بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
SEPASANG KARIH SAKTI 7
Matahari siang itu sangat terik sekali. Panasnya udara begitu menyengat. Ketika mereka telah sampai ke persimpangan jalan. Dua pemuda gagah itu terpaksa menghentikan larinya. Dahaga begitu melanda kerongkongan mereka. Namun, sesaat mereka hendak mencari sekedar buah kelapa atau kali dan sumber mata air untuk menghilangkan rasa haus, sayup-sayup terdengar suara derap langkah kuda dan orang-orang yang meronta kesakitan.
“Suara derap kuda.., kau dengar?” seru Sukat Tandika pada Samsul Alam. “Apakah kau dengar juga suara orang yang meronta-ronta minta pertolongan?”
Samsul Alam hanya menganggukkan wajahnya. Ia lalu menunjuk dengan jempolnya dari arah mana suara itu berasal kepada Sukat.
“Ku rasa sesaat lagi mereka tiba di tempat ini. Sebaiknya kita sembunyi saja. Di balik pepohonan rindang sebelah sana. Memperhatikan apa yang melewati jalan ini, rombongan setan atau rombongan sandiwara keliling… Hahaha…”
Kedua pemuda itu lalu meloncat ke atas pepohonan tak jauh dari persimpangan jalan setapak itu. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka langsung berdiri di atas ranting pohon yang kecil. Samsul Alam berdiri sambil menyedekapkan kedua tangan didepan dada, sementara Sukat Tandika tampak cengengesan sembari menggaruk-garuk kepala dan bokongnya.
Selang tak berapa lama, muncul lima orang berkuda dengan pakaian hitam-hitam. Wajah mereka begitu beringas. Menyusul kemudian di belakang rombongan itu tampak dua orang laki-laki tengah diseret-seret secara paksa. Terkadang mereka dicambuk oleh beberapa orang bertubuh besar yang rupa-rupanya anak buah dari orang-orang yang menaiki kuda. Sedang di bagian paling belakang lagi tampak dua kereta kuda terus mengikuti kemana mereka pergi.
“Kita berhenti dulu disini….. Sebelum menghadap angku…” seru seseorang yang berada paling depan. Dilihat dari lagak dan perangainya dia adalah pemimpin dalam rombongan ini. Tubuhnya yang tinggi besar dan kepalanya yang plontos dengan brewok yang menutupi sebagian wajahnya, membuatnya tampak seram. Seluruh rombongan itu berhenti mendengar seruannya. (angku = tuan)
“Kenapa kita berhenti disini Madlin…..? Bukankah kampung kita sebentar lagi sampai.” ucap salah seorang diantara rombongan. Tubuhnya yang kurus pendek tampak tidak serasi dengan kuda yang ditungganginya.
“Bodoh kau Ruslam….!! Sebelum kita sampai, kita bagi-bagi hasil dulu harta yang kita rampas. Kali ini rampasan kita cukup banyak, menurutku Datuk Bangih Pemberang tidakkan tahu bahwa sebagian harta rampasan ini sudah kita ambil dulu sebelumnya. Mengingat lebih dari biasanya.” ucap pemimpin rombongan yang bernama Madlin itu. (Datuk Bangih Pemberang = Datuk Bengis Pemarah)
“Betul itu….. Lebih baik kita ambil saja seperempat dari harta rampasan ini. Lalu kita bagi lima, jika memang ada sisa kita berikan pula kepada anak buah kita. Ingat juga kita membawa tujuh orang gadis cantik-cantik di dalam kereta itu. Apa salahnya kita ambil satu-satu untuk dijadikan gundik. Sisanya dua orang kita berikan kepada angku, ku rasa dua saja cukup untuknya, lagipula dia sudah cukup puas dengan gundik-gundiknya yang puluhan itu.” ucap seseorang lagi, badannya tambun bulat, rambutnya tebal panjang sepunggung, Biji bola matanya yang sebelah kiri tampak menjorok keluar.
“Tidak Sani….. Kau tahu mata-mata angku berada dimana-mana. Kiranya bukan tak mungkin mereka sedang memata-matai kita disini.” ucap Ruslam sembari mengelus-elus kuda betinanya yang tinggi besar.
“Aku dan Tiar setuju dengan Madlin dan Sani, Ruslam. Jika memang ada mata-mata atau pengkhianat diantara kita disini, apakah kita kalah ilmu kepandaian dibandingkan mereka? Ingat kita ini Lima Sekawan Dari Gunung Talang. Jika karena tidak guru kita yang menyerahkan kita untuk patuh terhadap perintah Datuk Bangih Pamberang ku rasa enggan rasanya untuk aku patuh terhadap orang itu.”
“Betul ucap Tian saudaraku.” ucap orang disebelahnya. Mereka berdua tampak mirip satu sama lain. Hanya yang satu berkumis tipis sedang yang satu lagi tampak klimis.
“Ingat kita patuh terhadap Datuk itu dikarenakan ada tugas yang menanti kita. Lalu kenapa harus takut terhadap anak-anak buah Datuk itu. Ingat Ruslam, jangan kau buat gentar hatimu.”
Mendengar ucapan dari sahabat-sahabatnya Ruslam lalu berpasrah diri. Ia hanya menunduk sembari mengelus-elus rambut kuda betina coklatnya yang lebih besar diantara kuda yang lain. Sangat tak sebanding dengan tubuhnya yang kurus tinggal tulang dan pendek.
“Kalau begitu berikan kepadaku harta bagianku nanti. Sedang perempuan, aku tak tertarik kepada mereka. Ambillah jatahku untukmu Madlin. Sebentar, biarlah aku dan kuda kesayanganku si Bungo ini….” ujar Ruslam. Ia lalu beranjak dari tempat itu bersama kudanya yang berlari kencang.
Di balik persembunyiannya, Sukat Tandika menahan tawanya. Ranting pohon yang bergetar membuat Samsul Alam tersadar ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
“Ada gerangan apa Sukat? Mengapa engkau geli menahan tawa?”
“Samsul begitu bodohnya kah engkau sehingga tak tahu apa yang akan dilakukan laki-laki pendek kurus yang berkuda gemuk tadi. Dia menunggangi kudanya dengan cepat-cepat karena ingin menungganginya… pengunggang menunggangi yang ditungganginya…. Hahahahaha”
“Bukankah kuda memang ditunggangi penunggangnya.,,,,,??” Samsul Alam bertanya keheranan.
“Sahabatku yang polos… Tunggulah aku disini…. Susah jika harus menjelaskan kepadamu. Lebih baik kau melihat sendiri apa yang kumaksud mengunggangi itu… Hahahaha”
Tanpa membiarkan Samsul Alam berkata, Sukat Tandika bergegas dari tempat itu. Ilmu meringankan tubuhnya yang cukup tinggi membuat dia tampak ringan meloncati ranting-ranting pohon. Dari arah tujuannya, Tahulah Samsul Alam kemana temannya itu pergi. Mengejar lelaki kurus kering pendek yang menunggangi kuda besar. Urusan menunggangi inilah yang tidak diketahui maksudnya oleh Samsul Alam.
Diperhatikannya kembali rombongan yang berada di hadapannya.
Mereka berempat lalu mengambil satu peti dari dalam salah satu kereta yang berada di depan. Madlin membuka peti harta itu. Tampaklah berbagai perhiasan emas dan permata. Mereka berempat lalu membagi-bagi harta itu menjadi lima dan sedikit sisa untuk anak-anak buah mereka. Seperlima bagian masing-masing mereka kantungi, sedang bagian Ruslam dikantungi oleh Madlin.
Kemudian mereka membopoh masing-masing seorang gadis dari dalam kereta yang satunya. Dalam keadaan terikat tangan dan kaki gadis-gadis itu sebenarnya memberontak. Tapi apa daya, kemampuan mereka tak sanggup mengalahkan nafsu bejat dari para lelaki yang bertubuh besar-besar dan kokoh itu. Hanya teriakan dan tangisan yang dapat terdengar. Teriakan minta tolong dan tangisan untuk minta dilepaskan.
Melihat hal ini Samsul Alam merasa geram. Namun baru saja ia hendak turun tangan untuk membantu gadis-gadis itu. Dari balik semak di sekeliling rombongan itu muncul puluhan orang berpakaian hitam-hitam yang juga menyerupai pakaian Madlin dan sahabat-sahabatnya. Puluhan orang itu muncul secara tiba-tiba dengan mengenakan penutup wajah, dan mengurung Madlin serta anak-anak buahnya.
“Siapa kalian….? Jawab….!!!” seru Madlin bertanya. Dia tengah membopong dua orang gadis dalam gendongannya saat itu.
“Lancang kau bertanya kepada kami Madlin. Setelah apa yang kau dan teman-teman serta anak buahmu perbuat. Ku rasa kau tahu siapa kami. Segera kau kembalikan gadis-gadis itu dan harta rampasan yang telah kalian kantungi, jika ingin nyawa kalian tetap berada di badan.”
Karena berang, Madlin melempar dua orang gadis dam gendongannya. “Berani benar kalian berkata begitu. Terima hantamanku…!!” seru Madlim sambil menyerang.
Melihat sahabatnya mengambil tindakan, maka ketiga orang sahabatnya yang lain membantu Madlin. Sedang anak-anak buahnya, karena telah mendapat sedikit harta dari atasannya mereka mau tak mau mengucapkan terima kasih dengan cara membantu masuk ke dalam kalangan pertempuran.
Empat orang dari Lima Sekawan Gunung Talang ternyata tak bisa dianggap enteng. Puluhan orang berpakaian hitam-hitam yang mengurung mereka ternyata tak sanggup menandingi kedalaman dan kesaktian ilmu mereka. Mereka tampak kewalahan menghadapi gempuran Madlim dan teman-temannya. Sebagian diantara mereka bahkan sudah ada yang putus nyawanya akibat serangan Madlin dan kawan-kawannya.
Dari balik persembunyiannya, Samsul Alam sebenarnya ingin membantu orang-orang yang sedang berusaha mengalahkan Madlin. Dia tak suka cara Madlin dan sahabat-sahabatnya memperlakukan wanita. Namun ia tak mengenal siapa pasukan bertopeng yang sedang melawan Madlin dan sahabat-sahabatnya. Ia tak tahu apa tujuan mereka. salah-salah ia bukannya membantu pihak yang benar, malah ikut membantu orang-orang yang lebih jahat dan beringas. Maka ia membatalkan niatnya untuk keluar dari tempat ia bersembunyi.
Sesaat Madlin hendak membunuh untuk kesekian kalinya, ketika ia hendak menghancurkan batok kepala lawannya hingga rengkah. Ketika itu pulalah lusinan pisau terbang memburunya. Madlin yang saat itu tengah lengah, hampir saja terkena pisau-pisau kecil yang terbang ke arah perut, dada dan kepalanya, jika saja sahabatnya kembar Tian dan Tiar tak datang membantu. Mereka terbang laksana angin yang bergerak menyilang. Tanpa bisa dilihat oleh mata telanjang mereka sudah menangkap pisau-pisau terbang itu.
“Ada yang berusaha membunuhmu kakak!” ucap Tian.
“Untung kami bisa membantu!” lanjut Tiar.
“Siapa yang berani membunuhku dari belakang…..!” seru Madlin. Wajahnya yang berang tampak berubah menyeramkan, biji matanya kelihatan memerah. urat-urat yang ada di dalam tubuhnya bermunculan berwarna hijau.
“Rupa-rupanya begini kelakuan lima sekawan dari gunung Talang. Kalian berlagak seperti anjing-anjing yang setia pada majikannya. Sebenarnya kalian sendiri bermaksud hendak mencelakakan majikan kalian.” ucap seseorang tua yang juga mengenakan baju hitam-hitam, rambut dan janggutnya yang panjang berwarna putih agak kelabu.
“Mamak sati….. Kau bermaksud kurang ajar kepadaku…. Hah…” Madlin mendekati orang tua itu. Dari sikapnya orang yang tinggi besar itu hendak membunuh orang tua di hadapannya.
“Tunggu…!” salah seorang diantara lima sekawan dari gunung Talang yang berperut buncit dan bermata sebelah kiri hendak meloncat keluar mencegah Madlin. “Kau redakan dulu amarahmu wahai sahabatku Madlin.”
“Kenapa kau melarangku membunuh orang tua bau tanah ini Sani?”
Sani berbisik-bisik kepada Madlin. Mendengar bisikan sahabatnya seketika itu pula hati Madlin merasa senang. Ini bisa dilihat dari biji matanya yang kembali memutih dan urat-urat yang menonjol pada tubuhnya seketika itu pula tak lagi timbul.
“Orang tua bernama Sati…, sebaiknya kami tetap memanggilmu mamak, agar lebih sopan dan nikmat didengar.” Sani menghampiri mamak Sati.
“Begini mamak.., maksud kami bukan hendak berniat jahat kepadamu. Lebih baik engkau bergabung saja dengan kami. Kami akan menghormatimu sebagai orang tua. Kami akan menjadikanmu sebagai penasihat kami. Kau tidak akan diperlakukan begini rupa, seperti gundik oleh keponakanmu sendiri.”
Ucapan dari Sani sebenarnya meresap ke dalam hati dan jiwa mamak Sati. Betapa tidak, di usia tuanya ia masih saja dijadikan gundik oleh keponakannya sendiri. Tak jarang keponakannya mendamprat bahkan menurunkan tangan kepadanya. Hatinya sebenarnya ingin sekali pergi meninggalkan keponakannya. Seandainya saja ia tak pernah berjanji untuk selalu mendampingi keponakannya itu.
“Bagaimana mamak? Pikirkanlah, bukan hanya engkau merasa lepas dengan kekurang ajaran keponakanmu. Tapi kau hanya tinggal duduk-duduk saja. Tugasmu adalah hanya menasihati kami yang muda-muda ini dalam bertindak. Sebagai rampok dan semoga sebagai penguasa para rampok, begal dan penjahat seperti keponakanmu saat ini.”
Sani menunduk. Terbayang olehnya adik perempuannya yang telah meninggalkan dunia puluhan tahun yang silam. Ia telah berjanji. Keponakannya seperti ini karena kesalahan ia juga. Karena dialah keponakannya itu tak tahu budi, tak tahu berterima kasih. Ialah yang menjerumuskan keponakannya itu masuk ke dalam lembah hitam, ke dalam dunia para panjahat.
ciih….., mamak Sati membuang air liurnya ke tanah.
“Bagiku.., sama sekali tak pernah aku mengkhianati seseorang. Apalagi orang itu keponakanku sendiri. Sejahat apapun ia padaku. Ia adalah pimpinanku. Justru kalianlah yang harus mati di tanganku.”
Orang tua itu meloncat ke belakang, sembari meloncat rupa-rupanya ia mengirim lusinan pisau terbang menuju empat orang lima sekawan dari gunung Talang.
“Bangsat….. minta mati kau rupanya orang tua…!” Sani yang meloncat menghindar dan mempersiapkan pukulan balasan tak bisa mengelak. Beberapa buah pisau menancap di punggung dan pinggangnya. Dengan marah ia melempar batang pohon besar yang ada di dekatnya ke arah mamak Sati.
Mamak Sati hampir saja terkena serudukan batang pohon besar yang tertuju kepadanya, jika saja entah mengapa batang pohon itu berbelok arah. Seperti ada yang menahan laju atau memukul batang pohon itu. Tanpa sepengetahuan orang-orang yang hadir disitu sebenarnya Samsul alamlah yang telah merubah laju pohon itu, dengan jurus putaran angin menyerbu angkasa yang dimilikinya.
Tian dan Tiar yang gerakannya seperti angin, dengan lincah menangkap sisa-sisa pisau yang masih memburu. Sedang Madlin yang melihat sahabatnya Sani terluka akibat tusukan pisau segera menghampiri sahabatnya tersebut. Madlin begitu heran sekujur tubuh Sani telah berubah menjadi hijau. Racun jahat telah menyebar begitu cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Nyawanya takkan tertolong lagi.
“Madlin…. bunuhlah aku.. Aku enggan hidup berlama-lama.” Sani berbicara dengan nafas yang begitu berat.
“Harap maafkan aku saudaraku…..” Madlin lalu memecahkan batok kepala Sudin dengan remasan tangannya. Tian dan Tiar hanya bisa menatap kematian sahabatnya dengan tatapan yang kosong. Sedang anak-anak buah mereka dan mamak Sati serta pasukannya, menatap bergidik melihat cara Madlin mempercepat kematian sahabatnya.
“Gila betul…. orang itu bukan manusia..” Samsul Alam membatin di balik persembunyiannya.
Suasana masih begitu hening untuk sesaat. Madlin hanya bisa menatap tajam pada mamak Sati yang berdiri di hadapannya. Ia telah begitu marah, kebencian talah menguasai dirinya. Biji matanya kembali memerah, urat-urat kembali bertonjolan di sekujur tubuhnya. Terdengar bunyi gemeretakan dari gigi-gigi dan tulang kepalan tangannya. Orang yang bertubuh seperti raksasa itu menghampiri mamak Sati.
Namun beberapa langkah Madlin terhenti, oleh suara ringkikan kuda dan orang minta tolong. Tampak dari balik-balik semak, agak jauh, Ruslam berdiri di belakang kuda coklat besarnya yang berlari. Sambil berteriak-teriak dan minta tolong. Begitu sampai di tempat dimana Madlin berdiri, karena hawa kebencian dan ingin membunuh telah menguasai diri, lekas saja kuda itu dipukul oleh tangannya. Tak ayal kuda itu terlempar beberapa tombak dengan si penunggangnya, Ruslam.
Ruslam yang bertubuh kurus kering ikut terpelanting mengikuti kudanya. Sekujur tubuhnya yang hanya tinggal kulit pembungkus tulang saja luka-luka karena terseret-seret. Kenapa ia tak bisa melepaskan diri dari kudanya. Ini juga yang membuat semua orang di tempat itu terperangah. Kemaluannya tertancap pada kemaluan kuda. Ia bahkan dalam keadaan setengah bertelanjang.
Bukannya malu, atau merasa risih karena dilihat oleh banyak orang dalam keadaan begitu rupa. Ruslam malah menangisi kematian kudanya yang pecah kepalanya karena hantaman Madlin. “Bungo kenapa kau meninggalkan abang Bungo? Kenapa engkau bertindak begini rupa ketika kita sedang bercinta. Tengoklah Bungo aku sedang mengawinimu.” isaknya saat itu.
Samsul Alam yang saat itu berdiri di atas ranting-ranting pohon di balik dedaunan hanya bisa tersenyum.
“Kini kau mengerti maksudku menunggangi kuda miliknya sendiri Samsul…. Hahahaha..” Sukat Tandika ternyata telah berada di sampingnya. “Rupa-rupanya si krempeng itu ingin punya anak dari kudanya….. entah bagaimana bentuk anaknya…. bentuk manusia … atau bentuk kuda….. atau bisa jadi manusia kuda…. Hahahahaha…”
“Apa yang kau lakukan dengan orang itu Sukat?” tanya Samsul Alam.
“Sama seperti saat aku mengerjaimu di telaga gunung Merapi sana. Kau ingat? Tapi kali ini ku lilit pinggang si krempeng itu dengan pinggang kuda dengan benang khayanganku, saat mereka sedang bulan madu. Saat mereka sedang bercumbu… Hahahahahaha…”
“Mereka masih juga tidak menyadari. Hingga hilang kesabaranku. Saat mereka sedang dipuncak-puncaknya. Aku sentil pantat kuda dengan batu. Kuda itupun berlari dengan pengantinnya. Itulah yang dinamakan kawin lari Samsul…. Hahahhaaha….”
Di lain tempat.
“Kau sudah gila Ruslam! Segera kau lepaskan kemaluanmu dari kuda itu.” Madlin berkata berang pada Ruslam.
“Mauku-pun begitu Madlin. Tapi Bungo seakan enggan melepasku. Dia ingin selalu bersamaku sampai akhir hidupnya. Oh Bungo…, kenapa engkau mati sebelum kita mencapai puncak birahi.”
“Dasar gila…” Madlin lalu menangkap pergelangan kaki Ruslam. Lalu menariknya, namun tak bisa. kekuatan apa yang telah mengikat sahabatnya dengan kuda ini. Apakah benar kuda ini tak rela jika lepas dari sahabatnya? Madlin berusaha semakin kuat. Dengan tenaga luar tak bisa. Ia kerahkan pula tenaga dalamnya. Mula-mula hanya seperempat, lalu separuh, tak bisa juga ia mengerahkan seluruh tenaga dalam dan luarnya.
Saat itulah Sukat Tandika alias pendekar gila patah hati, melepaskan benang khayangan yang tel n jatuh kepala dibawah kaki ke atas, sedang ia sama sekali tak memakai bawahan.
“Siapa yang sedari tadi mengerjaiku dan sahabat-sahabatku….? Jangan hanya berani bersembunyi!” Madlin berteriak, sambil menoleh ke berbagai arah.
“Sepertinya kita harus turun Samsul….” ucap Sukat Tandika.
Pendekar yang mengenakan pakaian putih-putih itu meloncat turun. Ia berdiri tepat di hadapan Madlin yang saat itu sudah tampak begitu angker. Bukannya tampak ngeri atau takut, Sukat malah tertawa-tawa melihat tampang Madlin.
Melihat sahabatnya turun. Samsul Alam pun ikutan turun. Ia menatap Madlin dengan tatapan yang tajam.
“Kalian berdua mencari mati rupanya….”
“Rupa-rupanya mati sejenis harta terpendam yang harus dicari-cari… Hahahaha… Seberapakah harganya, apakah sebanyak isi harta yang kau mau curi dari majikanmu sendiri? Hahahaha…. Kalau hanya segitu buat apa kami mencarinya….. Hahahahaha…”
“Kalempong diang……..” Madlin langsung menyerbu Sukat. Hantaman tangannya menuju kepala pendekar gila patah hati. (Kalempong diang = hinaan, kemaluan pria kamu)
Sukat yang menguasai jurus orang gila malah seperti mengerjai Madlin. Setiap pukulan dan hantaman yang ditujukan kepadanya tak pernah mengenai sasaran. Karena gerakan-gerakan yang aneh dan layaknya orang gila, ia bergerak kesana kesini. Sedang Madlin semakin ia tak bisa menghantam tubuh lawannya, semakin marahlah dia. Nafsu membunuh menguasai diri, tenaganya bukannya habis malah semakin berlipat-lipat ganda.
Sedang Samsul Alam, hanya memperhatikan saja pertarungan antara Madlin dan sahabatnya Sukat Tandika. Ketika pertarungan semakin seru, mamak Sati dan anak buahnya menuju dua kereta kuda. Mereka bermaksud melarikan kereta kuda itu menuju kediaman Datuk Bangih Pamberang, majikannya. Karena Samsul Alam tak punya silang sengketa dengan mereka, ia membiarkan saja orang tua itu dan para anak buahnya bergegas dari tempat celaka itu.
Tapi seketika mamak Sati bergegas menuju kereta. Entah bagaimana dua orang kembar, Tian dan Tiar sudah berdiri di atas masing-masing kereta kuda di hadapannya. Mamak Sati melancarkan serangan pisau terbangnya kepada dua orang itu. Namun, gerakan kedua orang kembar itu seperti angin mereka dapat menepis dari serangan pisau. Bahkan beberapa pisau dapat mereka tangkap dan mereka kembalikan kepada mamak Sati.
Orang tua itu tak kalah cepat ia dapat melompat mundur dari serangan pisau. Samsul Alam hanya dapat berdiri kagum melihat kegesitan orang tua itu. Melihat rambut dan janggut putih kelabu sang orang tua, ia mengingat gurunya sendiri, Datuk Pidareh Hitam. Namun tak berlangsung lama, mamak Sati sudah dibuat kewalahan oleh dua orang kembar Tian dan Tiar. Hantaman ke arah wajah dan dada bersarang di tubuh orang tua itu. Darah segar muncrat dari hidung dan telinga.
Samsul Alam yang tidak tega dengan keadaan sang orang tua, masuk ke dalam kalangan pertempuran. Ia menangkis serangan pukulan Tiar dan ia menendang lutut Tian yang hendak mencelakakan mamak Sati.
“Bangsat, cari mati kau rupanya….” seru Tiar kepada Samsul.
“Kau rasakan pukulanku….” Tian berusaha menyarangkan pukulan ke dada Samsul Alam.
Ia telah terbiasa melawan jurus-jurus yang cepat sekalipun. Keenam datuk harimau telah menggemblengnya ketika ia berada dalam hutan gunung Singgalang. Ia menepis serangan-serangan Tian dan Tiar yang seperti angin dengan mudahnya. Tangannya yang dialiri tenaga dalam, memancarkan aliran listrik seperti kilat-kilat kecil.
Ia menangkap lengan Tian dan kaki Tiar. Lalu mengalirkan listrik kepada keduanya. Mereka berdua terperonjak. Dan terjatuh beberapa tombak. Darah segar keluar dari mulut keduanya.
“Terimalah ini keparat…..” seru Tian.
“Kau tak akan kami biarkan hidup…” ucap Tiar.
“Dua iblis memporak-porandakan surga.” mereka menyerang Samsul Alam secara bersamaan, serangkum angin menerpa Samsul Alam dari kedua sisi kanan dan kiri.
Samsul Alam membalas serangan ini dengan jurus putaran angin menyerbu angkasa miliknya. Angin melawan angin. Tapi angin yang keluar dari jurus yang dimiliki Samsul Alam tak seperti kedua orang yang menyerangnya. Kilatan listrik ikut serta dalam serangkum pukulannya. Tak ayal Tian dan Tiar meregang nyawanya. Keduanya tampak gosong. oleh pukulan Samsul Alam.
Sedang di kalangan lain. Sukat Tandika lama-lama kepayahan juga menghadapi Madlin. Tenaga orang itu seakan takkan pernah habis, sedang ia yang bergerak kesana kesini dengan jurus orang gila semakin lelah saja. Tak tunggu lebih lama, ia menghantam perut Madlin dengan ilmu pukulan dewa topan menggusur gunung. Madlin pun terperosok jatuh. Dengan memuntahkan darah segar. Tulang iganya patah di beberapa bagian. Namun pantang bagi Madlin untuk menyerah. Dengan sekuat tenaga ia bangkit berdiri.
Tapi apa yang terjadi, belum sempat Madlin berdiri, sesosok tubuh meloncat ke arahnya. Meremas muka Madlin dengan dua tangannya. Kilatan listrik berbentuk cakar menghancurkan wajah dan kepala itu.
“Graaaaaummmm………………..” Samsul Alam menggereng bak harimau. Madlin mati dengan kepala rengkah dan tak berbentuk lagi.
Diposkan oleh Poetih Dekil
ah melilit pinggang Ruslam dan kudanya. Tak ayal, Madlin yang menarik dengan sekuat tenaga, baik dalam maupun luarnya, terpelanting beberapa langkah. Bagus bagi Madlin, ia masih bisa mengontrol jatuhnya. Sedang Ruslam, tubuhnya yang ringan membuat ia terpelanting cukup jauh. Ia menabrak sebuah batu besar, tepat di bagian kepala. Yang sungguh lucu tubuhnya seakan jatuh kepala dibawah kaki ke atas, sedang ia sama sekali tak memakai bawahan.
“Siapa yang sedari tadi mengerjaiku dan sahabat-sahabatku….? Jangan hanya berani bersembunyi!” Madlin berteriak, sambil menoleh ke berbagai arah.
“Sepertinya kita harus turun Samsul….” ucap Sukat Tandika.
Pendekar yang mengenakan pakaian putih-putih itu meloncat turun. Ia berdiri tepat di hadapan Madlin yang saat itu sudah tampak begitu angker. Bukannya tampak ngeri atau takut, Sukat malah tertawa-tawa melihat tampang Madlin.
Melihat sahabatnya turun. Samsul Alam pun ikutan turun. Ia menatap Madlin dengan tatapan yang tajam.
“Kalian berdua mencari mati rupanya….”
“Rupa-rupanya mati sejenis harta terpendam yang harus dicari-cari… Hahahaha… Seberapakah harganya, apakah sebanyak isi harta yang kau mau curi dari majikanmu sendiri? Hahahaha…. Kalau hanya segitu buat apa kami mencarinya….. Hahahahaha…”
“Kalempong diang……..” Madlin langsung menyerbu Sukat. Hantaman tangannya menuju kepala pendekar gila patah hati. (Kalempong diang = hinaan, kemaluan pria kamu)
Sukat yang menguasai jurus orang gila malah seperti mengerjai Madlin. Setiap pukulan dan hantaman yang ditujukan kepadanya tak pernah mengenai sasaran. Karena gerakan-gerakan yang aneh dan layaknya orang gila, ia bergerak kesana kesini. Sedang Madlin semakin ia tak bisa menghantam tubuh lawannya, semakin marahlah dia. Nafsu membunuh menguasai diri, tenaganya bukannya habis malah semakin berlipat-lipat ganda.
Sedang Samsul Alam, hanya memperhatikan saja pertarungan antara Madlin dan sahabatnya Sukat Tandika. Ketika pertarungan semakin seru, mamak Sati dan anak buahnya menuju dua kereta kuda. Mereka bermaksud melarikan kereta kuda itu menuju kediaman Datuk Bangih Pamberang, majikannya. Karena Samsul Alam tak punya silang sengketa dengan mereka, ia membiarkan saja orang tua itu dan para anak buahnya bergegas dari tempat celaka itu.
Tapi seketika mamak Sati bergegas menuju kereta. Entah bagaimana dua orang kembar, Tian dan Tiar sudah berdiri di atas masing-masing kereta kuda di hadapannya. Mamak Sati melancarkan serangan pisau terbangnya kepada dua orang itu. Namun, gerakan kedua orang kembar itu seperti angin mereka dapat menepis dari serangan pisau. Bahkan beberapa pisau dapat mereka tangkap dan mereka kembalikan kepada mamak Sati.
Orang tua itu tak kalah cepat ia dapat melompat mundur dari serangan pisau. Samsul Alam hanya dapat berdiri kagum melihat kegesitan orang tua itu. Melihat rambut dan janggut putih kelabu sang orang tua, ia mengingat gurunya sendiri, Datuk Pidareh Hitam. Namun tak berlangsung lama, mamak Sati sudah dibuat kewalahan oleh dua orang kembar Tian dan Tiar. Hantaman ke arah wajah dan dada bersarang di tubuh orang tua itu. Darah segar muncrat dari hidung dan telinga.
Samsul Alam yang tidak tega dengan keadaan sang orang tua, masuk ke dalam kalangan pertempuran. Ia menangkis serangan pukulan Tiar dan ia menendang lutut Tian yang hendak mencelakakan mamak Sati.
“Bangsat, cari mati kau rupanya….” seru Tiar kepada Samsul.
“Kau rasakan pukulanku….” Tian berusaha menyarangkan pukulan ke dada Samsul Alam.
Ia telah terbiasa melawan jurus-jurus yang cepat sekalipun. Keenam datuk harimau telah menggemblengnya ketika ia berada dalam hutan gunung Singgalang. Ia menepis serangan-serangan Tian dan Tiar yang seperti angin dengan mudahnya. Tangannya yang dialiri tenaga dalam, memancarkan aliran listrik seperti kilat-kilat kecil.
Ia menangkap lengan Tian dan kaki Tiar. Lalu mengalirkan listrik kepada keduanya. Mereka berdua terperonjak. Dan terjatuh beberapa tombak. Darah segar keluar dari mulut keduanya.
“Terimalah ini keparat…..” seru Tian.
“Kau tak akan kami biarkan hidup…” ucap Tiar.
“Dua iblis memporak-porandakan surga.” mereka menyerang Samsul Alam secara bersamaan, serangkum angin menerpa Samsul Alam dari kedua sisi kanan dan kiri.
Samsul Alam membalas serangan ini dengan jurus putaran angin menyerbu angkasa miliknya. Angin melawan angin. Tapi angin yang keluar dari jurus yang dimiliki Samsul Alam tak seperti kedua orang yang menyerangnya. Kilatan listrik ikut serta dalam serangkum pukulannya. Tak ayal Tian dan Tiar meregang nyawanya. Keduanya tampak gosong. oleh pukulan Samsul Alam.
Sedang di kalangan lain. Sukat Tandika lama-lama kepayahan juga menghadapi Madlin. Tenaga orang itu seakan takkan pernah habis, sedang ia yang bergerak kesana kesini dengan jurus orang gila semakin lelah saja. Tak tunggu lebih lama, ia menghantam perut Madlin dengan ilmu pukulan dewa topan menggusur gunung. Madlin pun terperosok jatuh. Dengan memuntahkan darah segar. Tulang iganya patah di beberapa bagian. Namun pantang bagi Madlin untuk menyerah. Dengan sekuat tenaga ia bangkit berdiri.
Tapi apa yang terjadi, belum sempat Madlin berdiri, sesosok tubuh meloncat ke arahnya. Meremas muka Madlin dengan dua tangannya. Kilatan listrik berbentuk cakar menghancurkan wajah dan kepala itu.
“Graaaaaummmm………………..” Samsul Alam menggereng bak harimau. Madlin mati dengan kepala rengkah dan tak berbentuk lagi.
Diposkan oleh Poetih Dekil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar