsul Alam meresapi dalam-dalam apa yang di tuliskan oleh pedang dewa api. Tak tersadar tubuhnya melayang menuju dinding gua di belakangnya. Tak mau punggungnya yang menjadi korban berbenturan dengan dinding gua. Ia mengerahkan tenaga dalamnya ke kaki lalu berpijak pada dinding gua itu, meloncat ke dinding gua yang lain. Ia meloncat dari sisi satu ke sisi lainnya, begitu seterusnya. Lalu keluar dari gua kawah yang begitu panas menyengat itu.
Datuk Pidareh Hitam menyambut sosok muridnya yang baru saja keluar dari dalam lubang kawah dengan perasaan terharu. Apalagi pemuda itu berhasil membawa serta pedang dewa api yang selama ini ia jaga keberadaannya. Tak disangka masa pengabdiannya telah usai sudah. Yang mengakhiri adalah muridnya sendiri. Begitu lama ia menanti dan menerka siapa orang yang beruntung kelak berjuluk pendekar sejati. Ternyata muridnya sendirilah yang berdiri dihadapannya kini.
“Samsul… Kau berhasil nak..!” seru Datuk Pidareh Hitam.
Samsul Alam hanya tersenyum mengangguk. Lalu diacungkannya pedang bergagang hitam dengan ukiran kepala harimau di ujung gagangnya. Seluruh bagian badan pedang terbungkus oleh kobaran api berwarna biru kehijauan.
“Pedang sakti itu harus kau jaga seumur hidupmu. Sekarang tunjukkan padaku beberapa jurus pedang yang pernah kuajarkan padamu dulu. Aku ingin lihat kehebatanmu bermain pedang sakti itu.”
Samsul Alam mengangguk. Lalu memasang kuda-kuda. Pedang yang ia pegang dengan tangan kanan itu ia silangkan didepan dada. tangan kiri ia julurkan ke depan membentuk sebuah perisai. Pada tangan kirinya keluar aliran listrik kilat sebatas siku.
“Bagus-bagus.., kau ingat kuda-kuda ilmu pedang penghancur bumi.. Sekarang tunjukkan jurus-jurusnya padaku muridku.. Jurus pertama pedang sakti membongkar gunung..! Ayo tunjukkan padaku lekas….!”
Samsul Alam memasang kuda-kuda tinggi. Pedang diluruskannya di depan badan. Ia membuat langkah-langkah kaki seperti orang yang menari. Jurus ini sepertinya menggunakan tusukan-tusukan pedang sebagai gerakannya. Terlihat dari gerakannya mungkin seperti gerakan yang lemah. Dan mudah ditangkis. Tapi sebenarnya setiap tusukan pedang mengarah ke jantung dan bertenaga tinggi.
“Tusuklah tiga buah batu ini Samsul.” Datuk Pidareh Hitam melemparkan tiga buah batu sebesar tiga kepal tangan manusia ke arah Samsul Alam.
Satu persatu batu itu tekena tusuk pedang. Yang aneh setiap tusukan tidak memecahkan batu-batu cadas itu, tapi tepat menusuk dan batu-batu itu masuk ke dalam badan pedang, seperti daging yang tertusuk oleh sebatang bilah bambu ketika menyate. Namun pedang itu tak tampak semakin berat. Inilah kehebatan jurus pedang sakti membongkar gunung, meski tampak begitu lemah, tapi genggaman pada gagang pedang akan begitu kokoh, karena tenaga dalam akan terpusatkan pada pergelangan tangan yang menggunakan jurus itu. Begitu ketiga buah batu ini berada dibadan pedang untuk beberapa saat, batu-batu itu hancur berkeping-keping.
“Sekarang kau pergunakan jurus kedua, Pedang Membelah langit..!” seru Datuk Pidareh Hitam.
Samsul Alam memasang kuda-kuda rendah. Lalu mencuat loncat ke atas setinggi satu tombak. Pedang dewa api ia julurkan tinggi-tinggi ke atas. Pedang di tangan Samsul Alam tampak seperti lebih panjang. Lalu dengan gerakan menari-nari ia menyabet-nyabet ruang kosong. Tampak seperti membelah langit. Tapi apa yang terjadi, tanah dibawahnya tampak guratan-guratan bekas sabetan pedang. Padahal sama sekali pedang itu tak menyentuh tanah sama sekali.
“Sekarang belah tiga buah batu-batu ini wahai anakku…!” Kembali Datuk Pidareh Hitam melempar tiga buah batu sebesar tiga genggam kepalan tangan manusia ke arah Samsul Alam.
Yang hebat, belum lagi batu-batu itu terkena sabetan pedang. Batu-batu itu sudah terbelah rapih dengan sendirinya. Kurang puas, Samsul Alam kembali menyabetkan pedangnya ke belahan-belahan batu sebelum sempat jatuh ke tanah. Batu-batu yang kini berjumlah enam, harus hancur terkena kesaktian pedang dewa api.
“Bagus-bagus.. Kau masih ingat jurus kedua dan pertama dari ilmu pedang penghancur bumi. Apakah kau ingat tiga jurus berikutnya. Sekarang tunjukkan padaku. Jurus ketiga Pedang Sakti Membelah Lautan…!”
Samsul Alam membuat gerakan-gerakan yang tak jelas langkah dan pergerakannya. Inilah jurus pedang sakti membelah lautan. Sabetan-sabetan pedang dibuat tak menentu begitu pula langkah kaki dan serong badan. Sehingga membingungkan musuh ketika menghadapi jurus ini. Namun jurus ini tampak hanya seperti jurus pedang yang tak bertenaga atau pembelaan diri dikala berhadapan dengan banyak musuh. Tapi diakhir jurus..
“Segera akhiri jurusmu pada pohon pinus besar disana!” Datuk Pidareh Hitam menunjuk pada sebuah pohon pinus.
Samsul Alam menghadap pohon pinus. Mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Lalu menyabetkannya ke tanah. Api yang keluar dari pedang dewa api menjalar di tanah, lalu melahap dan membelah pohon pinus itu dari bawah ke atas.
“Braaak….” pohon pinus besar itu tumbang terbelah dua bagian kiri dan kanan. Inilah kehebatan jurus pedang sakti membelah lautan.
“Sekarang jurus keempat Pedang Sakti Memporak-porandakan Awan…!”
Samsul Alam berdiri dengan kuda-kuda tinggi. Pedang dewa api diputar-putarnya di depan dada dan samping tubuh. Api yang berkobar di badan pedang tampak seperti perisai bulat yang melindungi tubuh Samsul Alam. Sekilas jurus ini hanya sebagai perisai pelindung diri saja. Tapi…
“Kau hancurkan batu ini…..!” seru datuk Pidareh Hitam pada Samsul Alam, sembari melemparkan batu sebesar tiga genggaman tangan manusia ke atas.
Tiba-tiba dengan gerakan yang sangat cepat dari perisai kitiran pedang keluar serangkum sinar api berpijar menyerang batu yang dilempar. Tak ayal batu itu hancur berkeping-keping.
“Sekali lagi .. Ini …. Dan ini… Hancurkan..!!” Datuk Pidareh Hitam melempar dua batu lagi ke atas. Satu dikiri satu dikanan, jarak antara kedua batu cukup berjauhan.
Namun sinar api berpijar yang keluar dari perisai kitiran pedang dewa api tak juga meleset. Secara bergantian dengan waktu yang hampir bersamaan kedua batu itu hancur berkeping-keping.
“Bagus-bagus.. Untuk jurus kelima, apa kau masih ingat namanya muridku?”
“jurus Empat Pedang Sakti Mengamuk guru..”
“Bagus kalau masih ingat muridku. Untuk jurus ini kau jadikan batu besar tempat aku bersemedi menjadi sasaranmu. Ingat batu besar itu harus hancur berkeping-keping menjadi sebesar genggaman-genggaman tangan. Jika gagal, berarti kau kuanggap belum pantas untuk membawa pedang itu muridku.”
“Aku hanya murid yang bodoh guru. Izinkan aku mencobanya!”
“Iya iya silahkan… ha ha ha” Datuk Pidareh Hitam tertawa penuh semangat.
Lama Samsul Alam berdiri mematung. Namun tak beberapa lama ia melangkah ke depan. Lalu meloncat menuju ke hadapan batu besar. Pedang dewa api ia luruskan ke arah batu, dengan gerakan menusuk pedang itu tertancap pada batu. Setelah tertancap setengah badan pedang, Samsul Alam membuat gerakan berputar, sehingga mata pedang di dalam batu ikut berputar. Ia tarik keluar pedangnya dari dalam batu. Lalu Samsul Alam meloncat setinggi tiga tombak dan menyabet-nyabet batu tersebut.
Ketika turun seluruh badan pedang itu ia sabetkan pada batu. Batu besar itu terbelah. Samsul Alam lalu masuk ke dalam belahan batu. Dan entah bagaimana dari dalam batu tampak pijaran sinar api mencuat kesana kesini. Batu besar itupun terbelah menjadi beberapa bagian.
Dari belahan-belahan batu itu. Samsul Alam membuat gerakan seperti orang yang sedang dilanda amarah. Semua batu-batu itu ia tikam, sabet dan tusuk. Hingga semua batu-batu itu hanya menjadi tumpukan batu sebesar kepalan tangan saja.
Yang aneh dari balik tumpukan batu itu tampak mencuat sebuah sarung pedang berwarna putih. terbuat dari kulit binatang tebal.
“Ambillah sarung pedang itu. Masukkan pedang dewa api milikmu ke dalamnya. Letakkan sarung pedang itu terserah dimana engkau suka, di punggung atau pinggangmu. Selama pedang itu berada di sarungnya, tak ada satu kekuatanpun yang dapat mencabutnya selain si punya pedang.” ucap Datuk Pidareh Hitam.
Segera Samsul Alam mengambil sarung pedang itu. Memasukkan pedangnya kedalam sarung berwarna putih itu. Lalu mengikatnya dipunggungnya.
“Samsul.., tugasku disini sudah selesai. Selamanya kita tak akan bersua lagi. Mengembaralah engkau, tegakkan jalan kebenaran, hapuslah kejahatan dan angkara murka di bumi ini.”
Samsul Alam mengangguk pada gurunya.
“Tujuh belas tahun lalu engkau kubawa kesini sebagai yatim piatu. Tak berayah dan tak beribu. Apakah kau ingin tahu siapa ayah dan ibumu?”
Samsul Alam memandang gurunya dengan tatapan berbinar. Pertanyaan yang selalu hadir dalam jalan pikirannya selama ini akhirnya akan terjawab juga. Tak sabar rasanya ia ingin mengetahui siapa ayah dan ibunya.
“Ayahmu adalah seorang pendekar gagah dan pemimpin yang bijaksana. Sedang ibumu adalah wanita cantik yang penurut akan suaminya. Ayahmu bernama Midun dikenal dengan julukan Datuk Mudo Rajo Alam sedang ibumu bernama Halimah. Kedua-duanya..” sampai disini Datuk Pidareh Hitam berhenti karena terisak menangis.
“Kenapa guru..?”
“Datuk Mudo Rajo Alam adalah muridku juga. Aku datang terlambat disaat-saat kematiannya. Seandainya saja aku tidak telat, mungkin kau masih bisa bersua dengan ayahmu sekarang ini anakku.”
“Apa yang terjadi dengan ayahku guru?”
“Ayah dan ibumu terbunuh oleh orang yang bergelar Sepasang Karih Sakti.”
Samsul Alam berusaha menahan tangis. Ia mengepalkan tangannya lalu memukul batang pinus besar di sebelahnya. Kulit pohon pinus itupun rengkah.
“Selama tujuh tahun kepergianmu aku mencari tahu akan keberadaan orang benama Sudin alias Sepasang Karih Sakti. Ia menjadi kepala negeri di perkampungan tempat ayahmu memimpin dulu wahai anakku. Cuma ia menjadikan perkampungan itu sebagai perkampungan penjahat dan perampok.”
“Dimana letak perkampungan itu guru?”
“Sewaktu engkau berjalan kesini pasti engkau melewati perkampungan itu. Disebelah barat tepat di kaki gunung ini wahai anakku. Itulah perkampungannya.”
Samsul Alam teringat sesuatu. Gadis cantik berambut lurus terurai yang telah membuatnya jatuh hati. “Melati..” serunya dalam hati.
“Ingat pesanku wahai anakku. Jika kau ingin membalaskan dendam kedua orang tuamu, itu terserah padamu. Tapi manusia yang paling besar adalah manusia yang bisa memberi maaf atas kesalahan orang lain, dan mengampuni semua kesalahannya.”
“Dengar ucapku muridku..?”
“Aku dengar guru…” Samsul Alam kembali mengangguk. Tak sadar air matanya tergenang.
Datuk Pidareh Hitam memukul dada Samsul Alam, tepat di tiga gores tanda bekas luka cakaran harimau. Samsul Alam terpental. Darah hitam kental keluar dari mulutnya. Namun Samsul Alam mengerti gurunya baru saja memberikan sebagian tenaga dalam dan tanda perpisahan kepadanya. Karena pukulan itu, rajah tiga gores bekas luka cakaran harimau didadanya, tampak mengkilap merah terang.
“Sekarang saatnya aku berkumpul dengan saudara-saudara seperguruanku keenam Datuk Harimau. Jaga dirimu baik-baik wahai anakku.” Datuk Pidareh Hitam membalikkan badannya. Lalu berlari, pada langkah ketiga larinya. Sang guru berubah menjadi sosok harimau besar berwarna hitam sekujur tubuhnya. Yang terdengar kini hanya suara derap kaki dan gerengannya.
Samsul Alam bersimpuh ke arah kepergian gurunya. “Terima kasih guru….”
Diposkan oleh Poetih Dekil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar