AKHASIE *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* AKHASIE

Sabtu, 01 Agustus 2015

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Download Turbo Pascal 1.5

Minggu 02-08-2015 jonny sinting

Download Turbo Pascal 1.5 for Windows 32bit


Turbo Pascal for Windows atau TPW adalah suatu program untuk sistem operasi windows yang digunakan untuk untuk membuat / mengeksekusi aplikasi berbasis pemograman Turbo Pascal. Aplikasi ini sangat berguna sekali bagi kalangan pemula yang ingin belajar bahasa pemograman Turbo Pascal. Turbo Pascal sendiri merupakan sebuah bahasa pemograman yang termasuk salah satu bahasa pemograman tingkat tinggi, selain C++, Java, dll.

Langsung saja download TPW 1.5 melalui link berikut:

TURBO PASCAL

Semoga Bermanfaat..!!


Minggu, 26 Juli 2015

Minggu, 19 Juli 2015

KH. Zainuddin MZ - Download MP3

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ


KH Zainuddin Muhammad Zein (MZ) atau biasa dikenal sebagai KH Zainuddin MZ (lahir di Jakarta, 2 Maret 1951; umur 59 tahun) adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang populer melalui ceramah-ceramahnya di televisi. Julukannya adalah "Da'i Sejuta Umat" karena da'wahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Zainuddin yang pernah aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemudian dikabarkan kembali ke Partai berlambang Ka'bah itu atas tawaran Surya Dharma Ali, Ketua Umum PPP. K.H. Zainuddin M.Z. menempuh pendidikan tinggi di IAIN Sarif Hidayatullah dan berhasil mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Zainuddin merupakan anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato.

Udin -nama panggilan keluarganya- suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. ‘Kenakalan’ berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta.

Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya.

Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.

Bagi yang ingin mendengarkan ceramah dakwah dari KH. Zainuddin MZ. silahkan sedot filenya melalui link di bawah ini:

Download MP3 - Ceramah Dakwah KH. Zainuddin Mz (Compressed Zip - Shared Jiban Kontemporer)

  1. Unduh Zainuddin MZ_5 Perkara Yang Harus Dikerjakan Dengan Segera.zip
  2. Unduh Zainuddin MZ_Al Qur'an Imam Kita.zip
  3. Unduh Zainuddin MZ_Arak dan Judi Racun Kehidupan.zip
  4. Unduh Zainuddin MZ_Bahaya Free Sex.zip
  5. Unduh Zainuddin MZ_Bila Ajal Tiba.zip
  6. Unduh Zainuddin MZ_Cara Mendidik Anak.zip
  7. Unduh Zainuddin MZ_Dasar & Tujuan Hidup Muslim.zip
  8. Unduh Zainuddin MZ_Dusta.zip
  9. Unduh Zainuddin MZ_Hak dan Bathil.zip
  10. Unduh Zainuddin MZ_Hawa Nafsu.zip
  11. Unduh Zainuddin MZ_Iblis (10 Golongan Syetan) dan Balatentaranya.zip
  12. Unduh Zainuddin MZ_Membangun Rumah Tangga.zip
  13. Unduh Zainuddin MZ_Musuh-musuh Syetan.zip
  14. Unduh Zainuddin MZ_Nabi Adam.zip
  15. Unduh Zainuddin MZ_Nabi Ibrahim.zip
  16. Unduh Zainuddin MZ_Nabi Sulaiman & Ratu Balqis.zip
  17. Unduh Zainuddin MZ_Nabi Yusuf & Siti Zulaikha.zip
  18. Unduh Zainuddin MZ_Neraka dan Calon Penghuninya.zip
  19. Unduh Zainuddin MZ_Pahala dan Dosa.zip
  20. Unduh Zainuddin MZ_Para Kekasih Allah.zip
  21. Unduh Zainuddin MZ_Penyakit Rohani.zip
  22. Unduh Zainuddin MZ_Penyakit Wahan.zip
  23. Unduh Zainuddin MZ_Sikap Kita Terhadap Al Qur'an.zip
  24. Unduh Zainuddin MZ_Syurga dan Calon Penghuninya.zip
  25. Unduh Zainuddin MZ_Taubat.zip
  26. Unduh Zainuddin MZ_Ulama Pewaris Nabi.zip
  27. Unduh Zainuddin MZ_Umar al-Akhtab.zip
  28. KH Zainuddin MZ - 10 musuh setan 1.mp3 - 28.0 MB
  29. KH Zainuddin MZ - 10 musuh setan 2.mp3 - 28.2 MB
  30. KH Zainuddin MZ - Al-Quran Imam Kita.mp3 - 3.6 MB
  31. KH Zainuddin MZ - Arak & Judi Racun Kehidupan.mp3 - 3.6 MB
  32. KH Zainuddin MZ - Bahaya Free Sex A.mp3 - 8.7 MB
  33. KH Zainuddin MZ - Bahaya Free Sex B.mp3 - 9.0 MB
  34. KH Zainuddin MZ - Berbakti Kepada Ibu & Bapa.mp3 - 3.4 MB
  35. KH Zainuddin MZ - Bila Ajal Tiba.mp3 - 3.7 MB
  36. KH Zainuddin MZ - Bila Doa Tak Terjawab A.mp3 - 8.5 MB
  37. KH Zainuddin MZ - Bila Doa Tak Terjawab B.mp3 - 8.6 MB
  38. KH Zainuddin MZ - Cara Mendidik Anak.mp3 - 3.6 MB
  39. KH Zainuddin MZ - Cobaan Hidup.mp3 - 3.6 MB
  40. KH Zainuddin MZ - Dasar Dan Tujuan Hidup Muslim.mp3 - 13.4 MB
  41. KH Zainuddin MZ - Dusta.mp3 - 3.5 MB
  42. KH Zainuddin MZ - Golongan Penghuni Surga.mp3 - 13.5 MB
  43. KH Zainuddin MZ - Golongan Yang Mendapat Perlindungan Dari Allah.mp3 - 3.6 MB
  44. KH Zainuddin MZ - Harta Dunia.mp3 - 3.4 MB
  45. KH Zainuddin MZ - Harta Takhta Dan Wanita.mp3 - 3.6 MB
  46. KH Zainuddin MZ - Idul Fitri Dan Hari Kemenangan.mp3 - 39.8 MB
  47. Kh Zainuddin MZ - 10 golongan teman setan.mp3 - 14.3 MB
  48. KH Zainuddin MZ - Islam Dalam Semangat Kebersamaan - 30.8 MB
  49. KH Zainuddin MZ - Jaman Susah - 45.7 MB
  50. KH Zainuddin MZ - Laskar Ababil - 18.5 MB
  51. KH Zainuddin MZ - Mari Berhaji - 3.3 MB
  52. KH Zainuddin MZ - Memelihara Amal - 54.1 MB
  53. KH Zainuddin MZ - Mencari Jodoh - 8.9 MB
  54. KH Zainuddin MZ - Nabi Adam - 13.3 MB
  55. KH Zainuddin MZ - Nabi Ibrahim - 3.3 MB
  56. KH Zainuddin MZ - Nabi Sulaiman dan Ratu Bilkis - 13.6 MB
  57. KH Zainuddin MZ - Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha - 12.1 MB
  58. KH Zainuddin MZ - Neraka Dan Calon Penghuninya - 3.6 MB
  59. KH Zainuddin MZ - Pahala dan dosa 1-2 - 8.4 MB
  60. KH Zainuddin MZ - Pahala dan dosa 2-2 - 7.8 MB
  61. KH Zainuddin MZ - Para Kekasih Allah - 6.3 MB
  62. KH Zainuddin MZ - Penyakit Rohani 1of 2 - 7.9 MB
  63. KH Zainuddin MZ - Penyakit Rohani 2 of 2 - 7.7 MB
  64. KH Zainuddin MZ - Reformasi (Baginda Nabi Besar Muhammad SAW) - 49.0 MB
  65. KH Zainuddin MZ - Rumah Tangga - 3.4 MB
  66. KH Zainuddin MZ - Sikap Kita Terhadap Al-Quran 1of2 - 3.1 MB
  67. KH Zainuddin MZ - Sikap Kita Terhadap Al-Quran 2of2 - 3.2 MB
  68. KH Zainuddin MZ - Syurga Dan Calon Penghuninya - 3.6 MB
  69. KH Zainuddin MZ - Taubat - 10.3 MB
  70. KH Zainuddin MZ - Ulama Dan Umaro - 3.9 MB
  71. KH Zainuddin MZ - Ulama Pewaris Nabi - 13.1 MB
  72. KH Zainuddin MZ - Ummar Bin Khattab - 13.6 MB  

Terima kasih atas kunjungannya, mudah-mudahan barokah !!!



Copyright © Nasrul Alimuddin Hanif Powered by Jiban Kontemporer

Rabu, 18 Maret 2015

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa Api 1

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

SEPASANG KARIH SAKTI   bagian  1

Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api

 Hujan rintik-rintik tengah membasahi bumi. Seluruh permukaan angkasa berwarna gelap gulita, meski hari masih beranjak senja. Suara guntur menggelegar dan begitu mencekam. Angin menderu menggegubu begitu kencangnya hingga pepohonan bergoyang dan dedaunan berterbangan. Begitu keadaan kampung Panyalaian yang berada tepat dibawah gunung Merapi Tanah Datar pulau Andalas. Keadaan kampung begitu hening, karena derasnya hujan yang mengguyur kampung tersebut.
Suatu saat terdengar suara petir menggelegar tiga kali. Pada dentumannya yang ketiga, yaitu yang paling kencang, seolah-olah bumi bergetar. Guncangan itu semakin membuat takut para penduduk yang ada di kampung tersebut. Maklum kampung mereka berada tepat dibawah gunung merapi yang kapan saja bisa meledak, memuntahkan isinya. Bersamaan datangnya suara petir itu sayup-sayup terdengar suara rengekan bayi dari sebuah rumah gadang yang berada di atas pedataran sawah yang berundak-undak.

“Alhamdulillah…. Ya Allah puji syukur ambo… Anak ambo telah lahir ke dunia ya Allah…” begitu senangnya Datuk Mudo Rajo Alam. Segera dia beranjak dari duduknya menuju kamar tempat persalinan istrinya. (Ambo=saya)
Ia ketuk pintu kamar yang dijadikan kamar persalinan itu. “Bagaimana Amak..? Anak ambo laki-laki apo padusi..? Dan sehatkah keadaannya..?” Bertanya lelaki setengah baya dengan perawakan tubuh tinggi tegap dan wajah tampan klimis dengan janggut tipis, tanpa kumis sama sekali. (padusi = perempuan)
Dari dalam kamar, “Alhamdulillah Datuk, ini anak bayi lelaki yang paling sehat dan kuat yang amak jumpai.” Berucap perempuan dari dalam kamar.
Datuk Mudo Rajo Alam langsung tersenyum sumringah, terlihat tetesan air mata bahagia turun dari kelopak matanya. Langsung dia bersujud syukur kepada sang Kuasa.
“Ini Datuk.., jika Datuk Muda mau melihat anak pertama Datuk!” ucap seorang perempuan tua dari depan pintu kamar tadi.
Dengan bahagia lelaki berpakaian destar merah dan celana merah ini menggendong bayi laki-laki yang masih merah dan diselimuti kain. Lelaki berperawakan gagah ini menimang anaknya sebentar. Kemudian ia kecup kening anaknya lalu mengucapkan kalimat syahadat, “ASYHADU ALLA ILA HA ILALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARASULULLAH.” Kemudian ia mengazankan anaknya tersebut. Wajahnya tampak haru, tampak air mata kembali menetes dari kelopak matanya. Ketika Datuk Mudo Rajo Alam mengazankan anaknya ini kembali terjadi keanehan, sekejap saja hujan yang mengguyur deras berhenti, cuaca pun menjadi cerah kembali.
***
Sementara itu di dalam hutan, tampak berbaris dua puluh orang lelaki berpakaian hitam-hitam duduk di atas kuda mereka. Seorang lelaki manghadap ke Sembilan belas orang lainnya. Dari antara mereka lelaki ini tampak paling sangar. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam pula, hanya bedanya di bahunya menyelempang sarung berwarna merah. Ia mengenakan saluak yang juga berwarna merah. Di pinggang kanan-kirinya terselip sepasang karih. Pada wajahnya yang begitu kokoh tampak segaris bekas luka membujur pada keningnya. Rambutnya panjang menjula ke bahu. Ia berkumis dan berjanggut tipis. Ia-lah yang dinamakan sepasang karihsakti. (saluak =lilitan kain peci khas minang ; kariah = keris Minang)
“Kita akan turun gunung. Kita harus membalas dendam kita kepada para penduduk kampung itu. Sekalian aden harus membayar luka ini.” Menunjuk ia ke arah keningnya, “Datuk Mudo Rajo Alam harus membayarnya dengan bayaran yang setimpal. Ia harus mati di tangan aden sendiri. Sekalian istrinya yang cantik akan aden bawa untuk aden jadikan sebagai selir. Ha… ha… ha…” (Aden = aku; dalam bahasa kasar)
“Baik sekiranya angku mau membalas dendam. Tapi pertimbangkan baik-baik di kampung itu banyak sekali orang-orang yang ilmunya setanding dengan kita. Dulu.., dua tahun yang lalu kita sempat kocar-kacir dibuat mereka. Lalu Datuk Mudo Rajo Alam sendiri adalah seorang berilmu tinggi. Apakah ini sudah angku pikirkan matang-matang?” ucap salah seorang dari mereka, dialah yang tampak paling tua pada rombongan itu. (Angku = tuanku)
“Wa’ang takut mamak….? Ha… ha… ha…. Kalau takut tak usahlah mamak ikut dengan kami. Lebih baik mamak bergegas pergi meninggalkan rombongan ini. Ini lebih baik bagi mamak. Seandainya mamak bukan adik dari amak den, aden akan menebas leher mamak sekarang juga. Tidak ada alasan untuk takut atau ragu bagi pasukan rampok Hantu Hitam, mamak.” (Wa’ang = kamu; dalam bahasa kasar, Mamak = paman)
Mendengar ucapan sepasang karih sakti, sang paman hanya terdiam. Baginya biarlah ia menanggung derita ini. Keponakannya ini memang berlaku kurang ajar padanya. Betapa tidak, mana ada seorang paman harus patuh terhadap keponakannya. Mana ada seorang paman memanggil keponakannya dengan sebutan angku, mungkin hanya dia seoranglah di tanah Minang ini yang begitu. Nasibnya memang begitu buruk. Seandainya saja ia tak pernah berucap janji kepada almarhum kakak perempuannya, untuk menjaga anak tersebut sampai ajalnya menjemput.
Rombongan itu lalu bergegas pergi meninggalkan hutan di perbukitan tersebut. Derap langkah kaki kuda mereka berjalan perlahan, berbaris. Mereka seakan lebih tampak seperti rombongan prajurit. Bukan rombongan perampok.
***
Dilain tempat, disisi barat puncak gunung Merapi. Kabut tebal menyelimuti puncak gunung itu. Udara begitu dingin. Tepat disamping lubang kawah, duduk bersila seorang kakek tua diatas batu besar yang banyak ditumbuhi lumut. Meski dari raut wajahnya yang sudah sangat tua namun tubuh kakek tua ini begitu tegap dan kokoh. Rambutnya yang berwarna kelabu panjang sampai ke pinggang, berderai-derai dihembus tiupan angin, begitu juga dengan kumis dan janggutnya yang panjang. Ia mengenakan jubah dan celana berwarna hitam. Yang aneh dari kakek ini adalah bibir dan kedua tangannya yang berwarna hitam. Pada tangan kanannya ia sedang memegang tasbih panjang yang juga berwarna hitam.
Di dalam semedinya kakek tua itu terpekur beberapa lama. Di dalam benaknya selalu muncul wajah muridnya satu-satunya, Datuk Mudo Rajo Alam. Ia tak mau terusik. Ia kembali mengheningkan segala cipta dan rasanya. Namun bayangan itu kembali hadir. Sadar tapanya telah terganggu ia membuka matanya.
Kakek tua ini terperangah kaget, ketika ia melihat kabut bergulung-gulung di hadapannya. Ia mencium wangi kemenyan di tempat itu. Segera ia tersenyum, lalu turun dari batu besar tempat ia bersemedi. Lalu berdiri tegak dihadapan kabut yang bergulung-gulung tersebut. Tak lama dari balik kabut muncul sepasang harimau besar yang satu berwarna keemasan dan yang satu lagi berwarna putih. Dari mata harimau yang keemasan keluar sinar biru menyala-nyala, sedang dari mata harimau putih keluar sinar berwarna hijau menyala terang.
“Ah.., kiranya ambo mendapat kehormatan untuk didatangi oleh inyiakberdua.” Ia tersenyum pada kedua ekor harimau tersebut, lalu merapatkan kedua telapak tangannya, tanda hormat, “Sekiranya ada apa geranganinyiak berdua repot-repot berkunjung ke tempat ambo?” (inyiak = sebutan untuk kakek)
Lalu harimau besar berwarna kuning keemasan itu berubah menjadi sesosok manusia berwujud orang tua berambut putih. Ia memegang tongkat putih terbuat dari kayu di tangan kirinya. Sedang di pinggangnya terselip sebuahsaluang yang terbuat dari emas. berselempang kain putih dan tinggi melebihi manusia lainnya. Sepasang matanya berwarna kebiruan.
“Berdirilah cucuku Datuk Pidareh Hitam! Kedatangan aku dan harimau putih ini ingin memberi kabar padamu. Bahwa tepat pada malam ini, nyawa muridmu terancam.” (saluang= suling besar dari bambu, pidareh = pukulan beracun)
Datuk Pidareh Hitam langsung terperonjak kaget ketika mendengar ucapan kedua makhluk jejadian didepannya. Baru saja mulutnya mau berbicara.
“Jangan kau merasa bimbang dengan ucapan aku Datuk. Segeralah turun gunung. Satu pesanku. Kemungkinan besar firasat ku anak muridmu itu sudah tak bisa diselamatkan lagi. Dan engkau ku rasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena perjanjianmu kepada Sang Kuasa untuk tidak membunuh.”
“Satu yang kumohon padamu, engkau selamatkanlah anak lelaki dari muridmu. Dia memiliki pertanda baik untuk menjadi seorang besar. Tanpa harus diajarkan apa-apa, dari kedua tangannya, jika ia menghendaki akan muncul segelombang dahsyat kilat. Dia memiliki kesaktian laduni. Tapi kumohon sekiranya…” (laduni = ilmu yang bukan berasal dari dunia)
“Sekiranya.., apa inyiak?” Datuk Pidareh Hitam heran.
“Sekiranya engkau mau untuk mengajari seluruh kesaktianmu. Sampai anak itu berumur sepuluh tahun. Dan setiap tiga purnama sekali kau harus menyalurkan tenaga dalammu kepada anak itu. Dan jangan lupa alirkan juga segala macam racun yang ada pada tubuhmu. Sedari kau bawa anak lelaki itu ke puncak gunung ini.”
Gila.., anak bayi harus ku aliri tenaga dalamku dan seluruh racun yang ada dalam tubuhku. Apakah ini bukan pembunuhan namanya? Begitu pikir Datuk Pidareh Hitam.
“Baik Inyiak. Tapi kenapa hanya sampai umur sepuluh tahun saja?” lelaki tua berambut kelabu itu kembali merasa heran.
“Setelah ia berumur sepuluh tahun. Aku akan mengangkatnya sebagai muridku.” ucap orang tua itu.
Orang tua itu lalu duduk di atas harimau putih besar yang ikut serta bersamanya. “Ayo Datuk kita tinggalkan tempat ini!” ucapnya kepada harimau putih itu. Harimau putih itu menurutinya, mengaum satu kali, tanda perintah dari orang tua itu telah dimengerti. Lalu harimau putih itu membalikkan badannya. Namun baru satu langkah ia menjejaki kakinya, kabut tebal telah menyelimuti. Kedua sosok itu hilang begitu saja.
Datuk Pidareh Hitam, terperangah sesaat. Benarkah muridku akan kehilangan nyawanya malam ini. Langsung saja dia meloncat dan berlari menuruni gunung menuju ke arah timur.
Diposkan oleh Poetih Dekil

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa Api 2

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

SEPASANG KARIH SAKTI  bagian   2

Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api

Malam telah tiba. Namun keadaan seluruh isi kampung begitu mencekam. Api berkobar dibagian utara dan selatan perkampungan. Hingga langit yang seharusnya hitam kelam kini ikut berwarna merah. Asap membumbung dimana-mana. Udara panas sungguh terasa menyengat. Seluruh penduduk berlari kesana-kemari, mencari selamat dan ketakutan. Beberapa orang sibuk memadamkan api dengan cara mengguyur air, namun semua seperti sia-sia saja. Api merembet kemana-mana, sebagian kampung kini sudah terlalap oleh ganasnya panas api yang yang menggila.
Dari dalam rumah gadangnya Datuk Mudo Rajo Alam yang sedang menimang-nimang anaknya di hadapan istrinya langsung terperanjak kaget, ketika mendengar teriakan-teriakan para penduduk meminta tolong.

“Ada apa lagi ini Halimah?” ucapnya kepada istrinya.
“Entahlah uda, kenapa hati Halimah jadi tidak enak begini.” (uda = sebutan untuk abang)
Tak lama kemudian terdengar suara pintu di hadapan rumahnya diketuk-ketuk orang. “Datuk Mudo…, Datuk Mudo…, bukakan pintu Datuk Mudo!”
Segera lelaki gagah ini bergegas menuju pintu dan membukakannya. Dia memperhatikan ada sepuluh orang di hadapannya. Mereka adalah para pemuka adat.
“Ada apa ini Malin?” tanya Datuk Mudo kepada orang dihadapannya yang mengetuk pintu.
“Seluruh kampung porak poranda Datuk. Ada firasat ambo yang tidak enak Datuk.” ucap Malin.
Karena rumah gadangnya berada di atas perkampungan yang letaknya di sekelilingi persawahan, Datuk Mudo Rajo Alam dapat menyaksikan keadaan seluruh kampung. Asap dimana-mana. Kobaran api membakar disana-sini.
“Tunggu sebentar.” Datuk masuk kembali ke dalam rumahnya.
Ia mengambil sebilah pedang dan karih terlebih dahulu. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres tengah terjadi di kampung tempat ia memimpin. Ia lalu melirik kepada Halimah, istrinya yang baru saja melahirkan anaknya tersayang.
“Halimah.., tetaplah kau disini. Jika memang ada apa-apa di rumah ini segeralah kau pergi membawa anak kita dari pintu belakang. Segera akan kuperintahkan Mamak Bujang kesini untuk menjagamu dan anak kita.”
Halimah lalu terisak, perasaannya tak enak saat ini. Ia mengatakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya. Oh.., kenapa ini terjadi ketika anakku baru saja lahir ke dunia.
“Janganlah kau menangis begitu Halimah. Doakan saja suamimu ini akan segera kembali ke rumah.” Datuk Mudo Rajo Alam mengelus rambut istrinya. Tak lama segera ia bergegas menuju keluar. Dimana menunggu Malin dan ke sembilan para pemuka adat lainnya.
“Mamak Bujang.., aku minta bantuanmu. Bisa kau jaga rumahku mamak. Halimah baru saja melahirkan siang tadi, tak enak rasanya ambo meninggalkannya.” ucap Datuk Mudo kepada salah seorang pemuka adat yang paling tua. Di antara kedua orang ini memang ada pertalian darah. Sekaligus ia mempercayai orang ini, karena orang ini memang memiliki ilmu silat yang cukup. Mamak Bujang mengangguk dan menepuk bahu Datuk Mudo tiga kali lalu menggoyangkan punggung tangannya, memerintahkan untuk segera pergi.
***
Sesampainya di perkampungan penduduk, Datuk Mudo hanya diam terpaku, berdiri mematung. Dia berpikir tidak mungkin rasanya, sore tadi hujan begitu lebat menuruni bumi, sekarang seluruh kampung habis terbakar. Dia merasa ketidak-beresan tengah terjadi di kampungnya. Sebagai seorang Kapalo Nagari ia memikul tanggung jawab atas segala yang terjadi di kampung ini. Baik dan buruknya adalah tanggung jawabnya dunia dan akhirat. (Kapalonagari = kepala negeri)
“Baiknya kita menyelidiki apa yang tengah terjadi.” Datuk Mudo Rajo Alam berpesan kepada para pemangku adat, “Kita berbagi tugas. Dua orang diantara kita mengumpulkan para wanita, orang tua dan anak-anak ke tempat aman. Segeralah mengungsi. Kau Zul dan kau Zakaria kutugaskan kalian untuk mengungsikan para wanita, orang tua dan anak-anak!”
“Baik Datuk.” ucap kedua orang yang telah diperintahkan. Mereka berdua langsung bergegas lari mengerjakan tugas yang diemban.
“Dua lagi ku perintahkan untuk mengumpulkan para pemuda dan lelaki di tempat ini dan saling berbagi tugas untuk memadamkan api yang melahap rumah penduduk. Kau Sati dan kau Nurdin lakukanlah dengan segera.”
Seperti kedua teman mereka sebelumnya. Dua orang ini mematuhi perintah Datuk Mudo Rajo Alam. Bagi mereka Datuk Mudo Rajo Alam adalah seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Sehingga tak ada niatan untuk mengingkari segala yang diperintahkannya.
“Sedang yang lain, ikut aku mengitari kampung. Kita lakukan segala hal yang kita bisa.” seru Datuk Mudo Rajo Alam kepada kelima pemangku adat di hadapannya. Kemudian mereka bergegas pergi.
Kembali pada rumah gadang tempat dimana tinggal Datuk Mudo Rajo Alam dan keluarganya. Kini tinggal bertiga Halimah, anaknya dan seorang pemangku adat yang bernama Bujang. Bujang adalah seorang tua yang bijak dan patuh terhadap aturan serta perintah yang diberikan padanya. Ia duduk di ruang tengah tepat di depan kamar Halimah dan anak dari Datuk Mudo berada. Ia menimang-nimang pedangnya, apapun yang terjadi pada istri dan anak dari keponakannya, itu adalah tanggung jawabnya saat ini.
Tapi tiba-tiba, terdengar pintu digedor berulang-kali. Bujang terperangah. Ia berlari menuju jendela. Memperhatikan! Kurang ajar…. si Sudin itu buat apa lagi dia datang kesini… Sudah bosan hidup rupanya orang ini…. maki Bujang di dalam hati.
Sementara itu dari luar, “Halimah… Bukakan pintu Halimah… Abang datang menjemputmu sayang..!”
“Bangsat kau Sudin….!” seru Bujang dari dalam rumah. Dengan geram ia menendang pintu depan. Daun pintu yang besar itu tanggal. sedang orang dibalik pintu yang berada diluar terjengkang jatuh dari anak tangga.
Orang yang terjatuh ke bawah itu dan dipanggil oleh mamak Bujang dengan sebutan Sudin tidak lain dan tidak bukan adalah Sepasang Karih Sakti. Ia tertawa saja dibawah anak tangga.
“O.. o… o.. Rupa-rupanya orang tua sudah bau tanah ini yang menendangku hingga terjatuh. Sudah rindu wa’ang mau mencium tanah Bujang..?”
“Onde… Wa’ang itu mencari mati Sudin datang kemari? Tidak puaskah wa’ang dua tahun lalu dibuat malu..?”
Kesal mendapat perlakuan seperti itu Sudin alias Sepasang Karih Sakti mengepalkan kedua tangannya. Dari matanya memancar sinar berwarna putih terang. Bujang yang menyaksikan hal ini maklum betul, orang dihadapannya tidak sama dengan orang yang dua tahun ia hadapi. Entah ilmu apa yang dipelajari. Tidak gentar, Bujang meloncat ke bawah.
Sepasang Karih Sakti meloncat ke arah Bujang. Tendangannya berkiblat kepada kepala Bujang. Bujang menangkis dengan tangan kiri. Tangan kanannya mengepalkan tinju yang sudah dialiri tenaga dalam ke arah selangkangan Sepasang Karih Sakti. Tapi belum sampai pukulan Bujang, Sepasang karih Sakti berlaku cerdik. Ia meloncat dan menjejakkan kakinya yang bebas di atas kepala Bujang. Bujang terpental ke depan. Belum lagi sampai ke tanah, sikutan keras Sepasang Karih Sakti telah mendarat tepat leher bagian belakangnya.
Darah keluar dari mulut Bujang, tubuhnya gontai. Ia alirkan seluruh tenaga dalam yang ia miliki ke bagian dada, kaki dan kepalan tangannya. Berusaha untuk menyeimbangkan diri. Dalam pikirnya, Sudin yang ia hadapi saat ini jauh sekali meningkat kemampuannya. Bujang mengatur jalan nafas, kemudian membuka kuda-kuda rendah. dan menggoyangkan kedua tangannya ke arah samping. Ia membuka jurus silek Kumango. (silekKumango = silat unik yang gerakan-gerakannya berasal atau menggambarkan berbagai macam huruf-huruf hijaiyah)
"Model silat begitu wa’ang tampilkan di depan denai Bujang.. matilah wa’ang..!” menyerang Sepasang Karih Sakti. Tangannya dipentangkan ke arah depan. Ini sebenarnya hanya gerak tipuan belaka. Ketika tangannya ini ditangkis. Ia segera menangkap tangkisan lawan, dan memukul dengan tangan yang satu lagi yang sudah dialiri penuh oleh tenaga dalam.
Tapi Bujang yang sudah berumur, sudah maklum dengan apa yang akan dilakukan Sepasang Kariah Sakti. Ia menjatuhkan dirinya. Kakinya yang depan menendang mengarah lutut Sudin. Jika terkena tak ayal lutut itu akan pecah. Tapi Sepasang Karih Sakti meloncat, dan menjatuhkan diri tepat disamping Bujang. Menendang pipi Bujang dengan lututnya.
Bujang terpental, namun ia membuat serangan dengan kembali menendang ke bagian perut Sepasang Karih Sakti. Namun belum sampai tendangannya sampai Sepasang Karih Sakti ternyata telah bangkit di belakangnya. Menendang punggungnya, Bujang terpental sejauh sepuluh kaki. Darah segar menyembur deras dari mulutnya. Dengan gontai ia bangkit berdiri.
“Kau rasakan ini Bujang…” Sepasang Karih Sakti mengiblatkan matanya ke arah Bujang. Sinar putih keluar dari kedua biji matanya. Bujang mengalirkan tenaga dalamnya, dan meloncat menghindari sinar putih yang begitu dashyat menyerangnya. Tapi terlambat, sepasang kakinya tak dapat menghindari sinar panas. Terdengar suara ledakan. Darah, patahan-patahan tulang serta irisan-irisan daging berceceran kemana-mana. Bersamaan dengan itu Bujang hanya dapat menahan rasa sakit, sepasang kakinya telah buntung.
Dengan tubuh yang menahan sakit dan tidak bisa bangkit berdiri, karena sepasang kakinya telah terkutung buntung. Bujang hanya bisa pasrah mendapat perlakuan apa saja dari Sepasang Kariah Sakti.
“Mati Kau Bujang…!” Sepasang Karih Sakti menghampirinya. Kembali dua sinar menggidikkan berkiblat ke arah Bujang. Tak ayal tubuh tua itupun hangus meregang nyawa.
***
Api berkobar dimana-mana, tak ayal lagi hampir seluruh perkampungan habis dilahap oleh si jago merah. Asap berwarna kelabu membumbung tinggi ke atas langit malam yang berwarna hitam. Sebagian warga kampung telah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian lagi, yaitu pihak laki-laki bahu-membahu memadamkan kobaran api. Rasa panas begitu menyengat. Datuk Mudo Rajo Alam yang berada di tengah-tengah perkampungan penduduk merasakan iba di hatinya. Ia mengusap air mata, yang tanpa ia sadari jatuh dari pelupuk matanya.
“Ha.. Ha.. Ha…, begini rupa-rupanya kapalo nagari awak ni… paibo bana…” ucap Sudin alias Sepasang Karih Sakti dari kejauhan. Dia muncul dari balik pepohonan besar di bagian utara bersama kesembilan belas anak buahnya. (Paibo bana = cengeng sekali)
Mendengar ucapan itu, Datuk Mudo langsung menoleh. Ia melihat Sudin sedang merangkul tubuh istrinya. Halimah terlihat sedang tak sadarkan diri saat itu. Lalu kemanakah anaknya. Anaknya tidak terlihat saat itu. Dimanakah anaknya? Pikirnya saat itu.
“Kurang ajar.. wa’ang Sudin…..!” serunya marah, “Turunkan istriku…!”
“Salah siapa urang rumah nan baiko ranca’ kau tinggalkan di rumah sendirian Datuk Mudo….! Bolehlah awak menyicipi istrimu ini.” (urang rumah nan baiko ranca’ = istri yang begini cantik)
“Turunkan ….!” Datuk Mudo meloncat menyerang. Kemarahannya semakin menjadi-jadi. Pedang telah ia keluarkan dari sabuk. Mata pedangnya yang tajam ia arahkan ke wajah Sudin.
Sudin melemparkan sosok tubuh yang ia rangkul ke arah anak-anak buahnya. Dengan sigap mereka menangkap tubuh perempuan yang tak lain adalah Halimah, istri dari Datuk Mudo Rajo Alam.
Kemudian ia membentuk sebuah kuda-kuda rendah, beginilah ciri khas silat Minang yang terkenal dengan kuda-kuda rendahnya. Sepasang karih sakti yang terselip di pinggangnya ia keluarkan. Dari dua senjata pusaka ini terangkum sinar menggidikkan, yang satu berwarna hitam, sedang yang satu lagi berwarna merah.
Pedang panjang yang mengarah ke wajah Sudin begitu sebat meminta nyawa. Namun perampok ini menangkis pedang dengan kariah berwarna merah menyala di tangan kirinya. Pedang mencuat hampir terlepas dari tangan Datuk Mudo Rajo Alam. Kepala Negeri ini pun segera meloncat dan kembali mempersiapkan sebuah jurus. Pedang ditangan kanannya tampak mengkilap. Selain itu entah mengapa pedang ini tampak terlihat semakin panjang. Inilah jurus Pedang membelah langit.
“Raso jo diang padang den….!!” ucap Datuk Mudo Rajo Alam sembari menyerang Sudin. (Raso jo diang padang den = Rasakan olehmu pedangku)
Pedang bergerak dengan sebat. Sudin hapir terdesak. seluruh tenaga dalamnya ia alirkan pada kedua tangannya yang memegang sepasang kariah. Namun percuma saja, serangan pedang yang begitu dashyat dan cepat membuat Sudin kewalahan. Bajunya yang hitam telah robek di dua bagian dada dan bahu. Tak ada cara lain, dengan menghindar.
Sepasang Karih Sakti meloncat mundur. Namun celaka, gerakan pedang dengan cepat memburunya. “Anak buah-anak buah tolol bantu aden….!” serunya kepada anak-anak buahnya.
Mamak Sati yang tak lain adalah paman dari Sudin langsung bertindak. Ia melemparkan lima buah pisau kecil ke arah Datuk Mudo Rajo Alam.
Sadar nyawanya sedang berbahaya, Datuk Mudo Rajo Alam membatalkan serangan. Lalu mengeluarkan jurus, Pedang memporak-porandakan awan. Jurus ini begitu hebat, gerakkan pedang berputar-putar seperti sebuah perisai. Yang terlihat hanya punya putaran angin dan siuran suara.
Dengan mudah kelima pisau mencelat mental, berbalik arah. Mamak Sati yang menyaksikan hal ini langsung meloncat menghindar. Ia selamat dari kelima pisaunya sendiri. Tapi celaka, ketiga orang rombongannya yang terkaget oleh serangan pisau tak bisa menghindar. Yang terdengar hanya pekik suara kesakitan. Mereka pun meregang nyawa.
“Bela wa’ang mamak….” seru Sudin melihat ketiga anak buahnya mati percuma, ia menyalahkan pamannya. (Bela wa’ang mamak = bego kamu paman)
Melihat kepala negeri tengah dibokong ketika pertempuran, kelima orang pemuka adat tak ambil diam. Mereka langsung menyerbu rombongan Perampok Hitam.
Terjadi pertempuran tidak seimbang lima melawan tujuh belas. Namun para pemuka adat adalah orang-orang yang tak bisa dianggap enteng dalam ilmu silat. Meski tak seimbang dalam jumlah, pertempuran terlihat imbang, bahkan para perampok Hitam terlihat terdesak.
“Sekarang hanya tinggal kau dan aku Sudin…!” berkata Datuk Mudo Rajo Alam.
“Ha.. ha.. ha.., ayo lekas kita selesaikan pertempuran ini. Aden sudah tidak sabar mau mencicipi tubuh istrimu yang molek itu.” menunjuk Sudin pada sosok tubuh Halimah yang tak berdaya.
Inilah kesalahan Datuk Mudo Rajo Alam, ia menoleh ke arah yang ditunjuk Sudin. Dengan iba ia melihat istrinya. Padahal ketika itu, karih yang berwarna hitam tengah mencuat ke arah jantungnya.
Sejengkal karih mau menancap dadanya, Datuk Mudo tersadar, ia membuat gerakkan kesamping. Ia selamat, namun kariah berwarna hitam menggidikkan itu menggores bagian bahunya. Sekejap ia merasakan panas mengalir ke sekujur tubuhnya. Ia sadar karih sakti yang sempat melukainya mengandung racun hebat.
Datuk Mudo Rajo Alam segera mengalirkan seperempat tenaga dalamnya ke bagian tubuh yang sakit. Lalu menotok bagian pangkal bahunya, ini bermaksud agar racun yang masuk ke tubuhnya tidak menjalar kemana-mana, apalagi ke bagian jantung. Setelah itu ia kembali membuat serangan dengan ilmu pedangnya. Kali ini ia mengeluarkan jurus, pedang sakti membelah lautan.
Gerakan pedang yang seperti sebuah sabetan-sabetan itu tentu membingungkan Sudin. Dengan kuda-kuda yang rendah ia membuat gerakan berputar-putar. Sembari menangkis pedang dengan karihnya yang berwarna merah. Kariah yang berwarna merah memang memiliki kesaktian berat seribu kati, yaitu meskipun kecil namun beratnya ketika menangkis serangan musuh akan membuat musuh merasa memukul batu besar. Maka tak heran jika pedang panjang di tangan Datuk Mudo Rajo Alam terpental beberapa kali.
Pada jurus kesembilan, Datuk Mudo Rajo Alam yang menyerang habis-habisan mulai merasakan lelah. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia sadar betul, ini adalah pengaruh dari racun kariah hitam yang masuk ke tubuhnya. Keadaan kembali tak menguntungkan Datuk Mudo Rajo Alam kali ini ia yang terdesak bertahan dari serangan kariah merah yang membabi-buta.
Kelima orang pemangku adat yang berilmu silat cukup tinggi juga memiliki nasib yang sama dengan Datuk Mudo Rajo Alam. Saat ini mereka yang terdesak. Tanpa disadari oleh mereka para perampok ini membubuhi racun pada tangan dan senjata mereka. Tenaga mereka lama-lama menjadi habis karena efek pengaruh racun. Saat itulah pisau-pisau kecil milik Mamak Sati berterbangan mengarah mereka. Tak ayal, pisau yang menancap di dada, perut, leher dan wajah mereka, telah menghabisi nyawa mereka sesaat itu juga.
Geram Datuk Mudo Rajo Alam dengan kejadian yang menimpa para pemangku adat. Ia melompat menyerang dan kembali mengiblatkan pedang panjangnya ke wajah Sudin. Sudin alias Sepasang Karih Sakti hanya menyeringai. Dari matanya yang tajam berkiblat dua larik sinar putih panas menggidikkan. Pedang yang berada di tangan Datuk Mudo Rajo Alam terpental jatuh. Sedang tangan kanannya yang memegang pedang itu, terlahap sinar itu, hanya terdengar suara mendesis. Tangan itu menghitam hangus, terkulai-kulai lemas. Dengan gontai Datuk Mudo Rajo Alam mencoba untuk terus berdiri.
“Nyawamu hanya tertinggal beberapa jengkal saja Datuk Mudo. Racun di dalam tubuhmu itu tak ada yang bisa menolong sama sekali. Percuma kau melawan, karena kedua tanganmu sudah tak berguna sama sekali saat ini.”
“Cuih…” Datuk Mudo Rajo Alam membuang ludahnya, “kau kira aku tak bisa menghabisimu Sudin..!”
“Ha… ha… ha…, sadarlah Datuk Muda, nyawamu hanya tinggal sesaat. Lebih baik engkau mempergunakan sisa nyawamu untuk menolong anakmu yang ku tinggalkan di atas sana!” Sepasang Kariah Sakti menunjuk ke rumah gadang yang ada di atas pedataran sawah.
Bimbanglah kini Datuk Mudo Rajo Alam. Hendak meneruskan pertarungan, menyelamatkan istrinya atau menyelamatkan anaknya.
“Tak usah kau bimbang Datuk Muda. Lebih baik kau selamatkan anakmu. Karena di dalam rumah gadang itu aku telah pasang jebakan yang akan meledakkan seluruh rumah itu beserta isinya. Kau tentu tidak mau bukan anakmu yang satu itu mati muda. Ha.. ha.. ha…”
“Bangsat kau Sudin…!” menyeru Datuk Muda. Ia pergunakan tangan kirinya untuk memukul lawan. Meski sakit sebatas bahu ia rasakan. Namun ia paksakan, dengan mengaliri seluruh tenaga dalamnya. Ia memasang kuda-kuda rendah. Kepalan tangan kirinya berwarna merah. Inilah yang dinamakan Pukulan Kelabang Merah.
“Ha.. ha.. ha..” Sepasang Karih Sakti mengembangkan kuda-kudanya yang rendah. Dua tangannya berputar-putar. Dua rangkum sinar putih melingkar mengarah Datuk Mudo Rajo Alam. Datuk itupun segera melepas pukulannya. Sinar putih dan merah beradu, saking kuatnya, hingga terjadi ledakan besar. Tubuh Sepasang Karih Sakti hanya terpental beberapa kaki. Darah mengucur dari mulutnya. Sewaktu terpental ia sempat mengambil kariah hitamnya yang berada di atas tanah.
Sedang tubuh Datuk Mudo Rajo Alam mencuat mental jauh. Ia terkulai lemas. Darah segar tak henti-henti keluar dari mulut dan hidungnya. Dari dadanya yang turun naik, tampak ia bernafas tersengal-sengal.
“Matilah kau…. Datuk andia…!” Sudin melemparkan karih sakti berwarna hitamnya. (andia = bodoh;dungu)
Akan tetapi, Halimah yang tersadar dari pingsannya. Melihat suaminya tergolek tak berdaya di hadapannya. Langsung berlari dan memeluk Sudin. Ketika itu pulalah karih hitam menancap di punggung wanita itu. Tubuhnya langsung terkulai tak bernyawa di atas tubuh Datuk Mudo Rajo Alam.
“Ha.. ha.. ha.. . Sayang sekali aden tidak bisa menikmati tubuh mulus dan wajah cantik itu.” Sudin lalu melangkah mendekati Halimah dan suaminya. mencabut karihnya dari punggung Halimah. Menyaksikan Datuk Mudo Rajo Alam yang tersengal-sengal di bawah mayat Halimah, Sudin hanya menyeringai. Ia menendang wajah Datuk Muda itu, lalu menahan wajah Datuk Mudo dengan kakinya, hingga wajah itu menghadap rumah gadang yang ada di atas pedataran sawah yang berunjak-unjak membentuk bukit.
“Sesaat lagi kau saksikan anakmu mati Datuk. Ha.. ha.. ha..”
Betul saja sekejap, rumah gadang itu meledak. Kobaran api berwarna merah tampak memilukan. Asap membumbung tinggi. Datuk Mudo Rajo Alam terisak-isak menangis.
“Itu semua karena kesalahanmu Datuk..! Sudah aden katakan cepat bergegas dari sini, ambil anakmu! Malah kau melawanku. Sekarang habislah kau…!” Sudin menusuk kariah saktinya yang berwarna hitam di dada Datuk Mudo Rajo Alam. Darah hitam muncrat dari mulutnya.
Sepasang karih sakti dan serombongan anak buahnya pergi meninggalkan kampung itu, dengan seluruh harta rampasan yang mereka ambil. Tampak seringai di wajah mereka. Karena dendam mereka terbalaskan.
***
Kembali ketika rumah gadang sebelum terbakar. Terdengar suara pekik tangis bayi yang begitu memilukan. Bayi laki-laki mungil yang masih berwarna merah. Ia diletakkan di atas meja kecil. Di bawah kakinya ada sebatang lilin menyala. Jika bayi kecil itu menendang jatuh lilin tersebut, di bawah meja ada sebaskom bahan peledak yang siap meledak. Rumah ini pun pada dinding, lantai dan atapnya telah diguyur oleh minyak. Maka kita bisa membayangkan apa yang terjadi pada bayi ini jika ia menendang jatuh lilin. seisi rumah akan terbakar.
Dari atas atap, meloncat turun seorang kakek tua berambut kelabu sampai ke pinggang. Tubuhnya yang tegap dan kekar berdiri di atas meja. Dengan menyeringai kecil ia mengangkat bayi yang ada di hadapannya, lalu menimang-nimangnya. Tangannya berwarna hitam sebatas bahu, begitu juga bibirnya. Ia menyeringai, selintas tampak menyeramkan, apalagi dengan kumis dan janggutnya yang dibiarkan tak terurus memanjang. Namun kakek ini adalah seorang sakti golongan putih bernama Pidareh hitam atau pukulan beracun hitam.
Ia meloncat ke atas atap, sembari menggendong anak bayi laki-laki yang sudah berhenti menangis semenjak ia timang-timang tadi. Sewaktu meloncat, ia menendang lilin yang berada di atas meja hingga terjatuh ke baskom yang berisi bubuk bahan peledak. Rumah itu meledak. Namun kakek dan anak kecil yang digendongnya selamat.
“Sabarlah nak.., sekarang kita cari bapak dan ibumu. Semoga saja mereka masih hidup.” Gerakannya begitu cepat, sekali satu kaki memijakkan tanah kaki berikutnya memijakkan tanah sejauh enam langkah. Sungguh ilmu lari yang luar biasa.
Sesampainya di tempat muridnya yang terbaring tak berdaya. Lima mayat bergelimpangan di kiri dan kanan muridnya. Sedang sesosok mayat perempuan menelingkup di atas tubuh muridnya yang kesakitan. Kakek berambut panjang sebahu ini hanya bisa geleng-geleng kepala dan meneteskan sedikit air matanya. Ia melihat muridnya megap-megap mengambil nafas, sedang darah segar terus mengucur.
“Muridku.., apa yang terjadi padamu?”
“Guru.. Kau ada disini guru?”
“Ya aku disini Bahtiar. Kau terkena racun ganas. Kalau tidak salah ini racun jahat kalajengking seribu tahun. Ini.., ini racun dari karih sakti berwarna hitam. Sabarlah nak aku akan serap racunmu.”
Dengan kemampuannya menyerap racun. Datuk Pidareh Hitam memang bisa mengobati muridnya. Tapi ia tak bisa menyangkal, racun ini sudah menyerang jantung Bahtiar alias Datuk Mudo Rajo Alam. Ia meletakkan tangannya tepat di atas dada, tempat tusukan kariah sakti bersarang sebelumnya. Tangannya yang hitam bisa menyerap segala racun. Dengan begitu ia bisa memperingan beban muridnya.
“Muridku.., siapa yang melakukan ini padamu?”
“A.. Aku begini karena Sudin… gu.. ru…, ia ber..ju..luk… se..pa..sang ka..rih sak..ti?”
“Sepasang karih sakti. Jadi tepat dugaanku racun di tubuhmu ini akibat karih sakti berwarna hitam.”
“Gu…ru, ma..ukah kau membantu aku?”
“Apa muridku?” tanya Datuk Pidareh Hitam pada muridnya.
“To..long kau lihat rumahku, apakah masih bisa kau tolong anakku!”
Datuk Pidareh Hitam hanya bisa meneteskan air mata. Anak dari muridnya itu tengah ia gendong. Berarti muridnya itu tak bisa melihatnya sama sekali saat itu. Ia hanya mendengar suaranya saja saat itu.
“Muridku, anakmu sudah ada di tanganku. Usahlah kau merasa khawatir. Perkuat saja dirimu.”
“Bo..lehkah.. a..ku menci..umnya gu..ru?”
Datuk Pidareh Hitam mendekatkan bayi laki-laki itu kepada bapaknya. Dengan bersusah payah Bahtiar alias Datuk Mudo Rajo Alam mengangkat kepalanya dan melekatkan bibirnya ke wajah anaknya. Ia menciumi pipi dan kening anaknya. Darah segar yang keluar dari mulutnya ikut membasahi wajah bayi laki-lakinya.
“Sam..sul.. A..lam.. jadilah engkau a..nak yang ber..gu..na…!” Datuk mudo Rajo Alam kemudian menjatuhkan wajahnya ke tanah. Ia sudah tak bernyawa.
“Muridku..! Percayalah nyawamu akan dibalas dengan nyawanya. Anakmu inilah yang akan melakukannya!”
Datuk Pidareh Hitam kemudian bergegas pergi. Meninggalkan jasad muridnya.
Diposkan oleh Poetih Dekil