AKHASIE *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* AKHASIE

Rabu, 18 Maret 2015

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa Api 2

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

SEPASANG KARIH SAKTI  bagian   2

Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api

Malam telah tiba. Namun keadaan seluruh isi kampung begitu mencekam. Api berkobar dibagian utara dan selatan perkampungan. Hingga langit yang seharusnya hitam kelam kini ikut berwarna merah. Asap membumbung dimana-mana. Udara panas sungguh terasa menyengat. Seluruh penduduk berlari kesana-kemari, mencari selamat dan ketakutan. Beberapa orang sibuk memadamkan api dengan cara mengguyur air, namun semua seperti sia-sia saja. Api merembet kemana-mana, sebagian kampung kini sudah terlalap oleh ganasnya panas api yang yang menggila.
Dari dalam rumah gadangnya Datuk Mudo Rajo Alam yang sedang menimang-nimang anaknya di hadapan istrinya langsung terperanjak kaget, ketika mendengar teriakan-teriakan para penduduk meminta tolong.

“Ada apa lagi ini Halimah?” ucapnya kepada istrinya.
“Entahlah uda, kenapa hati Halimah jadi tidak enak begini.” (uda = sebutan untuk abang)
Tak lama kemudian terdengar suara pintu di hadapan rumahnya diketuk-ketuk orang. “Datuk Mudo…, Datuk Mudo…, bukakan pintu Datuk Mudo!”
Segera lelaki gagah ini bergegas menuju pintu dan membukakannya. Dia memperhatikan ada sepuluh orang di hadapannya. Mereka adalah para pemuka adat.
“Ada apa ini Malin?” tanya Datuk Mudo kepada orang dihadapannya yang mengetuk pintu.
“Seluruh kampung porak poranda Datuk. Ada firasat ambo yang tidak enak Datuk.” ucap Malin.
Karena rumah gadangnya berada di atas perkampungan yang letaknya di sekelilingi persawahan, Datuk Mudo Rajo Alam dapat menyaksikan keadaan seluruh kampung. Asap dimana-mana. Kobaran api membakar disana-sini.
“Tunggu sebentar.” Datuk masuk kembali ke dalam rumahnya.
Ia mengambil sebilah pedang dan karih terlebih dahulu. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres tengah terjadi di kampung tempat ia memimpin. Ia lalu melirik kepada Halimah, istrinya yang baru saja melahirkan anaknya tersayang.
“Halimah.., tetaplah kau disini. Jika memang ada apa-apa di rumah ini segeralah kau pergi membawa anak kita dari pintu belakang. Segera akan kuperintahkan Mamak Bujang kesini untuk menjagamu dan anak kita.”
Halimah lalu terisak, perasaannya tak enak saat ini. Ia mengatakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya. Oh.., kenapa ini terjadi ketika anakku baru saja lahir ke dunia.
“Janganlah kau menangis begitu Halimah. Doakan saja suamimu ini akan segera kembali ke rumah.” Datuk Mudo Rajo Alam mengelus rambut istrinya. Tak lama segera ia bergegas menuju keluar. Dimana menunggu Malin dan ke sembilan para pemuka adat lainnya.
“Mamak Bujang.., aku minta bantuanmu. Bisa kau jaga rumahku mamak. Halimah baru saja melahirkan siang tadi, tak enak rasanya ambo meninggalkannya.” ucap Datuk Mudo kepada salah seorang pemuka adat yang paling tua. Di antara kedua orang ini memang ada pertalian darah. Sekaligus ia mempercayai orang ini, karena orang ini memang memiliki ilmu silat yang cukup. Mamak Bujang mengangguk dan menepuk bahu Datuk Mudo tiga kali lalu menggoyangkan punggung tangannya, memerintahkan untuk segera pergi.
***
Sesampainya di perkampungan penduduk, Datuk Mudo hanya diam terpaku, berdiri mematung. Dia berpikir tidak mungkin rasanya, sore tadi hujan begitu lebat menuruni bumi, sekarang seluruh kampung habis terbakar. Dia merasa ketidak-beresan tengah terjadi di kampungnya. Sebagai seorang Kapalo Nagari ia memikul tanggung jawab atas segala yang terjadi di kampung ini. Baik dan buruknya adalah tanggung jawabnya dunia dan akhirat. (Kapalonagari = kepala negeri)
“Baiknya kita menyelidiki apa yang tengah terjadi.” Datuk Mudo Rajo Alam berpesan kepada para pemangku adat, “Kita berbagi tugas. Dua orang diantara kita mengumpulkan para wanita, orang tua dan anak-anak ke tempat aman. Segeralah mengungsi. Kau Zul dan kau Zakaria kutugaskan kalian untuk mengungsikan para wanita, orang tua dan anak-anak!”
“Baik Datuk.” ucap kedua orang yang telah diperintahkan. Mereka berdua langsung bergegas lari mengerjakan tugas yang diemban.
“Dua lagi ku perintahkan untuk mengumpulkan para pemuda dan lelaki di tempat ini dan saling berbagi tugas untuk memadamkan api yang melahap rumah penduduk. Kau Sati dan kau Nurdin lakukanlah dengan segera.”
Seperti kedua teman mereka sebelumnya. Dua orang ini mematuhi perintah Datuk Mudo Rajo Alam. Bagi mereka Datuk Mudo Rajo Alam adalah seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Sehingga tak ada niatan untuk mengingkari segala yang diperintahkannya.
“Sedang yang lain, ikut aku mengitari kampung. Kita lakukan segala hal yang kita bisa.” seru Datuk Mudo Rajo Alam kepada kelima pemangku adat di hadapannya. Kemudian mereka bergegas pergi.
Kembali pada rumah gadang tempat dimana tinggal Datuk Mudo Rajo Alam dan keluarganya. Kini tinggal bertiga Halimah, anaknya dan seorang pemangku adat yang bernama Bujang. Bujang adalah seorang tua yang bijak dan patuh terhadap aturan serta perintah yang diberikan padanya. Ia duduk di ruang tengah tepat di depan kamar Halimah dan anak dari Datuk Mudo berada. Ia menimang-nimang pedangnya, apapun yang terjadi pada istri dan anak dari keponakannya, itu adalah tanggung jawabnya saat ini.
Tapi tiba-tiba, terdengar pintu digedor berulang-kali. Bujang terperangah. Ia berlari menuju jendela. Memperhatikan! Kurang ajar…. si Sudin itu buat apa lagi dia datang kesini… Sudah bosan hidup rupanya orang ini…. maki Bujang di dalam hati.
Sementara itu dari luar, “Halimah… Bukakan pintu Halimah… Abang datang menjemputmu sayang..!”
“Bangsat kau Sudin….!” seru Bujang dari dalam rumah. Dengan geram ia menendang pintu depan. Daun pintu yang besar itu tanggal. sedang orang dibalik pintu yang berada diluar terjengkang jatuh dari anak tangga.
Orang yang terjatuh ke bawah itu dan dipanggil oleh mamak Bujang dengan sebutan Sudin tidak lain dan tidak bukan adalah Sepasang Karih Sakti. Ia tertawa saja dibawah anak tangga.
“O.. o… o.. Rupa-rupanya orang tua sudah bau tanah ini yang menendangku hingga terjatuh. Sudah rindu wa’ang mau mencium tanah Bujang..?”
“Onde… Wa’ang itu mencari mati Sudin datang kemari? Tidak puaskah wa’ang dua tahun lalu dibuat malu..?”
Kesal mendapat perlakuan seperti itu Sudin alias Sepasang Karih Sakti mengepalkan kedua tangannya. Dari matanya memancar sinar berwarna putih terang. Bujang yang menyaksikan hal ini maklum betul, orang dihadapannya tidak sama dengan orang yang dua tahun ia hadapi. Entah ilmu apa yang dipelajari. Tidak gentar, Bujang meloncat ke bawah.
Sepasang Karih Sakti meloncat ke arah Bujang. Tendangannya berkiblat kepada kepala Bujang. Bujang menangkis dengan tangan kiri. Tangan kanannya mengepalkan tinju yang sudah dialiri tenaga dalam ke arah selangkangan Sepasang Karih Sakti. Tapi belum sampai pukulan Bujang, Sepasang karih Sakti berlaku cerdik. Ia meloncat dan menjejakkan kakinya yang bebas di atas kepala Bujang. Bujang terpental ke depan. Belum lagi sampai ke tanah, sikutan keras Sepasang Karih Sakti telah mendarat tepat leher bagian belakangnya.
Darah keluar dari mulut Bujang, tubuhnya gontai. Ia alirkan seluruh tenaga dalam yang ia miliki ke bagian dada, kaki dan kepalan tangannya. Berusaha untuk menyeimbangkan diri. Dalam pikirnya, Sudin yang ia hadapi saat ini jauh sekali meningkat kemampuannya. Bujang mengatur jalan nafas, kemudian membuka kuda-kuda rendah. dan menggoyangkan kedua tangannya ke arah samping. Ia membuka jurus silek Kumango. (silekKumango = silat unik yang gerakan-gerakannya berasal atau menggambarkan berbagai macam huruf-huruf hijaiyah)
"Model silat begitu wa’ang tampilkan di depan denai Bujang.. matilah wa’ang..!” menyerang Sepasang Karih Sakti. Tangannya dipentangkan ke arah depan. Ini sebenarnya hanya gerak tipuan belaka. Ketika tangannya ini ditangkis. Ia segera menangkap tangkisan lawan, dan memukul dengan tangan yang satu lagi yang sudah dialiri penuh oleh tenaga dalam.
Tapi Bujang yang sudah berumur, sudah maklum dengan apa yang akan dilakukan Sepasang Kariah Sakti. Ia menjatuhkan dirinya. Kakinya yang depan menendang mengarah lutut Sudin. Jika terkena tak ayal lutut itu akan pecah. Tapi Sepasang Karih Sakti meloncat, dan menjatuhkan diri tepat disamping Bujang. Menendang pipi Bujang dengan lututnya.
Bujang terpental, namun ia membuat serangan dengan kembali menendang ke bagian perut Sepasang Karih Sakti. Namun belum sampai tendangannya sampai Sepasang Karih Sakti ternyata telah bangkit di belakangnya. Menendang punggungnya, Bujang terpental sejauh sepuluh kaki. Darah segar menyembur deras dari mulutnya. Dengan gontai ia bangkit berdiri.
“Kau rasakan ini Bujang…” Sepasang Karih Sakti mengiblatkan matanya ke arah Bujang. Sinar putih keluar dari kedua biji matanya. Bujang mengalirkan tenaga dalamnya, dan meloncat menghindari sinar putih yang begitu dashyat menyerangnya. Tapi terlambat, sepasang kakinya tak dapat menghindari sinar panas. Terdengar suara ledakan. Darah, patahan-patahan tulang serta irisan-irisan daging berceceran kemana-mana. Bersamaan dengan itu Bujang hanya dapat menahan rasa sakit, sepasang kakinya telah buntung.
Dengan tubuh yang menahan sakit dan tidak bisa bangkit berdiri, karena sepasang kakinya telah terkutung buntung. Bujang hanya bisa pasrah mendapat perlakuan apa saja dari Sepasang Kariah Sakti.
“Mati Kau Bujang…!” Sepasang Karih Sakti menghampirinya. Kembali dua sinar menggidikkan berkiblat ke arah Bujang. Tak ayal tubuh tua itupun hangus meregang nyawa.
***
Api berkobar dimana-mana, tak ayal lagi hampir seluruh perkampungan habis dilahap oleh si jago merah. Asap berwarna kelabu membumbung tinggi ke atas langit malam yang berwarna hitam. Sebagian warga kampung telah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian lagi, yaitu pihak laki-laki bahu-membahu memadamkan kobaran api. Rasa panas begitu menyengat. Datuk Mudo Rajo Alam yang berada di tengah-tengah perkampungan penduduk merasakan iba di hatinya. Ia mengusap air mata, yang tanpa ia sadari jatuh dari pelupuk matanya.
“Ha.. Ha.. Ha…, begini rupa-rupanya kapalo nagari awak ni… paibo bana…” ucap Sudin alias Sepasang Karih Sakti dari kejauhan. Dia muncul dari balik pepohonan besar di bagian utara bersama kesembilan belas anak buahnya. (Paibo bana = cengeng sekali)
Mendengar ucapan itu, Datuk Mudo langsung menoleh. Ia melihat Sudin sedang merangkul tubuh istrinya. Halimah terlihat sedang tak sadarkan diri saat itu. Lalu kemanakah anaknya. Anaknya tidak terlihat saat itu. Dimanakah anaknya? Pikirnya saat itu.
“Kurang ajar.. wa’ang Sudin…..!” serunya marah, “Turunkan istriku…!”
“Salah siapa urang rumah nan baiko ranca’ kau tinggalkan di rumah sendirian Datuk Mudo….! Bolehlah awak menyicipi istrimu ini.” (urang rumah nan baiko ranca’ = istri yang begini cantik)
“Turunkan ….!” Datuk Mudo meloncat menyerang. Kemarahannya semakin menjadi-jadi. Pedang telah ia keluarkan dari sabuk. Mata pedangnya yang tajam ia arahkan ke wajah Sudin.
Sudin melemparkan sosok tubuh yang ia rangkul ke arah anak-anak buahnya. Dengan sigap mereka menangkap tubuh perempuan yang tak lain adalah Halimah, istri dari Datuk Mudo Rajo Alam.
Kemudian ia membentuk sebuah kuda-kuda rendah, beginilah ciri khas silat Minang yang terkenal dengan kuda-kuda rendahnya. Sepasang karih sakti yang terselip di pinggangnya ia keluarkan. Dari dua senjata pusaka ini terangkum sinar menggidikkan, yang satu berwarna hitam, sedang yang satu lagi berwarna merah.
Pedang panjang yang mengarah ke wajah Sudin begitu sebat meminta nyawa. Namun perampok ini menangkis pedang dengan kariah berwarna merah menyala di tangan kirinya. Pedang mencuat hampir terlepas dari tangan Datuk Mudo Rajo Alam. Kepala Negeri ini pun segera meloncat dan kembali mempersiapkan sebuah jurus. Pedang ditangan kanannya tampak mengkilap. Selain itu entah mengapa pedang ini tampak terlihat semakin panjang. Inilah jurus Pedang membelah langit.
“Raso jo diang padang den….!!” ucap Datuk Mudo Rajo Alam sembari menyerang Sudin. (Raso jo diang padang den = Rasakan olehmu pedangku)
Pedang bergerak dengan sebat. Sudin hapir terdesak. seluruh tenaga dalamnya ia alirkan pada kedua tangannya yang memegang sepasang kariah. Namun percuma saja, serangan pedang yang begitu dashyat dan cepat membuat Sudin kewalahan. Bajunya yang hitam telah robek di dua bagian dada dan bahu. Tak ada cara lain, dengan menghindar.
Sepasang Karih Sakti meloncat mundur. Namun celaka, gerakan pedang dengan cepat memburunya. “Anak buah-anak buah tolol bantu aden….!” serunya kepada anak-anak buahnya.
Mamak Sati yang tak lain adalah paman dari Sudin langsung bertindak. Ia melemparkan lima buah pisau kecil ke arah Datuk Mudo Rajo Alam.
Sadar nyawanya sedang berbahaya, Datuk Mudo Rajo Alam membatalkan serangan. Lalu mengeluarkan jurus, Pedang memporak-porandakan awan. Jurus ini begitu hebat, gerakkan pedang berputar-putar seperti sebuah perisai. Yang terlihat hanya punya putaran angin dan siuran suara.
Dengan mudah kelima pisau mencelat mental, berbalik arah. Mamak Sati yang menyaksikan hal ini langsung meloncat menghindar. Ia selamat dari kelima pisaunya sendiri. Tapi celaka, ketiga orang rombongannya yang terkaget oleh serangan pisau tak bisa menghindar. Yang terdengar hanya pekik suara kesakitan. Mereka pun meregang nyawa.
“Bela wa’ang mamak….” seru Sudin melihat ketiga anak buahnya mati percuma, ia menyalahkan pamannya. (Bela wa’ang mamak = bego kamu paman)
Melihat kepala negeri tengah dibokong ketika pertempuran, kelima orang pemuka adat tak ambil diam. Mereka langsung menyerbu rombongan Perampok Hitam.
Terjadi pertempuran tidak seimbang lima melawan tujuh belas. Namun para pemuka adat adalah orang-orang yang tak bisa dianggap enteng dalam ilmu silat. Meski tak seimbang dalam jumlah, pertempuran terlihat imbang, bahkan para perampok Hitam terlihat terdesak.
“Sekarang hanya tinggal kau dan aku Sudin…!” berkata Datuk Mudo Rajo Alam.
“Ha.. ha.. ha.., ayo lekas kita selesaikan pertempuran ini. Aden sudah tidak sabar mau mencicipi tubuh istrimu yang molek itu.” menunjuk Sudin pada sosok tubuh Halimah yang tak berdaya.
Inilah kesalahan Datuk Mudo Rajo Alam, ia menoleh ke arah yang ditunjuk Sudin. Dengan iba ia melihat istrinya. Padahal ketika itu, karih yang berwarna hitam tengah mencuat ke arah jantungnya.
Sejengkal karih mau menancap dadanya, Datuk Mudo tersadar, ia membuat gerakkan kesamping. Ia selamat, namun kariah berwarna hitam menggidikkan itu menggores bagian bahunya. Sekejap ia merasakan panas mengalir ke sekujur tubuhnya. Ia sadar karih sakti yang sempat melukainya mengandung racun hebat.
Datuk Mudo Rajo Alam segera mengalirkan seperempat tenaga dalamnya ke bagian tubuh yang sakit. Lalu menotok bagian pangkal bahunya, ini bermaksud agar racun yang masuk ke tubuhnya tidak menjalar kemana-mana, apalagi ke bagian jantung. Setelah itu ia kembali membuat serangan dengan ilmu pedangnya. Kali ini ia mengeluarkan jurus, pedang sakti membelah lautan.
Gerakan pedang yang seperti sebuah sabetan-sabetan itu tentu membingungkan Sudin. Dengan kuda-kuda yang rendah ia membuat gerakan berputar-putar. Sembari menangkis pedang dengan karihnya yang berwarna merah. Kariah yang berwarna merah memang memiliki kesaktian berat seribu kati, yaitu meskipun kecil namun beratnya ketika menangkis serangan musuh akan membuat musuh merasa memukul batu besar. Maka tak heran jika pedang panjang di tangan Datuk Mudo Rajo Alam terpental beberapa kali.
Pada jurus kesembilan, Datuk Mudo Rajo Alam yang menyerang habis-habisan mulai merasakan lelah. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia sadar betul, ini adalah pengaruh dari racun kariah hitam yang masuk ke tubuhnya. Keadaan kembali tak menguntungkan Datuk Mudo Rajo Alam kali ini ia yang terdesak bertahan dari serangan kariah merah yang membabi-buta.
Kelima orang pemangku adat yang berilmu silat cukup tinggi juga memiliki nasib yang sama dengan Datuk Mudo Rajo Alam. Saat ini mereka yang terdesak. Tanpa disadari oleh mereka para perampok ini membubuhi racun pada tangan dan senjata mereka. Tenaga mereka lama-lama menjadi habis karena efek pengaruh racun. Saat itulah pisau-pisau kecil milik Mamak Sati berterbangan mengarah mereka. Tak ayal, pisau yang menancap di dada, perut, leher dan wajah mereka, telah menghabisi nyawa mereka sesaat itu juga.
Geram Datuk Mudo Rajo Alam dengan kejadian yang menimpa para pemangku adat. Ia melompat menyerang dan kembali mengiblatkan pedang panjangnya ke wajah Sudin. Sudin alias Sepasang Karih Sakti hanya menyeringai. Dari matanya yang tajam berkiblat dua larik sinar putih panas menggidikkan. Pedang yang berada di tangan Datuk Mudo Rajo Alam terpental jatuh. Sedang tangan kanannya yang memegang pedang itu, terlahap sinar itu, hanya terdengar suara mendesis. Tangan itu menghitam hangus, terkulai-kulai lemas. Dengan gontai Datuk Mudo Rajo Alam mencoba untuk terus berdiri.
“Nyawamu hanya tertinggal beberapa jengkal saja Datuk Mudo. Racun di dalam tubuhmu itu tak ada yang bisa menolong sama sekali. Percuma kau melawan, karena kedua tanganmu sudah tak berguna sama sekali saat ini.”
“Cuih…” Datuk Mudo Rajo Alam membuang ludahnya, “kau kira aku tak bisa menghabisimu Sudin..!”
“Ha… ha… ha…, sadarlah Datuk Muda, nyawamu hanya tinggal sesaat. Lebih baik engkau mempergunakan sisa nyawamu untuk menolong anakmu yang ku tinggalkan di atas sana!” Sepasang Kariah Sakti menunjuk ke rumah gadang yang ada di atas pedataran sawah.
Bimbanglah kini Datuk Mudo Rajo Alam. Hendak meneruskan pertarungan, menyelamatkan istrinya atau menyelamatkan anaknya.
“Tak usah kau bimbang Datuk Muda. Lebih baik kau selamatkan anakmu. Karena di dalam rumah gadang itu aku telah pasang jebakan yang akan meledakkan seluruh rumah itu beserta isinya. Kau tentu tidak mau bukan anakmu yang satu itu mati muda. Ha.. ha.. ha…”
“Bangsat kau Sudin…!” menyeru Datuk Muda. Ia pergunakan tangan kirinya untuk memukul lawan. Meski sakit sebatas bahu ia rasakan. Namun ia paksakan, dengan mengaliri seluruh tenaga dalamnya. Ia memasang kuda-kuda rendah. Kepalan tangan kirinya berwarna merah. Inilah yang dinamakan Pukulan Kelabang Merah.
“Ha.. ha.. ha..” Sepasang Karih Sakti mengembangkan kuda-kudanya yang rendah. Dua tangannya berputar-putar. Dua rangkum sinar putih melingkar mengarah Datuk Mudo Rajo Alam. Datuk itupun segera melepas pukulannya. Sinar putih dan merah beradu, saking kuatnya, hingga terjadi ledakan besar. Tubuh Sepasang Karih Sakti hanya terpental beberapa kaki. Darah mengucur dari mulutnya. Sewaktu terpental ia sempat mengambil kariah hitamnya yang berada di atas tanah.
Sedang tubuh Datuk Mudo Rajo Alam mencuat mental jauh. Ia terkulai lemas. Darah segar tak henti-henti keluar dari mulut dan hidungnya. Dari dadanya yang turun naik, tampak ia bernafas tersengal-sengal.
“Matilah kau…. Datuk andia…!” Sudin melemparkan karih sakti berwarna hitamnya. (andia = bodoh;dungu)
Akan tetapi, Halimah yang tersadar dari pingsannya. Melihat suaminya tergolek tak berdaya di hadapannya. Langsung berlari dan memeluk Sudin. Ketika itu pulalah karih hitam menancap di punggung wanita itu. Tubuhnya langsung terkulai tak bernyawa di atas tubuh Datuk Mudo Rajo Alam.
“Ha.. ha.. ha.. . Sayang sekali aden tidak bisa menikmati tubuh mulus dan wajah cantik itu.” Sudin lalu melangkah mendekati Halimah dan suaminya. mencabut karihnya dari punggung Halimah. Menyaksikan Datuk Mudo Rajo Alam yang tersengal-sengal di bawah mayat Halimah, Sudin hanya menyeringai. Ia menendang wajah Datuk Muda itu, lalu menahan wajah Datuk Mudo dengan kakinya, hingga wajah itu menghadap rumah gadang yang ada di atas pedataran sawah yang berunjak-unjak membentuk bukit.
“Sesaat lagi kau saksikan anakmu mati Datuk. Ha.. ha.. ha..”
Betul saja sekejap, rumah gadang itu meledak. Kobaran api berwarna merah tampak memilukan. Asap membumbung tinggi. Datuk Mudo Rajo Alam terisak-isak menangis.
“Itu semua karena kesalahanmu Datuk..! Sudah aden katakan cepat bergegas dari sini, ambil anakmu! Malah kau melawanku. Sekarang habislah kau…!” Sudin menusuk kariah saktinya yang berwarna hitam di dada Datuk Mudo Rajo Alam. Darah hitam muncrat dari mulutnya.
Sepasang karih sakti dan serombongan anak buahnya pergi meninggalkan kampung itu, dengan seluruh harta rampasan yang mereka ambil. Tampak seringai di wajah mereka. Karena dendam mereka terbalaskan.
***
Kembali ketika rumah gadang sebelum terbakar. Terdengar suara pekik tangis bayi yang begitu memilukan. Bayi laki-laki mungil yang masih berwarna merah. Ia diletakkan di atas meja kecil. Di bawah kakinya ada sebatang lilin menyala. Jika bayi kecil itu menendang jatuh lilin tersebut, di bawah meja ada sebaskom bahan peledak yang siap meledak. Rumah ini pun pada dinding, lantai dan atapnya telah diguyur oleh minyak. Maka kita bisa membayangkan apa yang terjadi pada bayi ini jika ia menendang jatuh lilin. seisi rumah akan terbakar.
Dari atas atap, meloncat turun seorang kakek tua berambut kelabu sampai ke pinggang. Tubuhnya yang tegap dan kekar berdiri di atas meja. Dengan menyeringai kecil ia mengangkat bayi yang ada di hadapannya, lalu menimang-nimangnya. Tangannya berwarna hitam sebatas bahu, begitu juga bibirnya. Ia menyeringai, selintas tampak menyeramkan, apalagi dengan kumis dan janggutnya yang dibiarkan tak terurus memanjang. Namun kakek ini adalah seorang sakti golongan putih bernama Pidareh hitam atau pukulan beracun hitam.
Ia meloncat ke atas atap, sembari menggendong anak bayi laki-laki yang sudah berhenti menangis semenjak ia timang-timang tadi. Sewaktu meloncat, ia menendang lilin yang berada di atas meja hingga terjatuh ke baskom yang berisi bubuk bahan peledak. Rumah itu meledak. Namun kakek dan anak kecil yang digendongnya selamat.
“Sabarlah nak.., sekarang kita cari bapak dan ibumu. Semoga saja mereka masih hidup.” Gerakannya begitu cepat, sekali satu kaki memijakkan tanah kaki berikutnya memijakkan tanah sejauh enam langkah. Sungguh ilmu lari yang luar biasa.
Sesampainya di tempat muridnya yang terbaring tak berdaya. Lima mayat bergelimpangan di kiri dan kanan muridnya. Sedang sesosok mayat perempuan menelingkup di atas tubuh muridnya yang kesakitan. Kakek berambut panjang sebahu ini hanya bisa geleng-geleng kepala dan meneteskan sedikit air matanya. Ia melihat muridnya megap-megap mengambil nafas, sedang darah segar terus mengucur.
“Muridku.., apa yang terjadi padamu?”
“Guru.. Kau ada disini guru?”
“Ya aku disini Bahtiar. Kau terkena racun ganas. Kalau tidak salah ini racun jahat kalajengking seribu tahun. Ini.., ini racun dari karih sakti berwarna hitam. Sabarlah nak aku akan serap racunmu.”
Dengan kemampuannya menyerap racun. Datuk Pidareh Hitam memang bisa mengobati muridnya. Tapi ia tak bisa menyangkal, racun ini sudah menyerang jantung Bahtiar alias Datuk Mudo Rajo Alam. Ia meletakkan tangannya tepat di atas dada, tempat tusukan kariah sakti bersarang sebelumnya. Tangannya yang hitam bisa menyerap segala racun. Dengan begitu ia bisa memperingan beban muridnya.
“Muridku.., siapa yang melakukan ini padamu?”
“A.. Aku begini karena Sudin… gu.. ru…, ia ber..ju..luk… se..pa..sang ka..rih sak..ti?”
“Sepasang karih sakti. Jadi tepat dugaanku racun di tubuhmu ini akibat karih sakti berwarna hitam.”
“Gu…ru, ma..ukah kau membantu aku?”
“Apa muridku?” tanya Datuk Pidareh Hitam pada muridnya.
“To..long kau lihat rumahku, apakah masih bisa kau tolong anakku!”
Datuk Pidareh Hitam hanya bisa meneteskan air mata. Anak dari muridnya itu tengah ia gendong. Berarti muridnya itu tak bisa melihatnya sama sekali saat itu. Ia hanya mendengar suaranya saja saat itu.
“Muridku, anakmu sudah ada di tanganku. Usahlah kau merasa khawatir. Perkuat saja dirimu.”
“Bo..lehkah.. a..ku menci..umnya gu..ru?”
Datuk Pidareh Hitam mendekatkan bayi laki-laki itu kepada bapaknya. Dengan bersusah payah Bahtiar alias Datuk Mudo Rajo Alam mengangkat kepalanya dan melekatkan bibirnya ke wajah anaknya. Ia menciumi pipi dan kening anaknya. Darah segar yang keluar dari mulutnya ikut membasahi wajah bayi laki-lakinya.
“Sam..sul.. A..lam.. jadilah engkau a..nak yang ber..gu..na…!” Datuk mudo Rajo Alam kemudian menjatuhkan wajahnya ke tanah. Ia sudah tak bernyawa.
“Muridku..! Percayalah nyawamu akan dibalas dengan nyawanya. Anakmu inilah yang akan melakukannya!”
Datuk Pidareh Hitam kemudian bergegas pergi. Meninggalkan jasad muridnya.
Diposkan oleh Poetih Dekil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar