AKHASIE *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* AKHASIE

Rabu, 18 Maret 2015

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa ApiI 4

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ


SEPASANG KARIH SAKTI  bagian    4


Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api 

“Hiiaaaaaaatt…..” seorang pemuda menangkis serangan seekor harimau besar. Di sekelilingnya ada lima ekor harimau lainnya yang tampak garang menunggu giliran.
Pemuda itu berambut panjang sebahu. Rambutnya yang lurus berderai halus, menyerupai rambut perempuan, dengan poni yang melintang menyamping kebawah kiri hampir menutupi mata kirinya. Tubuhnya yang tinggi tegap dan kekar, tampak begitu kurus dan menampakkan ruas-ruas tulangnya yang kokoh. Pada kuku-kuku jemari tangannya yang berwarna hitam keluar percikan-percikan listrik kecil. Pada wajahnya yang tampan itu tumbuh janggut tipis di dagu. Cambangnya yang memanjang ke sebagian pipi, menambah kerupawanannya. Alis-alisnya menyambung dan panjang tebal. Pemuda itu mengenakan selembar kain rusa untuk menutupi auratnya sebatas pusar sampai ke lutut kaki.

Begitu terus menerus semua harimau itu menyerangnya. Pemuda itu ingat betul seorang tua dengan seekor harimau putih besar membawanya ke hutan ini. Meninggalkannya bersama harimau-harimau ini. Sejak pertama kali ia ditinggalkan sendiri, harimau-harimau besar ini sudah menyerangnya bertubi-tubi dan tak henti-henti. Namun ia merasakan, terjadi keanehan yang ia alami. Semula ia berpendapat harimau-harimau itu hendak mencelakainya. Namun tak satupun luka sampai saat ini ia dapatkan dari serangan-serangan harimau-harimau ini. Malah setiap gerakan silat yang ia pakai untuk menangkis, berkilah dan menyerang semakin lihai dan banyak saja.
Harimau-harimau ini seperti memiliki perasaan dan pikiran. Itu pula yang ia tak habis pikir sampai saat ini. Mereka berhenti menyerangnya, ketika waktu untuk menunaikan sholat wajib telah tiba. Salah seekor harimau pasti mengaum keras diatas bebatuan itu berkali-kali dan menggema ke seluruh hutan. Lalu mereka menyuruhnya ke sungai yang tak jauh dari tempat ini, untuk membasuh tubuhnya, mengambil air wudhu. Setelah itu mereka berbaris di belakangnya, dan menjadikan ia imam sholat berjama’ah.
Begitupun ketika pakaiannya sudah tak mencukupi besar tubuhnya lagi. Mereka membawa beberapa lembar kulit rusa yang telah bersih, tak bernoda darah. Untuk ia pakai menutupi auratnya. Terkadang beberapa lembar kulit rusa terdapat tulisan, yang ia tahu adalah wahyu dari Tuhannya, Allah sang Robbul Alamin. Ia tahu betul harimau-harimau itu menyuruhnya untuk membacanya. Mereka duduk berbaris di hadapannya, menikmati lantunan merdu nyanyian surga.
Ia sudah menganggap harimau-harimau itu saudaranya sendiri. Ia bahkan menamai mereka. Yang herannya lagi, mereka menyahut ketika ia panggil dengan nama pemberiannya. Harimau besar kuning dengan luka di jidatnya, ia panggil Rajo. Ialah pemimpin keenam ekor harimau ini, mereka menurut padanya. Dua ekor harimau yang selalu berdiri berdampingan adalah sepasang jantan dan betina Zul dan Siti. Seekor harimau disamping kirinya dengan tubuh kurus dan ramping bernama Ujang, dialah yang paling lihai gerakannya.
Harimau di samping kanannya, bernama Buyung, Ekornya yang panjang merupakan senjata, selain cakarnya. Harimau di belakangnya bernama Sanusi loreng hitam pada tubuhnya terlihat penuh dan panjang. Dan yang terakhir itu bernama Upik, harimau betina yang kerjaannya menjilati wajah saja. Kembali dia waspada terhadap serangan berikutnya.
“Huup…” Pemuda berambut halus panjang itu menangkap pergelangan tangan harimau bernama Buyung. Lalu membanting punggungnya sendiri ke tanah, lalu menendang bagian perut harimau itu, hingga terpental ke udara.
Dalam keadaan tertidur telentang seperti itu Zul dan Siti loncat dan menyerang ke bagian perutnya dari arah yang berlawanan. Zul mengeluarkan tenaga listrik dari kedua tangannya. Dan mementalkan dua larik sinar listrik ke bagian pinggang dua harimau yang menyerangnya. Siti dan Zul terpental jauh, kesempatan ini dipakai pemuda itu untuk bangkit berdiri, sebelum harimau-harimau lain menyerangnya.
Ia memasang kuda-kuda rendah, namun agak asing terlihat, kedua siku kaki terlipat hampir bersentuhan dengan tanah. Kedua tangan ia kembangkan, membentuk cakaran. Ia persis seperti seekor harimau yang hendak menerkam musuhnya. Setidaknya terlihat senyuman garang seekor harimau, dan mata tajam seekor harimau yang menyalang.
Rajo harimau terbesar menyerangnya. Harimau itu meloncat dari ancang-ancang tubuh yang begitu rendah dan dekat sekali dengan tanah. Namun loncatannya begitu tinggi, dua kali tinggi tubuh manusia. Dari kuda-kuda yang rendah, pemuda bertubuh kurus itupun meloncat tinggi. Mereka saling hantam dan mencakar di udara. Hampir saja sebuah cakaran mapir ke bagian bawah perut pemuda itu, jika ia tidak meloncat jungkir balik, dan menjadikan pundak Rajo sebagai pijakan tangannya. Dengan kedua tangannya itupula ia mencengkram bagian persendian pundak Rajo, hingga terdengar bunyi, “krakk….” setidaknya dua tulang pada persendian itu pecah.
Namun anehnya, Rajo tetap berdiri tegak, memperhatikannya dengan mata binatangnya yang buas.
Dia ingat betul hampir semua jurus yang diajarkan padanya. Dia semakin mengetahui bahwa tenaga dalam dan ilmu jarak jauh tidak begitu berguna jika ia manfaatkan terus menerus. Enam ekor harimau ini mengajarkannya pertempuran jarak pendek yang betul-betul menguras tenaga. Tenaga dalam hanya ia gunakan pada saat-saat akhir saja, ia lebih mengutamakan ilmu mengentengi tubuh dan otak. Ya otaknya harus berkerja sangat cepat, sebelum harimau-harimau ini dapat melukai tubuhnya.
Dalam keadaan masih mengatur nafas, ia memperhatikan keenam ekor harimau yang mengitarinya dan membentuk lingkaran. Semakin lama mereka semakin dekat. Buyung, Siti dan Zul membentuk kuda-kuda rendah. Ia tak tahu kini, apakah mereka akan menyerang bersamaan. Dari kuda-kuda yang rendah itulah letak pengecohnya. Karena pada kuda-kuda yang rendah lawan bisa mengincar bagian tubuhnya yang mana saja. dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Sedangkan Rajo, Sanusi dan Upik hanya menggeram berdiri tegap pada posisi mereka masing-masing. Berarti mereka mengincar bagian tubuh tengahnya atau menunggu sampai ia membuat gerakan selanjutnya. Pemuda ini mengalirkan seperempat tenaga dalamnya ke bagian kaki yang sudah ditekuk menjadi kuda-kuda yang rendah. Lalu seperempat lagi ke kedua tangannya, kilatan listrik menyala-nyala keluar dari kedua belah tangan sebatas siku. Ia membuat sebuah gerakan tangan yang dikembangkan lalu berputar-putar. Kita ingat ini adalah jurus Putaran Angin Menyerbu Angkasa, sebuah ilmu pukulan yang bisa digunakan sebagai benteng pertahanan dikala diserang musuh.
Siti dan Zul menyerang bagian bawah tubuhnya, mereka bergerak bersamaan dengan Buyung yang meloncat tinggi dengan garang. Cakar-cakar mereka yang tajam dapat merobek apapun juga, Pemuda itu berteriak mengerang, lalu menendang rendah membentuk kitiran ke arah wajah-wajah Siti dan Zul. Sedang tangannya yang siap memukulkan jurus Putaran Angin Menyerbu Angkasa ia pentangkan ke arah dada Buyung. Tak ayal Buyungpun terpental jatuh.
Namun Sanusi telah menyerangnya dari kiri dan Upik ikut menyerangnya dari kanan. Pemuda itu meneruskan kitiran tendangannya ke arah Sanusi yang ia rasa lebih jauh darinya. Sedang Upik, ia mennyikut wajah harimau betina itu, lalu menangkap kepalanya, dan mencekik lehernya dengan bagian siku tangannya lalu ia puntir memutar.
Serangan belum terhenti, ternyata Rajo sudah siap diatas tubuhnya, mencakar bagian dadanya.
“Aaaaaargh……………..” teriaknya keras, selama ini harimau-harimau ini tak pernah menyakitinya. Namun kali ini mereka bisa membuatnya terluka.
Harimau-harimau itu mencakarnya bergantian. Yang ia rasakan sakit menjulur dari dada kiri bagian atas menurun sampai seperempat bagian perutnya, Namun bukan hanya rasa sakit yang ia dapatkan tapi juga hawa panas yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Meski seluruh badannya telah basah oleh darah yang keluar dari dalam tubuhnya sendiri.
Tubuhnya yang sudah lemas bermandikan merahnya darah lalu kembali merasakan tenaganya perlahan-lahan mulai pulih. Harimau-harimau itu menjilati luka dan darah yang menutupi dada dan perutnya. Jilatan-jilatan itu mengirimkan tenaga masuk ke dalam tubuhnya. Hawa panas yang disebabkan oleh luka itu perlahan-lahan hilang menjadi hawa sejuk dan dingin di sekujur tubuhnya.
Ia masih memejamkan matanya. Kejadian tadi masih begitu mengerikan baginya.
“Bukalah matamu Samsul Alam…!” terdengar suara laki-laki memanggil namanya.
Ia lalu membuka matanya perlahan-lahan.
“Berdirilah….!” suara itu memerintahkannya untuk berdiri.
Namun tak ada siapa-siapa disitu. Hanya ada enam ekor harimau besar berdiri tegak melingkar dihadapannya. Samsul memperhatikan ke atas pepohonan, lalu ke balik semak-semak. Tak ada siapa-siapa lagi disitu. Ia memperhatikan tubuhnya, mengelus dada dan perutnya. Masih berwarna merah kering sisa-sisa darah, Tiga gores bekas luka besar cakaran harimau melintang dari dada kiri sebelah atas sampai ke seperempat bagian perut kanannya, menyelimpang. Tapi luka itu sudah mongering, hanya bekas lukanya yang besar dan menghitam sajalah yang terlihat kini.
“Muridku…, tujuh tahun sudah kamu, kami didik disini..! Sekarang saatnya kami melepas kepergianmu!” suara itu berasal dari mulut harimau di depannya. Rajo tengah berbicara padanya.
“Kamu… kamu bisa bicara Rajo…!!” Tanya Samsul Alam heran.
Harimau besar yang disebut Rajo oleh Samsul Alam hanya menggereng.
“Hal itu tak usah dibahas wahai anakku.. Sekarang kami harus melepasmu pergi dari sini. Meski berat kami rasakan.” ucap harimau yang berekor panjang bernama Buyung.
“hiks hiks.. meski kami sedih melepasmu! Tapi sudah keharusan bagi kami sebagai guru untuk melepas muridnya pergi..! hiks.. hiks..” harimau betina bernama Upik mengeluarkan suara seperti terisak-isak menangis.
“Betul Samsul anakku.. Bagi kami, dirimu hanya titipan dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kami. Tujuh tahun bersamamu sungguh tak bisa terlupakan bagi diri kami.” seru harimau bernama Zul.
“Pergunakanlah segala ilmu harimau yang kami berikan kepadamu untuk hal-hal yang baik. Jangan lupakan keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa.” nasihat harimau yang loreng hitamnya terlihat begitu banyak dan memenuhi seluruh tubuhnya, Sanusi.
“Ingat… pergunakan ilmu yang kami ajarkan padamu untuk hal yang baik-baik…! Belalah yang lemah..! Tegakkan kebenaran..! Lawanlah segala bentuk kemungkaran dan kejahatan di muka bumi..! Jadilah orang yang jujur ..!” harimau betina bernama Siti mewanti-wantinya.
“Musuh jangan dicari ada musuh jangan lari..! Dima bumi dipijak di situ langik dijunjuang..!” harimau lincah bernama Ujang mengeluarkan dua petuah Minang untuk Samsul Alam lakoni dalam kehidupannya. (Dima bumi dipijak di situ langik dijunjuang = dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung )
“Kau dengar apa kata kelima gurumu Samsul…!!!” seru harimau paling besar bernama Rajo sembari mendekat kepada samsul.
“Dengar guru…! Aku dengar semua perintah dan petuah para guru..” ucap Samsul Alam sembari menjatuhkan diri, bertekuk lutut. Tanda hormatnya kepada enam ekor harimau jejadian yang telah mengajarinya selama tujuh tahun terakhir ini.
Harimau-harimau itu mendekatkan diri kepadanya. Memutari tubuhnya. Menjilat-jilati bahu, tangan, leher dan kepalanya. Lalu mereka mengaum serentak dengan menegadahkan wajah mereka ke langit. “Grrrraaaaaauuummmmmmm …………….” suara auman-auman harimau menggema ke seluruh hutan.
Sesaat auman-auman yang bisa memecahkan gendang telinganya jika saja ia tak menutup aliran darah menuju telinganya itu. Samsul Alam melihat telah tegak dua sosok makhluk yang dulu membawanya ke hutan ini. Kakek tua bersama harimau putih besarnya yang bermata hijau terang.
Dengan ujung saluangnya yang berwarna emas itu. Kakek tua itu menyentuh pipi dan dagu Samsul Alam. “Berdirilah anakku! Ingin kulihat setinggi apakah engkau tumbuh.”
Samsul Alam berdiri dihadapan kakek tua yang hanya dia kenal dengan sebutan Inyiak itu.
“Engkau telah tumbuh dewasa anakku. Engkau tinggi kekar, meski kurus! hahaha… Engkau telah tumbuh menjadi pemuda tampan wahai anakku!” ucap Inyiak sembari menepuk-nepuk bahunya.
“Datuk.. coba uji kemampuan anak muda di hadapan kita ini! Sudahkan keenam Datuk Harimau mengajarinya dengan benar?” ucap Inyiak kepada harimau putih disampingnya, sembari mengusap-usap kuduk harimau tersebut.
Harimau putih bermata hijau itu menggerang. Hal yang pertama ia lakukan adalah mengibaskan ekornya yang panjang. Dengan sebat Samsul Alam meloncat menghindari kibasan ekor. Namun harimau putih itu dengan cepat sudah menerkam dadanya. Gila, cepat betul gerakannya, ucap samsul Alam dalam hati.
Akhirnya ia hanya bisa menangkap pergelangan tangan harimau putih itu lalu menendang ke arah perut. Tapi apa yang terjadi, harimau itu menendang tendangannya dengan kaki-kaki belakangnya.
Mereka terjatuh bersama. Samsul menatap mata hijau harimau itu tajam. Tatapan seekor harimau. Dia berlari sembari mengerahkan seperempat tenaga dalamnya di kedua tangan, hingga tangannya sebatas siku mengeluarkan kilatan-kilatan listrik. Harimau itu hanya tegak di hadapannya, dari kedua biji matanya yang hijau keluar dua larik sinar hijau menggidikkan. Samsul Alam meloncat. Lalu dengan seluruh tenaga dalamnya ia memukulkan sebuah pukulan yang ia ketemukan sendiri ketika belajar dengan keenam Datuk Harimau. pukulan ini ia namakan Pukulan Cakar Harimau. Dengan mengibaskan kedua tangan yang dibentuk cakar ke depan. Segelombang kilat keluar dari kuku-kukunya, membentuk cakar-cakar tajam berupa kilat.
Cakar-cakar kilat dan selarik sinar hijau beradu. Terdengar suara ledakan keras. Harimau putih tetap berdiri tegap diposisinya semula, hanya mengereng kesal. Sedang Samsul Alam terpelanting, punggungnya menabrak pohon besar. Sedikit darah keluar dari mulutnya, ia menderita luka dalam.
Kakek tua yang ia sebut dengan panggilan Inyiak mendekat kepadanya. Dengan ujung saluang emasnya ia menyentuh bahu dada, leher dan pelipis pemuda yang berperawakan kurus tinggi itu. Hawa hangat masuk ke dalam tubuh si pemuda. Tenaganya seperti terasa masuk ke dalam tubuh berlipat-lipat ganda.
“Berdirilah..!” perintah Inyiak kepada Samsul Alam.
Inyiak berdestar hitam yang memegang tongkat putih di tangan kiri dan menyelipkan saluang di pinggang itu mendekatkan wajahnya ke telinga Samsul Alam. Ia membisikkan sesuatu.
“Rapalkan ajian yang baru aku berikan padamu. Angkat tanganmu ke atas. Setelah kau merasakan tenaga luar biasa. Pukul ke arah lawan. Mengerti?”
Samsul Alam mengangguk mengerti.
“Hoooi… Datuk, coba kau serang anak ini sekali lagi dengan pukulan harimau dewamu!” seru Inyiak kepada harimau putihnya.
“Lakukan sekarang..!”ucap Inyiak kepada Samsul Alam.
Dengan lekas Samsul Alam merapal ajian yang diberikan sang Inyiak kepadanya. lalu mengangkat kepalan tangannya ke atas. Seluruh tenaga dalam ia alirkan ke tangan itu. Tangan itu sebatas siku mengeluarkan kilat dan berubah menjadi warna merah. Ketika selarik sinar hijau keluar dari harimau putih besar dihadapannya. Samsul alam balas mengeluarkan ilmu pukulan yang baru ia dapatkan.
Dari tangannya keluar sinar merah menggidikkan seperti api berkobar dengan percikan-percikan kilat yang membungkusnya. Sinar merah dan hijau beradu. Kembali terjadi sebuah ledakan yang besar. Namun harimau putih terbanting beberapa langkah ke belakang.
“Hahahahaha… Hanya segitu kemampuanmu Datuk” ucap Inyiak pada harimau putih bermata hijau yang selalu setia menemaninya.
Samsul Alam tersenyum.
“Dengar anakku..! ilmu yang baru kuberikan padamu bernama ilmu ajian Pukulan Halilintar. Pergunakan baik-baik jikalau engkau sedang terdesak saja. Karena pukulan itu akan menyedot setengah dari tenaga dalam dan luarmu. Engkau mengerti Samsul?”
Samsul Alam kembali mengangguk. Tak tersadar olehnya ketika ia terjatuh tadi kulit rusa yang ia pakai untuk menutupi auratnya terlepas. Ia menutupi auratnya dengan kedua belah telapak tangannya. Kejadian itu membuat Inyiak, harimau putihnya dan keenam ekor harimau tertawa terpingkal-pingkal. Sedang Samsul Alam hanya tersenyum kecil malu.
“Mandilah kau di telaga sana!” perintah sang Inyiak. Kakek tua itu lalu mengeluarkan lipatan pakaian berwarna merah yang ia letakkan di lepitan ikat pinggangnya. “Pakailah ini! setelah engkau mandi!” ucap kakek tua itu.
“Kami menyudahi pertemuan kita sampai disini Samsul” ucap harimau besar bernama Rajo kepadanya. Dia melangkahkan kakinya mendekati Samsul Alam.
Entah mengapa ada tenaga luar biasa yang mendorong kepalanya hingga terbungkuk. Tangan kanannya pun bergerak sendiri. Yang ia tahu ia sedang mencium tangan Inyiak saat itu.
“Bagus, anak pintar. Lain kali kita bertemu lagi ya! Segera kau temui gurumu Datuk Pidareh Hitam di gunung Merapi di sebelah timur tempat ini. Kemudian katakan padanya, benda yang selama ini ia jaga itu adalah untukmu, atas seizin Inyiak.” ucap Inyiak padanya sembari mengelus lembut rambutnya. Tapi yang ia rasakan lain, kepalanya seperti ditimpa beban begitu berat. Hingga ia harus menahan sakit dengan memejamkan matanya.
Namun ketika matanya terbuka. Kakek tua, harimau putih besar bermata hijau dan keenam datuk harimau sudah tak ada di tempat itu. Samsul tersenyum. Ia lalu bergegas ke telaga, sudah tak sabar rasanya ia turun gunung. Ingin segera ia menemui gurunya Datuk Pidareh Hitam. Guru yang ia tinggalkan semenjak tujuh tahun lalu.
***
Wangi harum dari daging kelinci bakar tentu dapat menggugah selera siapa saja. Terutama orang yang tersesat dalam hutan belantara ditengah kelamnya malam. Apalagi untuk seorang gadis sepertinya. Melati adalah seorang gadis berpenampilan cantik nan elok budi dan rupa. Mengenakan baju kebaya penjang berwarna merah muda. Rambutnya yang lurus halus tergerai dengan, membuat kecantikan parasnya bertambah-tambah. Karena perutnya sedari siang tak diisi, ia mencari-cari sumber bau makanan yang membuatnya semakin lapar saja.
Didapati olehnya seorang pemuda sedang duduk bersender pada sebuah pohon besar. Di hadapan pemuda itu terdapat api unggun yang bergolak membakar dua ekor kelinci dan beberapa buah kelapa muda. Pemuda yang mengenakan pakaian dan ikat kepala serba merah seolah curiga menatap semak di tempat ia bersembunyi saat ini. Melati yakin betul kehadirannya tidak diketahui oleh pemuda tersebut. Apalagi semak tempat ia bersembunyi cukup tebal.
Akan tetapi pemuda itu seperti tersenyum menatap ke arahnya lalu melambaikan tangan kepadanya, mengajak ia untuk bergabung. Tanpa berpikir lama, Melati keluar dari pesembunyiannya dan menghampiri pemuda tersebut.
Pemuda berpakaian merah-merah tersebut tersenyum kepada gadis yang baru menghampirinya. Lalu menepuk tanah disampingnya. “Duduklah..! Tak usah sungkan.”
Melati duduk tepat disamping pemuda tersebut. Pemuda berpakaian merah-merah tersenyum padanya. Cahaya temaram dari api unggun tak dapat menutupi keelokan wajah pemuda tersebut. Ia berparas tampan dan lembut. Namun dibalik wajah tersebut ada keteguhan dari seorang laki-laki. Melihat wajah yang tampan, apalagi tatapan mata mereka beradu. Membuat wajah Melati bersemu merah, wanita cantik itu tertunduk malu.
Pemuda di sampingnya menepuk bahunya. Melati tersentak. Si pemuda berpakaian dan berikat kepala merah tersenyum padanya. Lalu menyerahkan setusuk kelinci bakar padanya. Tak berpikir lama, Melati melahap kelinci bakar nikmat itu. Begitupun si pemuda, ia tersenyum melihat perempuan disampingnya, “Begitu kelaparannyakah gadis ini?” ucapnya dalam hati.
Perut mereka sudah sama-sama kenyang. Air dari buah kelapa pun telah membasahi kerongkongan mereka yang dahaga. Namun keadaan hening yang lama membuat Melati tak merasa betah. Pemuda disampingnya seorang yang pendiam. Ia sibuk membenarkan letak kayu pada api unggun di hadapannya. Namun untuk bertanya atau tegur sapa Melati merasa sungkan untuk memulainya.
“Hmmm.., Siapa namamu?” Melati memecah keheningan malam.
Pemuda berpakaian merah yang rupa-rupanya adalah Samsul Alam menoleh kepadanya sembari tersenyum. Senyum pada bibir tipisnya, membuat Melati tersipu malu.
“Samsul Alam. Namaku Samsul Alam.”
“Namaku Melati.” sebenarnya ia berharap agar pemuda disampingnya menanyakan namanya, tapi hal itu tidak terjadi. “Sedang apa kamu ditengah hutan seperti ini? Kamu tinggal dimana?”
“Oh aku berencana pergi ke gunung Merapi. Disana tinggal guruku, aku hendak mengunjunginya.”
Diam sesaat. Melati menanti pemuda tersebut bertanya kepadanya. Namun tak satupun kata keluar dari mulutnya. Melati menghirup nafas panjang.
“Bolehkah aku ikut bersamamu? Aku bosan berada di rumah.” ucap Melati.
“Jangan kau ikut bersamaku, bisa-bisa nanti aku dituduh sebagai penculik anak gadis orang nantinya.” ucap Samsul sembari tersenyum, namun wajahnya tetap menatap api unggun yang semakin meredup.
“Ah, orang tuaku pasti tidak mengkhawatirkanku.” Melati benar-benar merasuki ucapannya. Ia bosan dengan keadaan di rumah. Ia bosan warga kampung menatapnya segan, bukan karena ia dan orang tuanya adalah orang terhormat. Tapi karena alasan takut pada ayahnya. Takut karena keganasannya.
Samsul Alam telah merebahkan diri dipojok jauh darinya. Menatap kepadanya, sembari tersenyum. “Tidurlah gadis, kau pasti lelah.” ucap pemuda itu, lalu memejamkan matanya.
Sukar dipercaya bagi Melati. Selama ini baru ia mendapati pemuda seperti di hadapannya saat ini. Pemuda pendiam yang dingin, namun berhati baik dan lembut. Setidak-tidaknya ada kelembutan pada senyuman dan tatapan matanya. Melati menggeleng-gelengkan kepala, lalu merebahkan dirinya. Memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur, menghilangkan kelelahan pada tubuhnya dan kegundahan pada pikirannya.
***
Hari telah pagi, sinar mentari telah mulai naik dari ufuk timur. Suara mencicit dari burung-burung yang bertengger di ranting-ranting pohon begitu merdu terdengar. Embun pagi yang membasahi dedaunan menetes turun jatuh ke pelipis pemuda berpakaian merah-merah. Matanya terbuka. Adalah terkejut dirinya ketika ia mendapati dirinya sedang dirangkul tubuh perempuan. Wajahnya dan wajah perempuan itu terpaut begitu dekat. Ia merasakan hawa hangat menjalar pada sekujur tubuhnya. Ia berusaha untuk bangkit dan menepis rangkulan sang gadis dengan cara melepas tangan sang gadis yang melingkar pada dada sampai bahunya, lalu menggeser-geserkan tubuhnya.
Namun apa yang terjadi, gadis yang meletakkan kepala di bahunya itu ikut terbangun. Tersenyum kepadanya, lalu meraba dadanya. Tepat di tiga gores bekas luka besar yang panjang didadanya. “Maafkan aku, kemarin aku takut tidur di pojokan sana sendiri. Api unggun yang padam membuat malam bertambah mencekam.”
Samsul Alam bangkit duduk. Begitu pula sang gadis. Namun tak henti-henti mata sang gadis menatapnya.
Enggan berlama-lama dalam keadaan ini, Samsul Alam berdiri, membasuh mukanya dengan air kelapa sisa kemarin malam, ia berwudhu dengan air kelapa itu. Ia menyesali kecerobohannya, ia bukan hanya telat sholat shubuh, juga telah tertidur dengan rangkulan seorang gadis yang sama sekali bukan pasangannya.
Lalu pendekar berpakaian merah-merah dan berperawakan tinggi kurus namun kekar ini bangkit melaksanakan sholat shubuh. Ia menatap matahari, lalu meletakkan kemana arah kiblat untuk ia melaksanakan sembahyangnya.
Melihat hal itu, hati sang gadis yang bernama Melati terbersit rasa gundah. Sedang apa Samsul Alam. Itukah yang dinamakan sembahyang? Menghambakan diri pada Sang Kuasa. Seumur hidupnya ia tak pernah melakukan ritual itu. Ibunya tak pernah mengajarinya. Apalagi ayahnya. Kembali ia menyesali nasib, telah dilahirkan sebagai seorang anak perampok.
Selesai sembahyang, Samsul Alam menoleh kepada Melati. Lalu bangkit berdiri, dan duduk dihadapan gadis berkebaya panjang merah muda. Ia tersenyum dan menatap lembut kepada gadis di hadapannya. Sekali lagi diperlakukan seperti ini membuat dada sang gadis bergetar keras.
“Kemana arah kampungmu?” tanya Samsul Alam.
Melati menunjuk ke arah timur. Samsul Alam tersenyum.
“Berarti searah dengan tujuanku?”
Melati mengangguk.
“Ikutlah bersamaku, kita berjalan bersama. Akan kuantarkan engkau sampai ke rumahmu.”
Mereka akhirnya berjalan bersama. Di perjalanan sang gadis kembali bertanya-tanya pada Samsul Alam. Namun Samsul Alam hanya menjawab dengan jawaban yang pendek-pendek atau mengangguk-anggukkan wajahnya saja. Pendekar muda bertubuh kekar tinggi itu memetik beberapa buah untuk mengisi perut mereka berdua. Melati menilai hal ini sebagai sikap perhatian pemuda itu kepadanya.
Inilah pemuda gagah tempat ia menaruh hatinya. Pemuda yang tak menilainya sebagai seorang perempuan cantik dan bertubuh bagus. Pemuda yang tidak menjadikan nafsu diatas segala-galanya. Pemuda yang menghambakan dirinya hanya kepada Yang Kuasa. Melati terkesan pada semua yang dimiliki pemuda ini. Kelembutan wajahnya. Kelembutan cara ia memandangnya. Cara ia berjalan yang begitu tegap dan tidak dibuat-buat. Alangkah indahnya jika cintanya disambut baik oleh si pemuda.
Ditengah perjalanan, pemuda tersebut memetik sekuntum bunga melati putih yang tumbuh liar di semak-semak hutan. Menimang-nimang terus bunga tersebut dengan jemari telunjuk dan ibu jarinya. Sekali-kali mencium bunga tersebut dan tersenyum. Sesekali juga melirik kepada Melati lalu cepat-cepat menolehkan wajahnya, kembali tersenyum. Hal ini bukan tidak disadari oleh Melati. Gadis itu bersemu merah wajahnya, malu. Ia menggenggam tangan Samsul Alam erat.
Hari telah menjelang siang ketika mereka berdiri di perbatasan kampung saat itu. Samsul Alam menghentikan langkah kakinya. Lalu menatap wajah Melati. “Melati.., disinikah letak kampungmu?”
Melati menganggukkan wajahnya.
“Pulanglah.., orang tuamu pasti lelah mencarimu.”
“Tapi aku tak ingin tinggal di rumah itu. Aku bosan dengan keadaan di rumah itu. Ayahku…” Melati lalu menghentikan ucapannya. Ia sadar ia sedang berbicara dengan seorang pemuda yang baru saja ditemuinya semalam. Tak baik rasanya jika ia membicarakan keburukan keluarganya.
“Tapi aku ingin ikut denganmu Samsul.”
Samsul Alam menggeleng sembari tersenyum. Ia menyelipkan bunga melati yang sedari perjalanan tadi ia timang-timang. “Kau bertambah cantik Melati, dengan bunga ini menghias telingamu. Bunga Melati sama cantiknya dengan dirimu Melati.”
Melati tertunduk dan tersenyum. Dagunya disentuh kecil dengan jari telunjuk si pemuda. Gadis itu memejamkan matanya. Namun apa yang terjadi, begitu ia membuka matanya, pemuda itu telah lenyap entah kemana. Gadis itu hanya tersenyum memandang puncak gunung Merapi. Dalam hati ia berkata, “Kembalilah uda, adik akan setia menunggumu disini.” (uda = abang laki-laki)
Diposkan oleh Poetih Dekil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar