AKHASIE *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* *******MAJU _ BERSAMA _ NAK _ MUDA _ PERANTAU _ MINANG******* AKHASIE

Rabu, 18 Maret 2015

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa Api 1

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

SEPASANG KARIH SAKTI   bagian  1

Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api

 Hujan rintik-rintik tengah membasahi bumi. Seluruh permukaan angkasa berwarna gelap gulita, meski hari masih beranjak senja. Suara guntur menggelegar dan begitu mencekam. Angin menderu menggegubu begitu kencangnya hingga pepohonan bergoyang dan dedaunan berterbangan. Begitu keadaan kampung Panyalaian yang berada tepat dibawah gunung Merapi Tanah Datar pulau Andalas. Keadaan kampung begitu hening, karena derasnya hujan yang mengguyur kampung tersebut.
Suatu saat terdengar suara petir menggelegar tiga kali. Pada dentumannya yang ketiga, yaitu yang paling kencang, seolah-olah bumi bergetar. Guncangan itu semakin membuat takut para penduduk yang ada di kampung tersebut. Maklum kampung mereka berada tepat dibawah gunung merapi yang kapan saja bisa meledak, memuntahkan isinya. Bersamaan datangnya suara petir itu sayup-sayup terdengar suara rengekan bayi dari sebuah rumah gadang yang berada di atas pedataran sawah yang berundak-undak.

“Alhamdulillah…. Ya Allah puji syukur ambo… Anak ambo telah lahir ke dunia ya Allah…” begitu senangnya Datuk Mudo Rajo Alam. Segera dia beranjak dari duduknya menuju kamar tempat persalinan istrinya. (Ambo=saya)
Ia ketuk pintu kamar yang dijadikan kamar persalinan itu. “Bagaimana Amak..? Anak ambo laki-laki apo padusi..? Dan sehatkah keadaannya..?” Bertanya lelaki setengah baya dengan perawakan tubuh tinggi tegap dan wajah tampan klimis dengan janggut tipis, tanpa kumis sama sekali. (padusi = perempuan)
Dari dalam kamar, “Alhamdulillah Datuk, ini anak bayi lelaki yang paling sehat dan kuat yang amak jumpai.” Berucap perempuan dari dalam kamar.
Datuk Mudo Rajo Alam langsung tersenyum sumringah, terlihat tetesan air mata bahagia turun dari kelopak matanya. Langsung dia bersujud syukur kepada sang Kuasa.
“Ini Datuk.., jika Datuk Muda mau melihat anak pertama Datuk!” ucap seorang perempuan tua dari depan pintu kamar tadi.
Dengan bahagia lelaki berpakaian destar merah dan celana merah ini menggendong bayi laki-laki yang masih merah dan diselimuti kain. Lelaki berperawakan gagah ini menimang anaknya sebentar. Kemudian ia kecup kening anaknya lalu mengucapkan kalimat syahadat, “ASYHADU ALLA ILA HA ILALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARASULULLAH.” Kemudian ia mengazankan anaknya tersebut. Wajahnya tampak haru, tampak air mata kembali menetes dari kelopak matanya. Ketika Datuk Mudo Rajo Alam mengazankan anaknya ini kembali terjadi keanehan, sekejap saja hujan yang mengguyur deras berhenti, cuaca pun menjadi cerah kembali.
***
Sementara itu di dalam hutan, tampak berbaris dua puluh orang lelaki berpakaian hitam-hitam duduk di atas kuda mereka. Seorang lelaki manghadap ke Sembilan belas orang lainnya. Dari antara mereka lelaki ini tampak paling sangar. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam pula, hanya bedanya di bahunya menyelempang sarung berwarna merah. Ia mengenakan saluak yang juga berwarna merah. Di pinggang kanan-kirinya terselip sepasang karih. Pada wajahnya yang begitu kokoh tampak segaris bekas luka membujur pada keningnya. Rambutnya panjang menjula ke bahu. Ia berkumis dan berjanggut tipis. Ia-lah yang dinamakan sepasang karihsakti. (saluak =lilitan kain peci khas minang ; kariah = keris Minang)
“Kita akan turun gunung. Kita harus membalas dendam kita kepada para penduduk kampung itu. Sekalian aden harus membayar luka ini.” Menunjuk ia ke arah keningnya, “Datuk Mudo Rajo Alam harus membayarnya dengan bayaran yang setimpal. Ia harus mati di tangan aden sendiri. Sekalian istrinya yang cantik akan aden bawa untuk aden jadikan sebagai selir. Ha… ha… ha…” (Aden = aku; dalam bahasa kasar)
“Baik sekiranya angku mau membalas dendam. Tapi pertimbangkan baik-baik di kampung itu banyak sekali orang-orang yang ilmunya setanding dengan kita. Dulu.., dua tahun yang lalu kita sempat kocar-kacir dibuat mereka. Lalu Datuk Mudo Rajo Alam sendiri adalah seorang berilmu tinggi. Apakah ini sudah angku pikirkan matang-matang?” ucap salah seorang dari mereka, dialah yang tampak paling tua pada rombongan itu. (Angku = tuanku)
“Wa’ang takut mamak….? Ha… ha… ha…. Kalau takut tak usahlah mamak ikut dengan kami. Lebih baik mamak bergegas pergi meninggalkan rombongan ini. Ini lebih baik bagi mamak. Seandainya mamak bukan adik dari amak den, aden akan menebas leher mamak sekarang juga. Tidak ada alasan untuk takut atau ragu bagi pasukan rampok Hantu Hitam, mamak.” (Wa’ang = kamu; dalam bahasa kasar, Mamak = paman)
Mendengar ucapan sepasang karih sakti, sang paman hanya terdiam. Baginya biarlah ia menanggung derita ini. Keponakannya ini memang berlaku kurang ajar padanya. Betapa tidak, mana ada seorang paman harus patuh terhadap keponakannya. Mana ada seorang paman memanggil keponakannya dengan sebutan angku, mungkin hanya dia seoranglah di tanah Minang ini yang begitu. Nasibnya memang begitu buruk. Seandainya saja ia tak pernah berucap janji kepada almarhum kakak perempuannya, untuk menjaga anak tersebut sampai ajalnya menjemput.
Rombongan itu lalu bergegas pergi meninggalkan hutan di perbukitan tersebut. Derap langkah kaki kuda mereka berjalan perlahan, berbaris. Mereka seakan lebih tampak seperti rombongan prajurit. Bukan rombongan perampok.
***
Dilain tempat, disisi barat puncak gunung Merapi. Kabut tebal menyelimuti puncak gunung itu. Udara begitu dingin. Tepat disamping lubang kawah, duduk bersila seorang kakek tua diatas batu besar yang banyak ditumbuhi lumut. Meski dari raut wajahnya yang sudah sangat tua namun tubuh kakek tua ini begitu tegap dan kokoh. Rambutnya yang berwarna kelabu panjang sampai ke pinggang, berderai-derai dihembus tiupan angin, begitu juga dengan kumis dan janggutnya yang panjang. Ia mengenakan jubah dan celana berwarna hitam. Yang aneh dari kakek ini adalah bibir dan kedua tangannya yang berwarna hitam. Pada tangan kanannya ia sedang memegang tasbih panjang yang juga berwarna hitam.
Di dalam semedinya kakek tua itu terpekur beberapa lama. Di dalam benaknya selalu muncul wajah muridnya satu-satunya, Datuk Mudo Rajo Alam. Ia tak mau terusik. Ia kembali mengheningkan segala cipta dan rasanya. Namun bayangan itu kembali hadir. Sadar tapanya telah terganggu ia membuka matanya.
Kakek tua ini terperangah kaget, ketika ia melihat kabut bergulung-gulung di hadapannya. Ia mencium wangi kemenyan di tempat itu. Segera ia tersenyum, lalu turun dari batu besar tempat ia bersemedi. Lalu berdiri tegak dihadapan kabut yang bergulung-gulung tersebut. Tak lama dari balik kabut muncul sepasang harimau besar yang satu berwarna keemasan dan yang satu lagi berwarna putih. Dari mata harimau yang keemasan keluar sinar biru menyala-nyala, sedang dari mata harimau putih keluar sinar berwarna hijau menyala terang.
“Ah.., kiranya ambo mendapat kehormatan untuk didatangi oleh inyiakberdua.” Ia tersenyum pada kedua ekor harimau tersebut, lalu merapatkan kedua telapak tangannya, tanda hormat, “Sekiranya ada apa geranganinyiak berdua repot-repot berkunjung ke tempat ambo?” (inyiak = sebutan untuk kakek)
Lalu harimau besar berwarna kuning keemasan itu berubah menjadi sesosok manusia berwujud orang tua berambut putih. Ia memegang tongkat putih terbuat dari kayu di tangan kirinya. Sedang di pinggangnya terselip sebuahsaluang yang terbuat dari emas. berselempang kain putih dan tinggi melebihi manusia lainnya. Sepasang matanya berwarna kebiruan.
“Berdirilah cucuku Datuk Pidareh Hitam! Kedatangan aku dan harimau putih ini ingin memberi kabar padamu. Bahwa tepat pada malam ini, nyawa muridmu terancam.” (saluang= suling besar dari bambu, pidareh = pukulan beracun)
Datuk Pidareh Hitam langsung terperonjak kaget ketika mendengar ucapan kedua makhluk jejadian didepannya. Baru saja mulutnya mau berbicara.
“Jangan kau merasa bimbang dengan ucapan aku Datuk. Segeralah turun gunung. Satu pesanku. Kemungkinan besar firasat ku anak muridmu itu sudah tak bisa diselamatkan lagi. Dan engkau ku rasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena perjanjianmu kepada Sang Kuasa untuk tidak membunuh.”
“Satu yang kumohon padamu, engkau selamatkanlah anak lelaki dari muridmu. Dia memiliki pertanda baik untuk menjadi seorang besar. Tanpa harus diajarkan apa-apa, dari kedua tangannya, jika ia menghendaki akan muncul segelombang dahsyat kilat. Dia memiliki kesaktian laduni. Tapi kumohon sekiranya…” (laduni = ilmu yang bukan berasal dari dunia)
“Sekiranya.., apa inyiak?” Datuk Pidareh Hitam heran.
“Sekiranya engkau mau untuk mengajari seluruh kesaktianmu. Sampai anak itu berumur sepuluh tahun. Dan setiap tiga purnama sekali kau harus menyalurkan tenaga dalammu kepada anak itu. Dan jangan lupa alirkan juga segala macam racun yang ada pada tubuhmu. Sedari kau bawa anak lelaki itu ke puncak gunung ini.”
Gila.., anak bayi harus ku aliri tenaga dalamku dan seluruh racun yang ada dalam tubuhku. Apakah ini bukan pembunuhan namanya? Begitu pikir Datuk Pidareh Hitam.
“Baik Inyiak. Tapi kenapa hanya sampai umur sepuluh tahun saja?” lelaki tua berambut kelabu itu kembali merasa heran.
“Setelah ia berumur sepuluh tahun. Aku akan mengangkatnya sebagai muridku.” ucap orang tua itu.
Orang tua itu lalu duduk di atas harimau putih besar yang ikut serta bersamanya. “Ayo Datuk kita tinggalkan tempat ini!” ucapnya kepada harimau putih itu. Harimau putih itu menurutinya, mengaum satu kali, tanda perintah dari orang tua itu telah dimengerti. Lalu harimau putih itu membalikkan badannya. Namun baru satu langkah ia menjejaki kakinya, kabut tebal telah menyelimuti. Kedua sosok itu hilang begitu saja.
Datuk Pidareh Hitam, terperangah sesaat. Benarkah muridku akan kehilangan nyawanya malam ini. Langsung saja dia meloncat dan berlari menuruni gunung menuju ke arah timur.
Diposkan oleh Poetih Dekil

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa Api 2

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

SEPASANG KARIH SAKTI  bagian   2

Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api

Malam telah tiba. Namun keadaan seluruh isi kampung begitu mencekam. Api berkobar dibagian utara dan selatan perkampungan. Hingga langit yang seharusnya hitam kelam kini ikut berwarna merah. Asap membumbung dimana-mana. Udara panas sungguh terasa menyengat. Seluruh penduduk berlari kesana-kemari, mencari selamat dan ketakutan. Beberapa orang sibuk memadamkan api dengan cara mengguyur air, namun semua seperti sia-sia saja. Api merembet kemana-mana, sebagian kampung kini sudah terlalap oleh ganasnya panas api yang yang menggila.
Dari dalam rumah gadangnya Datuk Mudo Rajo Alam yang sedang menimang-nimang anaknya di hadapan istrinya langsung terperanjak kaget, ketika mendengar teriakan-teriakan para penduduk meminta tolong.

“Ada apa lagi ini Halimah?” ucapnya kepada istrinya.
“Entahlah uda, kenapa hati Halimah jadi tidak enak begini.” (uda = sebutan untuk abang)
Tak lama kemudian terdengar suara pintu di hadapan rumahnya diketuk-ketuk orang. “Datuk Mudo…, Datuk Mudo…, bukakan pintu Datuk Mudo!”
Segera lelaki gagah ini bergegas menuju pintu dan membukakannya. Dia memperhatikan ada sepuluh orang di hadapannya. Mereka adalah para pemuka adat.
“Ada apa ini Malin?” tanya Datuk Mudo kepada orang dihadapannya yang mengetuk pintu.
“Seluruh kampung porak poranda Datuk. Ada firasat ambo yang tidak enak Datuk.” ucap Malin.
Karena rumah gadangnya berada di atas perkampungan yang letaknya di sekelilingi persawahan, Datuk Mudo Rajo Alam dapat menyaksikan keadaan seluruh kampung. Asap dimana-mana. Kobaran api membakar disana-sini.
“Tunggu sebentar.” Datuk masuk kembali ke dalam rumahnya.
Ia mengambil sebilah pedang dan karih terlebih dahulu. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres tengah terjadi di kampung tempat ia memimpin. Ia lalu melirik kepada Halimah, istrinya yang baru saja melahirkan anaknya tersayang.
“Halimah.., tetaplah kau disini. Jika memang ada apa-apa di rumah ini segeralah kau pergi membawa anak kita dari pintu belakang. Segera akan kuperintahkan Mamak Bujang kesini untuk menjagamu dan anak kita.”
Halimah lalu terisak, perasaannya tak enak saat ini. Ia mengatakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya. Oh.., kenapa ini terjadi ketika anakku baru saja lahir ke dunia.
“Janganlah kau menangis begitu Halimah. Doakan saja suamimu ini akan segera kembali ke rumah.” Datuk Mudo Rajo Alam mengelus rambut istrinya. Tak lama segera ia bergegas menuju keluar. Dimana menunggu Malin dan ke sembilan para pemuka adat lainnya.
“Mamak Bujang.., aku minta bantuanmu. Bisa kau jaga rumahku mamak. Halimah baru saja melahirkan siang tadi, tak enak rasanya ambo meninggalkannya.” ucap Datuk Mudo kepada salah seorang pemuka adat yang paling tua. Di antara kedua orang ini memang ada pertalian darah. Sekaligus ia mempercayai orang ini, karena orang ini memang memiliki ilmu silat yang cukup. Mamak Bujang mengangguk dan menepuk bahu Datuk Mudo tiga kali lalu menggoyangkan punggung tangannya, memerintahkan untuk segera pergi.
***
Sesampainya di perkampungan penduduk, Datuk Mudo hanya diam terpaku, berdiri mematung. Dia berpikir tidak mungkin rasanya, sore tadi hujan begitu lebat menuruni bumi, sekarang seluruh kampung habis terbakar. Dia merasa ketidak-beresan tengah terjadi di kampungnya. Sebagai seorang Kapalo Nagari ia memikul tanggung jawab atas segala yang terjadi di kampung ini. Baik dan buruknya adalah tanggung jawabnya dunia dan akhirat. (Kapalonagari = kepala negeri)
“Baiknya kita menyelidiki apa yang tengah terjadi.” Datuk Mudo Rajo Alam berpesan kepada para pemangku adat, “Kita berbagi tugas. Dua orang diantara kita mengumpulkan para wanita, orang tua dan anak-anak ke tempat aman. Segeralah mengungsi. Kau Zul dan kau Zakaria kutugaskan kalian untuk mengungsikan para wanita, orang tua dan anak-anak!”
“Baik Datuk.” ucap kedua orang yang telah diperintahkan. Mereka berdua langsung bergegas lari mengerjakan tugas yang diemban.
“Dua lagi ku perintahkan untuk mengumpulkan para pemuda dan lelaki di tempat ini dan saling berbagi tugas untuk memadamkan api yang melahap rumah penduduk. Kau Sati dan kau Nurdin lakukanlah dengan segera.”
Seperti kedua teman mereka sebelumnya. Dua orang ini mematuhi perintah Datuk Mudo Rajo Alam. Bagi mereka Datuk Mudo Rajo Alam adalah seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Sehingga tak ada niatan untuk mengingkari segala yang diperintahkannya.
“Sedang yang lain, ikut aku mengitari kampung. Kita lakukan segala hal yang kita bisa.” seru Datuk Mudo Rajo Alam kepada kelima pemangku adat di hadapannya. Kemudian mereka bergegas pergi.
Kembali pada rumah gadang tempat dimana tinggal Datuk Mudo Rajo Alam dan keluarganya. Kini tinggal bertiga Halimah, anaknya dan seorang pemangku adat yang bernama Bujang. Bujang adalah seorang tua yang bijak dan patuh terhadap aturan serta perintah yang diberikan padanya. Ia duduk di ruang tengah tepat di depan kamar Halimah dan anak dari Datuk Mudo berada. Ia menimang-nimang pedangnya, apapun yang terjadi pada istri dan anak dari keponakannya, itu adalah tanggung jawabnya saat ini.
Tapi tiba-tiba, terdengar pintu digedor berulang-kali. Bujang terperangah. Ia berlari menuju jendela. Memperhatikan! Kurang ajar…. si Sudin itu buat apa lagi dia datang kesini… Sudah bosan hidup rupanya orang ini…. maki Bujang di dalam hati.
Sementara itu dari luar, “Halimah… Bukakan pintu Halimah… Abang datang menjemputmu sayang..!”
“Bangsat kau Sudin….!” seru Bujang dari dalam rumah. Dengan geram ia menendang pintu depan. Daun pintu yang besar itu tanggal. sedang orang dibalik pintu yang berada diluar terjengkang jatuh dari anak tangga.
Orang yang terjatuh ke bawah itu dan dipanggil oleh mamak Bujang dengan sebutan Sudin tidak lain dan tidak bukan adalah Sepasang Karih Sakti. Ia tertawa saja dibawah anak tangga.
“O.. o… o.. Rupa-rupanya orang tua sudah bau tanah ini yang menendangku hingga terjatuh. Sudah rindu wa’ang mau mencium tanah Bujang..?”
“Onde… Wa’ang itu mencari mati Sudin datang kemari? Tidak puaskah wa’ang dua tahun lalu dibuat malu..?”
Kesal mendapat perlakuan seperti itu Sudin alias Sepasang Karih Sakti mengepalkan kedua tangannya. Dari matanya memancar sinar berwarna putih terang. Bujang yang menyaksikan hal ini maklum betul, orang dihadapannya tidak sama dengan orang yang dua tahun ia hadapi. Entah ilmu apa yang dipelajari. Tidak gentar, Bujang meloncat ke bawah.
Sepasang Karih Sakti meloncat ke arah Bujang. Tendangannya berkiblat kepada kepala Bujang. Bujang menangkis dengan tangan kiri. Tangan kanannya mengepalkan tinju yang sudah dialiri tenaga dalam ke arah selangkangan Sepasang Karih Sakti. Tapi belum sampai pukulan Bujang, Sepasang karih Sakti berlaku cerdik. Ia meloncat dan menjejakkan kakinya yang bebas di atas kepala Bujang. Bujang terpental ke depan. Belum lagi sampai ke tanah, sikutan keras Sepasang Karih Sakti telah mendarat tepat leher bagian belakangnya.
Darah keluar dari mulut Bujang, tubuhnya gontai. Ia alirkan seluruh tenaga dalam yang ia miliki ke bagian dada, kaki dan kepalan tangannya. Berusaha untuk menyeimbangkan diri. Dalam pikirnya, Sudin yang ia hadapi saat ini jauh sekali meningkat kemampuannya. Bujang mengatur jalan nafas, kemudian membuka kuda-kuda rendah. dan menggoyangkan kedua tangannya ke arah samping. Ia membuka jurus silek Kumango. (silekKumango = silat unik yang gerakan-gerakannya berasal atau menggambarkan berbagai macam huruf-huruf hijaiyah)
"Model silat begitu wa’ang tampilkan di depan denai Bujang.. matilah wa’ang..!” menyerang Sepasang Karih Sakti. Tangannya dipentangkan ke arah depan. Ini sebenarnya hanya gerak tipuan belaka. Ketika tangannya ini ditangkis. Ia segera menangkap tangkisan lawan, dan memukul dengan tangan yang satu lagi yang sudah dialiri penuh oleh tenaga dalam.
Tapi Bujang yang sudah berumur, sudah maklum dengan apa yang akan dilakukan Sepasang Kariah Sakti. Ia menjatuhkan dirinya. Kakinya yang depan menendang mengarah lutut Sudin. Jika terkena tak ayal lutut itu akan pecah. Tapi Sepasang Karih Sakti meloncat, dan menjatuhkan diri tepat disamping Bujang. Menendang pipi Bujang dengan lututnya.
Bujang terpental, namun ia membuat serangan dengan kembali menendang ke bagian perut Sepasang Karih Sakti. Namun belum sampai tendangannya sampai Sepasang Karih Sakti ternyata telah bangkit di belakangnya. Menendang punggungnya, Bujang terpental sejauh sepuluh kaki. Darah segar menyembur deras dari mulutnya. Dengan gontai ia bangkit berdiri.
“Kau rasakan ini Bujang…” Sepasang Karih Sakti mengiblatkan matanya ke arah Bujang. Sinar putih keluar dari kedua biji matanya. Bujang mengalirkan tenaga dalamnya, dan meloncat menghindari sinar putih yang begitu dashyat menyerangnya. Tapi terlambat, sepasang kakinya tak dapat menghindari sinar panas. Terdengar suara ledakan. Darah, patahan-patahan tulang serta irisan-irisan daging berceceran kemana-mana. Bersamaan dengan itu Bujang hanya dapat menahan rasa sakit, sepasang kakinya telah buntung.
Dengan tubuh yang menahan sakit dan tidak bisa bangkit berdiri, karena sepasang kakinya telah terkutung buntung. Bujang hanya bisa pasrah mendapat perlakuan apa saja dari Sepasang Kariah Sakti.
“Mati Kau Bujang…!” Sepasang Karih Sakti menghampirinya. Kembali dua sinar menggidikkan berkiblat ke arah Bujang. Tak ayal tubuh tua itupun hangus meregang nyawa.
***
Api berkobar dimana-mana, tak ayal lagi hampir seluruh perkampungan habis dilahap oleh si jago merah. Asap berwarna kelabu membumbung tinggi ke atas langit malam yang berwarna hitam. Sebagian warga kampung telah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian lagi, yaitu pihak laki-laki bahu-membahu memadamkan kobaran api. Rasa panas begitu menyengat. Datuk Mudo Rajo Alam yang berada di tengah-tengah perkampungan penduduk merasakan iba di hatinya. Ia mengusap air mata, yang tanpa ia sadari jatuh dari pelupuk matanya.
“Ha.. Ha.. Ha…, begini rupa-rupanya kapalo nagari awak ni… paibo bana…” ucap Sudin alias Sepasang Karih Sakti dari kejauhan. Dia muncul dari balik pepohonan besar di bagian utara bersama kesembilan belas anak buahnya. (Paibo bana = cengeng sekali)
Mendengar ucapan itu, Datuk Mudo langsung menoleh. Ia melihat Sudin sedang merangkul tubuh istrinya. Halimah terlihat sedang tak sadarkan diri saat itu. Lalu kemanakah anaknya. Anaknya tidak terlihat saat itu. Dimanakah anaknya? Pikirnya saat itu.
“Kurang ajar.. wa’ang Sudin…..!” serunya marah, “Turunkan istriku…!”
“Salah siapa urang rumah nan baiko ranca’ kau tinggalkan di rumah sendirian Datuk Mudo….! Bolehlah awak menyicipi istrimu ini.” (urang rumah nan baiko ranca’ = istri yang begini cantik)
“Turunkan ….!” Datuk Mudo meloncat menyerang. Kemarahannya semakin menjadi-jadi. Pedang telah ia keluarkan dari sabuk. Mata pedangnya yang tajam ia arahkan ke wajah Sudin.
Sudin melemparkan sosok tubuh yang ia rangkul ke arah anak-anak buahnya. Dengan sigap mereka menangkap tubuh perempuan yang tak lain adalah Halimah, istri dari Datuk Mudo Rajo Alam.
Kemudian ia membentuk sebuah kuda-kuda rendah, beginilah ciri khas silat Minang yang terkenal dengan kuda-kuda rendahnya. Sepasang karih sakti yang terselip di pinggangnya ia keluarkan. Dari dua senjata pusaka ini terangkum sinar menggidikkan, yang satu berwarna hitam, sedang yang satu lagi berwarna merah.
Pedang panjang yang mengarah ke wajah Sudin begitu sebat meminta nyawa. Namun perampok ini menangkis pedang dengan kariah berwarna merah menyala di tangan kirinya. Pedang mencuat hampir terlepas dari tangan Datuk Mudo Rajo Alam. Kepala Negeri ini pun segera meloncat dan kembali mempersiapkan sebuah jurus. Pedang ditangan kanannya tampak mengkilap. Selain itu entah mengapa pedang ini tampak terlihat semakin panjang. Inilah jurus Pedang membelah langit.
“Raso jo diang padang den….!!” ucap Datuk Mudo Rajo Alam sembari menyerang Sudin. (Raso jo diang padang den = Rasakan olehmu pedangku)
Pedang bergerak dengan sebat. Sudin hapir terdesak. seluruh tenaga dalamnya ia alirkan pada kedua tangannya yang memegang sepasang kariah. Namun percuma saja, serangan pedang yang begitu dashyat dan cepat membuat Sudin kewalahan. Bajunya yang hitam telah robek di dua bagian dada dan bahu. Tak ada cara lain, dengan menghindar.
Sepasang Karih Sakti meloncat mundur. Namun celaka, gerakan pedang dengan cepat memburunya. “Anak buah-anak buah tolol bantu aden….!” serunya kepada anak-anak buahnya.
Mamak Sati yang tak lain adalah paman dari Sudin langsung bertindak. Ia melemparkan lima buah pisau kecil ke arah Datuk Mudo Rajo Alam.
Sadar nyawanya sedang berbahaya, Datuk Mudo Rajo Alam membatalkan serangan. Lalu mengeluarkan jurus, Pedang memporak-porandakan awan. Jurus ini begitu hebat, gerakkan pedang berputar-putar seperti sebuah perisai. Yang terlihat hanya punya putaran angin dan siuran suara.
Dengan mudah kelima pisau mencelat mental, berbalik arah. Mamak Sati yang menyaksikan hal ini langsung meloncat menghindar. Ia selamat dari kelima pisaunya sendiri. Tapi celaka, ketiga orang rombongannya yang terkaget oleh serangan pisau tak bisa menghindar. Yang terdengar hanya pekik suara kesakitan. Mereka pun meregang nyawa.
“Bela wa’ang mamak….” seru Sudin melihat ketiga anak buahnya mati percuma, ia menyalahkan pamannya. (Bela wa’ang mamak = bego kamu paman)
Melihat kepala negeri tengah dibokong ketika pertempuran, kelima orang pemuka adat tak ambil diam. Mereka langsung menyerbu rombongan Perampok Hitam.
Terjadi pertempuran tidak seimbang lima melawan tujuh belas. Namun para pemuka adat adalah orang-orang yang tak bisa dianggap enteng dalam ilmu silat. Meski tak seimbang dalam jumlah, pertempuran terlihat imbang, bahkan para perampok Hitam terlihat terdesak.
“Sekarang hanya tinggal kau dan aku Sudin…!” berkata Datuk Mudo Rajo Alam.
“Ha.. ha.. ha.., ayo lekas kita selesaikan pertempuran ini. Aden sudah tidak sabar mau mencicipi tubuh istrimu yang molek itu.” menunjuk Sudin pada sosok tubuh Halimah yang tak berdaya.
Inilah kesalahan Datuk Mudo Rajo Alam, ia menoleh ke arah yang ditunjuk Sudin. Dengan iba ia melihat istrinya. Padahal ketika itu, karih yang berwarna hitam tengah mencuat ke arah jantungnya.
Sejengkal karih mau menancap dadanya, Datuk Mudo tersadar, ia membuat gerakkan kesamping. Ia selamat, namun kariah berwarna hitam menggidikkan itu menggores bagian bahunya. Sekejap ia merasakan panas mengalir ke sekujur tubuhnya. Ia sadar karih sakti yang sempat melukainya mengandung racun hebat.
Datuk Mudo Rajo Alam segera mengalirkan seperempat tenaga dalamnya ke bagian tubuh yang sakit. Lalu menotok bagian pangkal bahunya, ini bermaksud agar racun yang masuk ke tubuhnya tidak menjalar kemana-mana, apalagi ke bagian jantung. Setelah itu ia kembali membuat serangan dengan ilmu pedangnya. Kali ini ia mengeluarkan jurus, pedang sakti membelah lautan.
Gerakan pedang yang seperti sebuah sabetan-sabetan itu tentu membingungkan Sudin. Dengan kuda-kuda yang rendah ia membuat gerakan berputar-putar. Sembari menangkis pedang dengan karihnya yang berwarna merah. Kariah yang berwarna merah memang memiliki kesaktian berat seribu kati, yaitu meskipun kecil namun beratnya ketika menangkis serangan musuh akan membuat musuh merasa memukul batu besar. Maka tak heran jika pedang panjang di tangan Datuk Mudo Rajo Alam terpental beberapa kali.
Pada jurus kesembilan, Datuk Mudo Rajo Alam yang menyerang habis-habisan mulai merasakan lelah. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia sadar betul, ini adalah pengaruh dari racun kariah hitam yang masuk ke tubuhnya. Keadaan kembali tak menguntungkan Datuk Mudo Rajo Alam kali ini ia yang terdesak bertahan dari serangan kariah merah yang membabi-buta.
Kelima orang pemangku adat yang berilmu silat cukup tinggi juga memiliki nasib yang sama dengan Datuk Mudo Rajo Alam. Saat ini mereka yang terdesak. Tanpa disadari oleh mereka para perampok ini membubuhi racun pada tangan dan senjata mereka. Tenaga mereka lama-lama menjadi habis karena efek pengaruh racun. Saat itulah pisau-pisau kecil milik Mamak Sati berterbangan mengarah mereka. Tak ayal, pisau yang menancap di dada, perut, leher dan wajah mereka, telah menghabisi nyawa mereka sesaat itu juga.
Geram Datuk Mudo Rajo Alam dengan kejadian yang menimpa para pemangku adat. Ia melompat menyerang dan kembali mengiblatkan pedang panjangnya ke wajah Sudin. Sudin alias Sepasang Karih Sakti hanya menyeringai. Dari matanya yang tajam berkiblat dua larik sinar putih panas menggidikkan. Pedang yang berada di tangan Datuk Mudo Rajo Alam terpental jatuh. Sedang tangan kanannya yang memegang pedang itu, terlahap sinar itu, hanya terdengar suara mendesis. Tangan itu menghitam hangus, terkulai-kulai lemas. Dengan gontai Datuk Mudo Rajo Alam mencoba untuk terus berdiri.
“Nyawamu hanya tertinggal beberapa jengkal saja Datuk Mudo. Racun di dalam tubuhmu itu tak ada yang bisa menolong sama sekali. Percuma kau melawan, karena kedua tanganmu sudah tak berguna sama sekali saat ini.”
“Cuih…” Datuk Mudo Rajo Alam membuang ludahnya, “kau kira aku tak bisa menghabisimu Sudin..!”
“Ha… ha… ha…, sadarlah Datuk Muda, nyawamu hanya tinggal sesaat. Lebih baik engkau mempergunakan sisa nyawamu untuk menolong anakmu yang ku tinggalkan di atas sana!” Sepasang Kariah Sakti menunjuk ke rumah gadang yang ada di atas pedataran sawah.
Bimbanglah kini Datuk Mudo Rajo Alam. Hendak meneruskan pertarungan, menyelamatkan istrinya atau menyelamatkan anaknya.
“Tak usah kau bimbang Datuk Muda. Lebih baik kau selamatkan anakmu. Karena di dalam rumah gadang itu aku telah pasang jebakan yang akan meledakkan seluruh rumah itu beserta isinya. Kau tentu tidak mau bukan anakmu yang satu itu mati muda. Ha.. ha.. ha…”
“Bangsat kau Sudin…!” menyeru Datuk Muda. Ia pergunakan tangan kirinya untuk memukul lawan. Meski sakit sebatas bahu ia rasakan. Namun ia paksakan, dengan mengaliri seluruh tenaga dalamnya. Ia memasang kuda-kuda rendah. Kepalan tangan kirinya berwarna merah. Inilah yang dinamakan Pukulan Kelabang Merah.
“Ha.. ha.. ha..” Sepasang Karih Sakti mengembangkan kuda-kudanya yang rendah. Dua tangannya berputar-putar. Dua rangkum sinar putih melingkar mengarah Datuk Mudo Rajo Alam. Datuk itupun segera melepas pukulannya. Sinar putih dan merah beradu, saking kuatnya, hingga terjadi ledakan besar. Tubuh Sepasang Karih Sakti hanya terpental beberapa kaki. Darah mengucur dari mulutnya. Sewaktu terpental ia sempat mengambil kariah hitamnya yang berada di atas tanah.
Sedang tubuh Datuk Mudo Rajo Alam mencuat mental jauh. Ia terkulai lemas. Darah segar tak henti-henti keluar dari mulut dan hidungnya. Dari dadanya yang turun naik, tampak ia bernafas tersengal-sengal.
“Matilah kau…. Datuk andia…!” Sudin melemparkan karih sakti berwarna hitamnya. (andia = bodoh;dungu)
Akan tetapi, Halimah yang tersadar dari pingsannya. Melihat suaminya tergolek tak berdaya di hadapannya. Langsung berlari dan memeluk Sudin. Ketika itu pulalah karih hitam menancap di punggung wanita itu. Tubuhnya langsung terkulai tak bernyawa di atas tubuh Datuk Mudo Rajo Alam.
“Ha.. ha.. ha.. . Sayang sekali aden tidak bisa menikmati tubuh mulus dan wajah cantik itu.” Sudin lalu melangkah mendekati Halimah dan suaminya. mencabut karihnya dari punggung Halimah. Menyaksikan Datuk Mudo Rajo Alam yang tersengal-sengal di bawah mayat Halimah, Sudin hanya menyeringai. Ia menendang wajah Datuk Muda itu, lalu menahan wajah Datuk Mudo dengan kakinya, hingga wajah itu menghadap rumah gadang yang ada di atas pedataran sawah yang berunjak-unjak membentuk bukit.
“Sesaat lagi kau saksikan anakmu mati Datuk. Ha.. ha.. ha..”
Betul saja sekejap, rumah gadang itu meledak. Kobaran api berwarna merah tampak memilukan. Asap membumbung tinggi. Datuk Mudo Rajo Alam terisak-isak menangis.
“Itu semua karena kesalahanmu Datuk..! Sudah aden katakan cepat bergegas dari sini, ambil anakmu! Malah kau melawanku. Sekarang habislah kau…!” Sudin menusuk kariah saktinya yang berwarna hitam di dada Datuk Mudo Rajo Alam. Darah hitam muncrat dari mulutnya.
Sepasang karih sakti dan serombongan anak buahnya pergi meninggalkan kampung itu, dengan seluruh harta rampasan yang mereka ambil. Tampak seringai di wajah mereka. Karena dendam mereka terbalaskan.
***
Kembali ketika rumah gadang sebelum terbakar. Terdengar suara pekik tangis bayi yang begitu memilukan. Bayi laki-laki mungil yang masih berwarna merah. Ia diletakkan di atas meja kecil. Di bawah kakinya ada sebatang lilin menyala. Jika bayi kecil itu menendang jatuh lilin tersebut, di bawah meja ada sebaskom bahan peledak yang siap meledak. Rumah ini pun pada dinding, lantai dan atapnya telah diguyur oleh minyak. Maka kita bisa membayangkan apa yang terjadi pada bayi ini jika ia menendang jatuh lilin. seisi rumah akan terbakar.
Dari atas atap, meloncat turun seorang kakek tua berambut kelabu sampai ke pinggang. Tubuhnya yang tegap dan kekar berdiri di atas meja. Dengan menyeringai kecil ia mengangkat bayi yang ada di hadapannya, lalu menimang-nimangnya. Tangannya berwarna hitam sebatas bahu, begitu juga bibirnya. Ia menyeringai, selintas tampak menyeramkan, apalagi dengan kumis dan janggutnya yang dibiarkan tak terurus memanjang. Namun kakek ini adalah seorang sakti golongan putih bernama Pidareh hitam atau pukulan beracun hitam.
Ia meloncat ke atas atap, sembari menggendong anak bayi laki-laki yang sudah berhenti menangis semenjak ia timang-timang tadi. Sewaktu meloncat, ia menendang lilin yang berada di atas meja hingga terjatuh ke baskom yang berisi bubuk bahan peledak. Rumah itu meledak. Namun kakek dan anak kecil yang digendongnya selamat.
“Sabarlah nak.., sekarang kita cari bapak dan ibumu. Semoga saja mereka masih hidup.” Gerakannya begitu cepat, sekali satu kaki memijakkan tanah kaki berikutnya memijakkan tanah sejauh enam langkah. Sungguh ilmu lari yang luar biasa.
Sesampainya di tempat muridnya yang terbaring tak berdaya. Lima mayat bergelimpangan di kiri dan kanan muridnya. Sedang sesosok mayat perempuan menelingkup di atas tubuh muridnya yang kesakitan. Kakek berambut panjang sebahu ini hanya bisa geleng-geleng kepala dan meneteskan sedikit air matanya. Ia melihat muridnya megap-megap mengambil nafas, sedang darah segar terus mengucur.
“Muridku.., apa yang terjadi padamu?”
“Guru.. Kau ada disini guru?”
“Ya aku disini Bahtiar. Kau terkena racun ganas. Kalau tidak salah ini racun jahat kalajengking seribu tahun. Ini.., ini racun dari karih sakti berwarna hitam. Sabarlah nak aku akan serap racunmu.”
Dengan kemampuannya menyerap racun. Datuk Pidareh Hitam memang bisa mengobati muridnya. Tapi ia tak bisa menyangkal, racun ini sudah menyerang jantung Bahtiar alias Datuk Mudo Rajo Alam. Ia meletakkan tangannya tepat di atas dada, tempat tusukan kariah sakti bersarang sebelumnya. Tangannya yang hitam bisa menyerap segala racun. Dengan begitu ia bisa memperingan beban muridnya.
“Muridku.., siapa yang melakukan ini padamu?”
“A.. Aku begini karena Sudin… gu.. ru…, ia ber..ju..luk… se..pa..sang ka..rih sak..ti?”
“Sepasang karih sakti. Jadi tepat dugaanku racun di tubuhmu ini akibat karih sakti berwarna hitam.”
“Gu…ru, ma..ukah kau membantu aku?”
“Apa muridku?” tanya Datuk Pidareh Hitam pada muridnya.
“To..long kau lihat rumahku, apakah masih bisa kau tolong anakku!”
Datuk Pidareh Hitam hanya bisa meneteskan air mata. Anak dari muridnya itu tengah ia gendong. Berarti muridnya itu tak bisa melihatnya sama sekali saat itu. Ia hanya mendengar suaranya saja saat itu.
“Muridku, anakmu sudah ada di tanganku. Usahlah kau merasa khawatir. Perkuat saja dirimu.”
“Bo..lehkah.. a..ku menci..umnya gu..ru?”
Datuk Pidareh Hitam mendekatkan bayi laki-laki itu kepada bapaknya. Dengan bersusah payah Bahtiar alias Datuk Mudo Rajo Alam mengangkat kepalanya dan melekatkan bibirnya ke wajah anaknya. Ia menciumi pipi dan kening anaknya. Darah segar yang keluar dari mulutnya ikut membasahi wajah bayi laki-lakinya.
“Sam..sul.. A..lam.. jadilah engkau a..nak yang ber..gu..na…!” Datuk mudo Rajo Alam kemudian menjatuhkan wajahnya ke tanah. Ia sudah tak bernyawa.
“Muridku..! Percayalah nyawamu akan dibalas dengan nyawanya. Anakmu inilah yang akan melakukannya!”
Datuk Pidareh Hitam kemudian bergegas pergi. Meninggalkan jasad muridnya.
Diposkan oleh Poetih Dekil

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa Api 3

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

SEPASANG KARIH SAKTI  bagian   3

Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api
Sepuluh tahun kemudian..
Adalah aneh kiranya jika di puncak gunung Merapi yang adalah hutan belantara terdengar suara anak kecil mengaji. Melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara yang begitu merdu. Terdengar pula suara saluangmengiringi anak kecil itu mengaji. Duduk seorang kakek tua berpakaian hitam-hitam, dengan rambut berwarna putih kelabu sepanjang pinggang, sedang meniup saluang. Bibir dan tangannya sampai sebatas bahu menghitam. Dialah Datuk Pidareh Hitam, meski tampangnya angker, dia adalah salah satu dari sekian banyak tokoh sakti golongan putih rimba persilatan pulau Andalas. Didepannya duduk seorang anak kecil berpakaian merah sedang membaca ayat suci Al-Qur’an dari lembaran-lembaran kulit Rusa. Mereka duduk di atas batu tinggi besar yang sekelilingnya ditumbuhi lumut. ( saluang = suling dari batang bambu, yang ukurannya lebih besar daripada suling biasa)
“Tabarokas murobbika zil jalaali wal ikroom” anak kecil berpakaian merah-merah itu mengakhiri lantunan suara merdunya. (Qur’an surat Ar-Rahman ayat 78; Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia)
Datuk Pidareh Hitam masih melanjutkan permainan saluangnya sesaat. Tampak dari cara ia memajamkan mata, ia begitu masuk ke dalam permainan saluangnya sendiri. Sesaat ia membuka mata dan menghentikan permainan saluangnya. Menatap wajah anak lelaki dihadapannya. Anak kecil berpakaian merah-merah dengan wajah tampan dan rambut panjang sebahu, itu hanya senyum-senyum melihat gurunya. Tubuh kecilnya tampak terlihat padat dan kekar, Kuku-kuku pada jemari tangannya berwarna hitam.

“Bagus Buyuang, bacaan Qur’anmu sudah mantap benar.” (Buyuang;buyung = sebutan untuk anak laki-laki)
“Terima kasih guru...” ucap anak lelaki itu.
“Sama-sama…” Datuk Pidareh Hitam menyorongkan saluang di tangan kanannya ke atas. Gerakan ini seperti hendak menggebuk.
Anak laki-laki itu meloncat turun dari batu besar. Diambilnya sebatang ranting kering dari tanah. Datuk Pidareh Hitam menyusulnya, saluang diayunkan keras. Anak lelaki menangkis dengan ranting kecil kering ditangan kanan. “Trang…” aneh kayu beradu bunyinya menyerupai dua besi yang beradu.
Datuk Pidareh Hitam mengayunkan saluangnya ke samping, bermaksud membabat bagian iga si anak lelaki. Dengan sebat pula anak kecil berpakaian merah itu menangkis. Kedua guru dan murid ini saling bertempur mengerahkan kemampuan yang ada. Mereka loncat ke sana kemari. Dari gerakannya kakek tua itu, seperti tidak main-main, jika sang murid tak bisa mengimbangi gerakan-gerakannya, tidak mustahil anak lelaki yang kira-kira masih berumur sepuluh tahunan itu akan celaka dibuatnya. Namun dilihat dari gerakan-gerakannya yang gesit. Anak kecil itu telah menguasai ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
Siapakah anak kecil itu? Dialah Samsul Alam, putra dari Datuk Mudo Rajo Alam, seorang kepala negeri yang mati terbunuh oleh kebiadaban Sepasang Kariah Sakti. Anak kecil itu dibawa lari oleh sang guru, Datuk Pidareh Hitam ke puncak gunung Merapi sedari ia masih bayi, tepat dihari pertama kelahirannya, tepat disaat itu pulalah ayah dan ibunya telah tiada.
Kedua orang guru dan murid sekarang saling berpandangan. Tangan Datuk Pidareh Hitam yang menghitam sampai kebahu tambah mengkilap kemerahan. Dia tengah merapal ajian pukulan Kelabang Merah. Pukulan sakti yang bisa membuat musuh bergidik takut, betapa tidak pukulan sakti ini jika terkena sedikit saja bagian tubuh, akan membuat sekujur tubuh bagian dalam merasakan panas. Hingga kulit memerah, lalu mati meregang nyawa, karena paru-paru bagian dalam akan meledak terbakar. Ditambah lagi kakek tua ini memiliki kedua tangan yang beracun, maka racun dari tangannya akan ikut terbawa dalam pukulannya.
“Sekarang kau tidak bisa main-main lagi buyuang…”
“Ha… ha… ha… jan banyak kecek guru!” (jan banyak kecek = jangan banyak omong)
Datuk Pidareh Hitam mengiblatkan pukulannya pada muridnya. Selarik sinar berwarna merah menggidikkan keluar mengarah tubuh anak kecil yang hanya berdiri bertolak pinggang.
Sehasta sinar merah itu hampir mengenai bagian dada dan perut si anak kecil. Anak kecil itu menyerongkan badannya ke belakang. Dua kepal tangannya ia sentakkan ke depan. Suara kilat menderu, tampak pijaran-pijaran api kilat keluar dari kepalan tangannya. membentuk tameng yang melindungi dari sinar merah pukulan kelabang merah sang guru.
Selarik sinar merah membalik arah, mengenai batang pohon pinus besar di samping kiri Datuk Pidareh Hitam. Batang pohon itu berubah warna merah kehitaman. Datuk Pidareh merah meski menggidik sendiri melihat akibat pukulannya terhadap pohon itu, hanya bisa menyeringai tersenyum.
“Bagus Buyuang, sekarang kau terima ini..” Datuk Pidareh Hitam membuat gerakan-gerakan berputar-putar, kedua tangannya yang dikembangkan, mengeluarkan kibasan angin. Inilah yang disebut jurus putaran angin menyerbu angkasa. Di akhir jurus ia mengarahkan kedua telapak tangannya kepada anak kecil dihadapannya. Serangkum angin dashyat menyerang anak kecil itu.
Namun anak kecil itu hanya membuat gerakan meloncat kebelakang. Membuat kuda-kuda yang sangat rendah. Dan mengayun-ayunkan kedua tangannya, sehingga dari kedua tangan tersebut sebatas siku mengeluarkan pijaran-pijaran api kilat. Ia membuat gerakan yang berputar-putar dengan kedua tangan diputar-putar pula. Ternyata ia memakai jurus yang sama untuk menangkal serangan gurunya. Tapi yang aneh dari angin yang mengibas dari putaran-putaran tersebut keluar pula pijaran kilat yang menyambar-nyambar. Kedua telapak tangan terbuka mengarah sang guru. Serangkum angin yang membawa kilat seperti segumpal awan dikala hujan akan turun, menyerang sang guru.
Terjadi letupan deras ketika dua rangkum angin beradu. Akan tetapi pijaran kilat yang menyambar-nyambar tetap menyerang sang guru. Sang guru pun menghentakkan kakinya meloncat menghindar kesamping, dan membuat sebuah ilmu pukulan yang langka. Asap hitam keluar dari kepalan tangannya. Bersamaan dengan itu sinar hitam mengiblat. Inilah yang dinamakan pukulan seribu racun. Kembali terdengar suara letupan keras, sambaran kilat dan sinar hitam beradu. Tanah dibawah menggompal kehitaman, antara hangus dan berbau racun jahat.
Sang guru menyeringai lagi. Geleng-geleng kepalanya. Lalu meloncat ke atas batu besar berlumut. Lalu memegang tasbih besar berwarna hitam, dan berdzikir. Memperhatikan muridnya di bawah sana yang berlutut hormat di hadapannya.
“Muridku.. coba kau buka lobang sengsara…!”
“Baik guru..” anak kecil berpakaian merah-merah itu berjalan ke samping kiri. Mengangkat ranting-ranting kayu yang dirajut dengan dedaunan. Dari bawahnya tampak sebuah lubang besar menganga. Di dalam lubang terdapat puluhan jenis ular dan kalajengking serta laba-laba besar yang menanti.
“Kawan-kawan apa kabar kalian siang ini..?” ujar anak lelaki itu pada hewan-hewan di dalam lubang.
“Masuklah ke dalam lubang muridku.. Bermainlah dengan kawan-kawanmu.. Guru tunggu engkau disini ketika tengah hari nanti, sama-sama kita nanti melaksanakan sholat dzuhur berjama’ah.”
“Baik guru..” Anak kecil itupun masuk ke dalam lubang. Terdengar suara canda tawa dari dalam lubang. Datuk Pidareh Hitam hanya sunggingkan senyum sambil berdzikir didalam hati.
***
“Muridku.., usiamu kiranya sudah sepuluh tahun. Selama itu pulalah kau ku bawa ke atas puncak gunung ini. Seluruh ilmu tenaga dalamku sudah kuwariskan kepadamu. Begitu juga ilmu silat dan ilmu mengaji. Aku percaya kelak kau akan menjadi orang besar, ketika dewasa nanti.” ucap Datuk Pidareh Hitam kepada Samsul Alam. Mereka tengah duduk bersila berhadap-hadapan. Tampaknya mereka telah melakukan shalat Dzuhur bersama, karena mereka duduk pada tikar sembahyang di atas batu besar yang berlumut.
“Kemarin malam aku bermimpi muridku, tepat hari ini kau akan dibawa oleh seorang sakti. Dia adalah inyiak gurumu. Kepadanya-lah engkau harus menuruti segala perintah dan pelajaran-pelajaran.”
“Siapa dia guru..?” anak kecil berbaju merah bertanya heran.
Kakek tua berambut kelabu sepanjang pinggang itu menarik nafas dalam. “Kau cukup memanggil namanya dengan sebutan Inyiak saja..!”
Sebenarnya dia ingin memberitahukan siapa nama kakek gurunya itu. Namun Datuk Pidareh Hitam tahu betul sifat kakek gurunya yang bukan merupakan manusia itu, bisa saja lelembut-lelembut itu marah jika ia mendahului kehendak mereka.
“Itu mereka telah datang…” seru Datuk Pidareh Hitam kepada muridnya sambil mengarahkan wajahnya ke hadapannya. Asap putih mengepul.
Dari balik kepulan asap yang semakin lama, semakin mereda. Muncul dua sosok makhluk. Yang satu berwujud kakek tua berpakaian destar hitam, dengan tongkat putih digenggam pada tangan sebelah kiri. Dan sebuah saluang emas terselip di pinggang. Sedang yang satu lagi berwujud harimau besar berwarna putih, mata harimau tersebut berwarna hijau menyala-nyala terang. Yang aneh dari kedua makhluk ini adalah kaki-kaki mereka tidak menjejak ke tanah. Tubuh mereka berdiri sama tinggi dengan Samsul Alam dan Datuk Pidareh Hitam, padahal kedua orang itu sedang duduk di atas batu besar yang tinggi.
“Cepat kau berlutut di hadapan mereka Samsul..!” Datuk Pidareh Hitam telah mendahului berlutut di hadapan kedua makhluk tersebut. Dengan segera Samsul Alam ikut duduk berlutut.
“Grrr.., rupa-rupanya anak ini telah kau didik dengan baik cucu..!” ucap kakek yang sedang memegang tongkat putih dan terselip saluang emas di pinggang.
“Itu semua berkat petunjuk inyiak pula. Ambo kiranya hanya menuruti apa yang inyiak perintahkan kepada ambo..”
“Hmm…, bagus-bagus cucu, Inyiak yo bana panggak punya murid berbakti seperti waang.” (Inyiak yo bana panggak = Kakek sangat bangga)
“Terima kasih banyak inyiak.”
Kakek berdestar hitam itupun maju beberapa langkah. Menatap tajam wajah anak kecil di hadapannya. Meski tatapan matanya tampak menakutkan dan berwibawa, senyuman pada bibirnya membuat wajah itu terlihat lebih ramah. Ia mengulurkan tangannya kepada Samsul Alam. Datuk Pidareh Hitam menyentuh bahu anak itu, dan mengerdipkan matanya. Samsul Alam mengerti betul arti isyarat dari gurunya. Ia mencium tangan kakek tua dengan saluang terselip di pinggang itu.
“Anak pintar..” kakek tua itu lalu mengelus-elus rambut Samsul Alam, “anak pintar…”
“Samsul.., ikutlah dengan inyiak..! Jadilah anak yang baik. Taati perintah agama.. Tegakkan selalu sholat yang lima waktu.. Hiduplah dengan jujur. Ikhlaskan semua yang kau kerjakan hanya untuk Yang Maha Kuasa. Setelah engkau dewasa kelak kunjungilah aku.., gurumu yang tua ini.. Ingin melihatmu menjadi pemuda gagah dan perkasa..” Datuk Pidareh Hitam meneteskan air matanya pada Samsul Alam.
“Guru…..” Samsul Alam memeluk gurunya. Tak kuat menahan haru, air mata keluar dari matanya. Ia peluk erat-erat tubuh kakek tua yang berbadan kekar itu, semakin erat, seakan-akan enggan untuk ia melepaskannya.
“Pergilah nak…! Perpisahan ini hanya sementara.. Aku akan menunggumu disini.. Ingatlah pesanku.. Selama engkau menuntut ilmu.. Katakan dalam hatimu, tak ada ilmu yang paling hebat selain ilmu Yang Maha Kuasa. Agar engkau tak menjadi orang congkak kelak dikemudian hari.”
Dengan susah hati Datuk Pidareh Hitam melepas rangkulan Samsul Alam. Kakek Tua yang dipanggil Inyiak oleh Datuk Pidareh Hitam hanya tersenyum melihat kedua guru dan murid ini. Ia angkat tubuh anak kecil di hadapannya, lalu memapahnya di bahu.
“Cucuku… Aku akan bawa muridmu ini untuk menuntut ilmu di hutan Gunung Singgalang sana! Kuharap engkau bersabar menunggu sampai muridmu berhasil menuntut ilmu. Setelah kukira ia berhasil, kelak ia akan kubawa kembali kesini.”
Datuk Pidareh Hitam hanya bisa menundukkan wajahnya. Memejamkan matanya, menahan air mata keluar lebih banyak. Begitu ia membuka mata. Kakek tua bersama Harimau putih besar tunggangannya sudah tak ada lagi di tempat itu, mereka pergi meninggalkan tempat itu. Kini ia sendiri. Ia melanjutkan tapanya lagi. Tapa yang terhenti selama sepuluh tahun. Oh, apakah muridnya akan baik-baik saja di luar sana.
***
Samsul Alam hanya bisa memejamkan matanya. Deru angin seperti menerpa wajahnya. Suara angin yang berhembus kencang seperti sebuah irama merdu yang indah sekali ditelinganya. Sejenak ia bisa melupakan wajah gurunya. Gurunya yang berwatak keras, namun sangat menyayanginya. Oh guru.., mengapa aku begitu merindukanmu.. padahal baru saja kita tak berjumpa..
Samsul Alam kini berada ditengah hutan belantara. Pepohonan-pepohonan besar nan rindang dengan dedaunan yang lebar menutupi sinar mentari untuk masuk. Suara makhluk-makhluk penunggu hutan menambah keadaan menjadi semakin mencekam. Kabutpun mulai muncul. Samsul Alam memperhatikan keadaan, hanya ada pohon, hanya ada semak. Dimanakah kini ia berada. Begitu sampai ia telah didudukkan oleh kakek tua dihadapannya dipinggiran sebuah pohon besar.
“Berdirilah anakku..!” ucap kakek tua dihadapannya, “Sesaat lagi akan kuperkenalkan engkau dengan sahabat-sahabatku…!!”
Samsul Alam berdiri, lalu hanya terdiam bisu. Ia tak tahu harus berkata apa. Meski ia hendak bertanya dimanakah kini ia berada. Ia merasakan enggan untuk berkata apa-apa. Lalu kakek tua itu berteriak keras, meraung, raungannya hampir seperti raungan harimau. Begitu keras, hingga menyakitkan gendang telinganya. Samsul Alam hanya dapat menutup lobang telinganya dengan kedua telapak tangannya.
“GGGGrrrrrAAAAuuuuuuuummmmmmmm……”
Suara itu menggema kemana-mana.
Beberapa saat kemudian, keanehan terjadi. Tanah serasa bergetar keras. Terdengar suara-suara raungan harimau. Juga terdengar suara-suara binatang-binatang hutan yang ketakutan. Dari balik semak di sebelah kiri ia berada muncul dua harimau besar. Di hadapannya muncul seekor harimau yang juga besar. Dari balik pohon di kanannya kembali muncul dua ekor harimau. Dia berdiri mematung, rasa takut hampir di kepalanya, jantungnya berdegup kencang. Tapi ia langsung terperanjak kaget ketika telapak tangannya yang menjuntai, menyentuh bulu-bulu harimau yang berjalan dari belakangnya. Ia lalu berlari mencari perlindungan, mencoba memeluk kakek tua yang membawanya ke hutan ini.
Tapi apa yang ia dapatkan. Kakek tua itu mendorongnya. Hingga tubuhnya terperosok jatuh terduduk. Ingin rasanya anak kecil itu menangis, namun Samsul Alam sudah tidak terbiasa menangis. Entah sejak kapan ia tidak menangis. Samsul Alam memandang mata kakek tua itu, pandangan yang tajam dan menakutkan. Begitupula dengan harimau putih tunggangannya. Mereka berdua seolah-olah semakin mendekatkan diri ke arahnya. Ia menjauh, tapi tak bisa, bagian belakang tubuhnya menyentuh tubuh seekor harimau. Ia kini tersadar harimau-harimau itu kini sudah mengurungnya.
“Berdirilah…..!” kakek tua itu menjulurkan tangan kearahnya.
Setelah ia menegakkan dirinya. Kakek tua itu mengelus rambut dan sebagian wajahnya. Memandangnya dengan pandangan yang tajam. Namun hangat.
“Anakku.. Aku akan meninggalkanmu disini. betah-betahlah kau disini!” ucap kakek tua berdestar hitam kepada Samsul Alam.
“Ke.. kenapa inyiak? saya takut jika inyik tinggalkan disini.”
“Tak usah takut keenam harimau ini akan menjadi teman-temanmu. Mereka akan menjadi temanmu sekaligus guru-guru terbaikmu.”
Samsul Alam memandang ke sekelilingnya. Harimau-harimau buas berwajah garang dan menyeramkan. Seperti siap menerkamnya dan menelannya hidup-hidup. Mereka yang akan dijadikan teman-teman, sekaligus guru juga. Hal yang sungguh sukar dipercaya olehnya, bahkan mustahil ia bayangkan.
“Aku tinggalkan engkau sekarang juga anakku. Tujuh tahun yang akan datang kita akan kembali bersua. Sementara itu bersabarlah engkau disini. Jangan engkau lupakan sholatmu anakku.” ucapan kakek tua itu begitu meresap dikepalanya.
Kakek tua bersama harimau putih besar tunggangannya berlalu pergi. Cepat sekali perginya. Sekali loncat saja, harimau putih itu telah lenyap dibalik dedaunan besar di atas sana. Ia menatap kagum. Di atas langit masih ada langit, ucapnya dalam hati.
Sementara ia masih terperangah menatap kepergian kakek tua yang ia panggil dengan sebutan inyiak itu. Tanpa ia sadari seekor harimau menerkamnya tepat di dada. Samsul Alam terperosok jatuh. Mulanya ia takut. Namun kini, ia berpikir, ia harus selamat dari terkaman harimau-harimau buas ini. Dari sorot mata mereka yang tajam dan lidah serta taring mereka yang mencuat keluar dari mulut, Samsul tahu betul mereka berniat mencelakainya. Kilatan listrik keluar dari dua belah tangannya sebatas siku. Ia memasang kuda-kuda rendah. Ia tahu betul lawan menyerang dengan loncatan dan terkaman. Jadi ia aman dengan kuda-kuda ini.
Seekor harimau meloncat dan menerkamnya ke arah wajah. Ia buat gerakan memuntir ke bawah, dimana badan dibuat rata dengan kuda-kuda yang rendah dan berputar. Ia menyerang lawannya dengan sebuah pukulan bertenaga dalam, selarik sinar kilat mengarah ke dada harmau tersebut. Tapi apa yang terjadi, harimau itu kembali berdiri tegak menghadap ke arahnya. Seperti pukulan yang dashyat tadi tidak membuat harimau itu merasakan apa-apa.
Sedang dua harimau lain sudah menyerangnya dari dua sisi yang berlawanan, kiri dan kanannya. Yang satu menerkam bawah, yang satu loncat dan menerkam bagian wajah dan kepalanya. Ia meloncat rendah, tubuh membentuk sebuah galah. pukulan ke arah dada ia tujukan pada harimau yang berada di atasnya. Sedang harimau yang melintas di bawah, ia pukul bagian punduk kepalanya.
Sekali lagi harimau-harimau itu tetap tegap di hadapannya. Dengan sorot mata yang tajam. Apa yang terjadi. Biasanya pukulannya dapat memukul pecah sebuah batu yang cadas sekalipun. Apalagi kilat dari tangannya dapat menghanguskan semua benda yang tersentuh. Kini ia hanya bisa berdoa dan mengatur jalan nafasnya. Sementara harimau-harimau itu terus menyerangnya.
Diposkan oleh Poetih Dekil

SYAMSUL ALAM Pendekar Pedang Dewa ApiI 4

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ


SEPASANG KARIH SAKTI  bagian    4


Hasil gambar untuk samsul alam pendekar pedang dewa api 

“Hiiaaaaaaatt…..” seorang pemuda menangkis serangan seekor harimau besar. Di sekelilingnya ada lima ekor harimau lainnya yang tampak garang menunggu giliran.
Pemuda itu berambut panjang sebahu. Rambutnya yang lurus berderai halus, menyerupai rambut perempuan, dengan poni yang melintang menyamping kebawah kiri hampir menutupi mata kirinya. Tubuhnya yang tinggi tegap dan kekar, tampak begitu kurus dan menampakkan ruas-ruas tulangnya yang kokoh. Pada kuku-kuku jemari tangannya yang berwarna hitam keluar percikan-percikan listrik kecil. Pada wajahnya yang tampan itu tumbuh janggut tipis di dagu. Cambangnya yang memanjang ke sebagian pipi, menambah kerupawanannya. Alis-alisnya menyambung dan panjang tebal. Pemuda itu mengenakan selembar kain rusa untuk menutupi auratnya sebatas pusar sampai ke lutut kaki.

Begitu terus menerus semua harimau itu menyerangnya. Pemuda itu ingat betul seorang tua dengan seekor harimau putih besar membawanya ke hutan ini. Meninggalkannya bersama harimau-harimau ini. Sejak pertama kali ia ditinggalkan sendiri, harimau-harimau besar ini sudah menyerangnya bertubi-tubi dan tak henti-henti. Namun ia merasakan, terjadi keanehan yang ia alami. Semula ia berpendapat harimau-harimau itu hendak mencelakainya. Namun tak satupun luka sampai saat ini ia dapatkan dari serangan-serangan harimau-harimau ini. Malah setiap gerakan silat yang ia pakai untuk menangkis, berkilah dan menyerang semakin lihai dan banyak saja.
Harimau-harimau ini seperti memiliki perasaan dan pikiran. Itu pula yang ia tak habis pikir sampai saat ini. Mereka berhenti menyerangnya, ketika waktu untuk menunaikan sholat wajib telah tiba. Salah seekor harimau pasti mengaum keras diatas bebatuan itu berkali-kali dan menggema ke seluruh hutan. Lalu mereka menyuruhnya ke sungai yang tak jauh dari tempat ini, untuk membasuh tubuhnya, mengambil air wudhu. Setelah itu mereka berbaris di belakangnya, dan menjadikan ia imam sholat berjama’ah.
Begitupun ketika pakaiannya sudah tak mencukupi besar tubuhnya lagi. Mereka membawa beberapa lembar kulit rusa yang telah bersih, tak bernoda darah. Untuk ia pakai menutupi auratnya. Terkadang beberapa lembar kulit rusa terdapat tulisan, yang ia tahu adalah wahyu dari Tuhannya, Allah sang Robbul Alamin. Ia tahu betul harimau-harimau itu menyuruhnya untuk membacanya. Mereka duduk berbaris di hadapannya, menikmati lantunan merdu nyanyian surga.
Ia sudah menganggap harimau-harimau itu saudaranya sendiri. Ia bahkan menamai mereka. Yang herannya lagi, mereka menyahut ketika ia panggil dengan nama pemberiannya. Harimau besar kuning dengan luka di jidatnya, ia panggil Rajo. Ialah pemimpin keenam ekor harimau ini, mereka menurut padanya. Dua ekor harimau yang selalu berdiri berdampingan adalah sepasang jantan dan betina Zul dan Siti. Seekor harimau disamping kirinya dengan tubuh kurus dan ramping bernama Ujang, dialah yang paling lihai gerakannya.
Harimau di samping kanannya, bernama Buyung, Ekornya yang panjang merupakan senjata, selain cakarnya. Harimau di belakangnya bernama Sanusi loreng hitam pada tubuhnya terlihat penuh dan panjang. Dan yang terakhir itu bernama Upik, harimau betina yang kerjaannya menjilati wajah saja. Kembali dia waspada terhadap serangan berikutnya.
“Huup…” Pemuda berambut halus panjang itu menangkap pergelangan tangan harimau bernama Buyung. Lalu membanting punggungnya sendiri ke tanah, lalu menendang bagian perut harimau itu, hingga terpental ke udara.
Dalam keadaan tertidur telentang seperti itu Zul dan Siti loncat dan menyerang ke bagian perutnya dari arah yang berlawanan. Zul mengeluarkan tenaga listrik dari kedua tangannya. Dan mementalkan dua larik sinar listrik ke bagian pinggang dua harimau yang menyerangnya. Siti dan Zul terpental jauh, kesempatan ini dipakai pemuda itu untuk bangkit berdiri, sebelum harimau-harimau lain menyerangnya.
Ia memasang kuda-kuda rendah, namun agak asing terlihat, kedua siku kaki terlipat hampir bersentuhan dengan tanah. Kedua tangan ia kembangkan, membentuk cakaran. Ia persis seperti seekor harimau yang hendak menerkam musuhnya. Setidaknya terlihat senyuman garang seekor harimau, dan mata tajam seekor harimau yang menyalang.
Rajo harimau terbesar menyerangnya. Harimau itu meloncat dari ancang-ancang tubuh yang begitu rendah dan dekat sekali dengan tanah. Namun loncatannya begitu tinggi, dua kali tinggi tubuh manusia. Dari kuda-kuda yang rendah, pemuda bertubuh kurus itupun meloncat tinggi. Mereka saling hantam dan mencakar di udara. Hampir saja sebuah cakaran mapir ke bagian bawah perut pemuda itu, jika ia tidak meloncat jungkir balik, dan menjadikan pundak Rajo sebagai pijakan tangannya. Dengan kedua tangannya itupula ia mencengkram bagian persendian pundak Rajo, hingga terdengar bunyi, “krakk….” setidaknya dua tulang pada persendian itu pecah.
Namun anehnya, Rajo tetap berdiri tegak, memperhatikannya dengan mata binatangnya yang buas.
Dia ingat betul hampir semua jurus yang diajarkan padanya. Dia semakin mengetahui bahwa tenaga dalam dan ilmu jarak jauh tidak begitu berguna jika ia manfaatkan terus menerus. Enam ekor harimau ini mengajarkannya pertempuran jarak pendek yang betul-betul menguras tenaga. Tenaga dalam hanya ia gunakan pada saat-saat akhir saja, ia lebih mengutamakan ilmu mengentengi tubuh dan otak. Ya otaknya harus berkerja sangat cepat, sebelum harimau-harimau ini dapat melukai tubuhnya.
Dalam keadaan masih mengatur nafas, ia memperhatikan keenam ekor harimau yang mengitarinya dan membentuk lingkaran. Semakin lama mereka semakin dekat. Buyung, Siti dan Zul membentuk kuda-kuda rendah. Ia tak tahu kini, apakah mereka akan menyerang bersamaan. Dari kuda-kuda yang rendah itulah letak pengecohnya. Karena pada kuda-kuda yang rendah lawan bisa mengincar bagian tubuhnya yang mana saja. dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Sedangkan Rajo, Sanusi dan Upik hanya menggeram berdiri tegap pada posisi mereka masing-masing. Berarti mereka mengincar bagian tubuh tengahnya atau menunggu sampai ia membuat gerakan selanjutnya. Pemuda ini mengalirkan seperempat tenaga dalamnya ke bagian kaki yang sudah ditekuk menjadi kuda-kuda yang rendah. Lalu seperempat lagi ke kedua tangannya, kilatan listrik menyala-nyala keluar dari kedua belah tangan sebatas siku. Ia membuat sebuah gerakan tangan yang dikembangkan lalu berputar-putar. Kita ingat ini adalah jurus Putaran Angin Menyerbu Angkasa, sebuah ilmu pukulan yang bisa digunakan sebagai benteng pertahanan dikala diserang musuh.
Siti dan Zul menyerang bagian bawah tubuhnya, mereka bergerak bersamaan dengan Buyung yang meloncat tinggi dengan garang. Cakar-cakar mereka yang tajam dapat merobek apapun juga, Pemuda itu berteriak mengerang, lalu menendang rendah membentuk kitiran ke arah wajah-wajah Siti dan Zul. Sedang tangannya yang siap memukulkan jurus Putaran Angin Menyerbu Angkasa ia pentangkan ke arah dada Buyung. Tak ayal Buyungpun terpental jatuh.
Namun Sanusi telah menyerangnya dari kiri dan Upik ikut menyerangnya dari kanan. Pemuda itu meneruskan kitiran tendangannya ke arah Sanusi yang ia rasa lebih jauh darinya. Sedang Upik, ia mennyikut wajah harimau betina itu, lalu menangkap kepalanya, dan mencekik lehernya dengan bagian siku tangannya lalu ia puntir memutar.
Serangan belum terhenti, ternyata Rajo sudah siap diatas tubuhnya, mencakar bagian dadanya.
“Aaaaaargh……………..” teriaknya keras, selama ini harimau-harimau ini tak pernah menyakitinya. Namun kali ini mereka bisa membuatnya terluka.
Harimau-harimau itu mencakarnya bergantian. Yang ia rasakan sakit menjulur dari dada kiri bagian atas menurun sampai seperempat bagian perutnya, Namun bukan hanya rasa sakit yang ia dapatkan tapi juga hawa panas yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Meski seluruh badannya telah basah oleh darah yang keluar dari dalam tubuhnya sendiri.
Tubuhnya yang sudah lemas bermandikan merahnya darah lalu kembali merasakan tenaganya perlahan-lahan mulai pulih. Harimau-harimau itu menjilati luka dan darah yang menutupi dada dan perutnya. Jilatan-jilatan itu mengirimkan tenaga masuk ke dalam tubuhnya. Hawa panas yang disebabkan oleh luka itu perlahan-lahan hilang menjadi hawa sejuk dan dingin di sekujur tubuhnya.
Ia masih memejamkan matanya. Kejadian tadi masih begitu mengerikan baginya.
“Bukalah matamu Samsul Alam…!” terdengar suara laki-laki memanggil namanya.
Ia lalu membuka matanya perlahan-lahan.
“Berdirilah….!” suara itu memerintahkannya untuk berdiri.
Namun tak ada siapa-siapa disitu. Hanya ada enam ekor harimau besar berdiri tegak melingkar dihadapannya. Samsul memperhatikan ke atas pepohonan, lalu ke balik semak-semak. Tak ada siapa-siapa lagi disitu. Ia memperhatikan tubuhnya, mengelus dada dan perutnya. Masih berwarna merah kering sisa-sisa darah, Tiga gores bekas luka besar cakaran harimau melintang dari dada kiri sebelah atas sampai ke seperempat bagian perut kanannya, menyelimpang. Tapi luka itu sudah mongering, hanya bekas lukanya yang besar dan menghitam sajalah yang terlihat kini.
“Muridku…, tujuh tahun sudah kamu, kami didik disini..! Sekarang saatnya kami melepas kepergianmu!” suara itu berasal dari mulut harimau di depannya. Rajo tengah berbicara padanya.
“Kamu… kamu bisa bicara Rajo…!!” Tanya Samsul Alam heran.
Harimau besar yang disebut Rajo oleh Samsul Alam hanya menggereng.
“Hal itu tak usah dibahas wahai anakku.. Sekarang kami harus melepasmu pergi dari sini. Meski berat kami rasakan.” ucap harimau yang berekor panjang bernama Buyung.
“hiks hiks.. meski kami sedih melepasmu! Tapi sudah keharusan bagi kami sebagai guru untuk melepas muridnya pergi..! hiks.. hiks..” harimau betina bernama Upik mengeluarkan suara seperti terisak-isak menangis.
“Betul Samsul anakku.. Bagi kami, dirimu hanya titipan dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kami. Tujuh tahun bersamamu sungguh tak bisa terlupakan bagi diri kami.” seru harimau bernama Zul.
“Pergunakanlah segala ilmu harimau yang kami berikan kepadamu untuk hal-hal yang baik. Jangan lupakan keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa.” nasihat harimau yang loreng hitamnya terlihat begitu banyak dan memenuhi seluruh tubuhnya, Sanusi.
“Ingat… pergunakan ilmu yang kami ajarkan padamu untuk hal yang baik-baik…! Belalah yang lemah..! Tegakkan kebenaran..! Lawanlah segala bentuk kemungkaran dan kejahatan di muka bumi..! Jadilah orang yang jujur ..!” harimau betina bernama Siti mewanti-wantinya.
“Musuh jangan dicari ada musuh jangan lari..! Dima bumi dipijak di situ langik dijunjuang..!” harimau lincah bernama Ujang mengeluarkan dua petuah Minang untuk Samsul Alam lakoni dalam kehidupannya. (Dima bumi dipijak di situ langik dijunjuang = dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung )
“Kau dengar apa kata kelima gurumu Samsul…!!!” seru harimau paling besar bernama Rajo sembari mendekat kepada samsul.
“Dengar guru…! Aku dengar semua perintah dan petuah para guru..” ucap Samsul Alam sembari menjatuhkan diri, bertekuk lutut. Tanda hormatnya kepada enam ekor harimau jejadian yang telah mengajarinya selama tujuh tahun terakhir ini.
Harimau-harimau itu mendekatkan diri kepadanya. Memutari tubuhnya. Menjilat-jilati bahu, tangan, leher dan kepalanya. Lalu mereka mengaum serentak dengan menegadahkan wajah mereka ke langit. “Grrrraaaaaauuummmmmmm …………….” suara auman-auman harimau menggema ke seluruh hutan.
Sesaat auman-auman yang bisa memecahkan gendang telinganya jika saja ia tak menutup aliran darah menuju telinganya itu. Samsul Alam melihat telah tegak dua sosok makhluk yang dulu membawanya ke hutan ini. Kakek tua bersama harimau putih besarnya yang bermata hijau terang.
Dengan ujung saluangnya yang berwarna emas itu. Kakek tua itu menyentuh pipi dan dagu Samsul Alam. “Berdirilah anakku! Ingin kulihat setinggi apakah engkau tumbuh.”
Samsul Alam berdiri dihadapan kakek tua yang hanya dia kenal dengan sebutan Inyiak itu.
“Engkau telah tumbuh dewasa anakku. Engkau tinggi kekar, meski kurus! hahaha… Engkau telah tumbuh menjadi pemuda tampan wahai anakku!” ucap Inyiak sembari menepuk-nepuk bahunya.
“Datuk.. coba uji kemampuan anak muda di hadapan kita ini! Sudahkan keenam Datuk Harimau mengajarinya dengan benar?” ucap Inyiak kepada harimau putih disampingnya, sembari mengusap-usap kuduk harimau tersebut.
Harimau putih bermata hijau itu menggerang. Hal yang pertama ia lakukan adalah mengibaskan ekornya yang panjang. Dengan sebat Samsul Alam meloncat menghindari kibasan ekor. Namun harimau putih itu dengan cepat sudah menerkam dadanya. Gila, cepat betul gerakannya, ucap samsul Alam dalam hati.
Akhirnya ia hanya bisa menangkap pergelangan tangan harimau putih itu lalu menendang ke arah perut. Tapi apa yang terjadi, harimau itu menendang tendangannya dengan kaki-kaki belakangnya.
Mereka terjatuh bersama. Samsul menatap mata hijau harimau itu tajam. Tatapan seekor harimau. Dia berlari sembari mengerahkan seperempat tenaga dalamnya di kedua tangan, hingga tangannya sebatas siku mengeluarkan kilatan-kilatan listrik. Harimau itu hanya tegak di hadapannya, dari kedua biji matanya yang hijau keluar dua larik sinar hijau menggidikkan. Samsul Alam meloncat. Lalu dengan seluruh tenaga dalamnya ia memukulkan sebuah pukulan yang ia ketemukan sendiri ketika belajar dengan keenam Datuk Harimau. pukulan ini ia namakan Pukulan Cakar Harimau. Dengan mengibaskan kedua tangan yang dibentuk cakar ke depan. Segelombang kilat keluar dari kuku-kukunya, membentuk cakar-cakar tajam berupa kilat.
Cakar-cakar kilat dan selarik sinar hijau beradu. Terdengar suara ledakan keras. Harimau putih tetap berdiri tegap diposisinya semula, hanya mengereng kesal. Sedang Samsul Alam terpelanting, punggungnya menabrak pohon besar. Sedikit darah keluar dari mulutnya, ia menderita luka dalam.
Kakek tua yang ia sebut dengan panggilan Inyiak mendekat kepadanya. Dengan ujung saluang emasnya ia menyentuh bahu dada, leher dan pelipis pemuda yang berperawakan kurus tinggi itu. Hawa hangat masuk ke dalam tubuh si pemuda. Tenaganya seperti terasa masuk ke dalam tubuh berlipat-lipat ganda.
“Berdirilah..!” perintah Inyiak kepada Samsul Alam.
Inyiak berdestar hitam yang memegang tongkat putih di tangan kiri dan menyelipkan saluang di pinggang itu mendekatkan wajahnya ke telinga Samsul Alam. Ia membisikkan sesuatu.
“Rapalkan ajian yang baru aku berikan padamu. Angkat tanganmu ke atas. Setelah kau merasakan tenaga luar biasa. Pukul ke arah lawan. Mengerti?”
Samsul Alam mengangguk mengerti.
“Hoooi… Datuk, coba kau serang anak ini sekali lagi dengan pukulan harimau dewamu!” seru Inyiak kepada harimau putihnya.
“Lakukan sekarang..!”ucap Inyiak kepada Samsul Alam.
Dengan lekas Samsul Alam merapal ajian yang diberikan sang Inyiak kepadanya. lalu mengangkat kepalan tangannya ke atas. Seluruh tenaga dalam ia alirkan ke tangan itu. Tangan itu sebatas siku mengeluarkan kilat dan berubah menjadi warna merah. Ketika selarik sinar hijau keluar dari harimau putih besar dihadapannya. Samsul alam balas mengeluarkan ilmu pukulan yang baru ia dapatkan.
Dari tangannya keluar sinar merah menggidikkan seperti api berkobar dengan percikan-percikan kilat yang membungkusnya. Sinar merah dan hijau beradu. Kembali terjadi sebuah ledakan yang besar. Namun harimau putih terbanting beberapa langkah ke belakang.
“Hahahahaha… Hanya segitu kemampuanmu Datuk” ucap Inyiak pada harimau putih bermata hijau yang selalu setia menemaninya.
Samsul Alam tersenyum.
“Dengar anakku..! ilmu yang baru kuberikan padamu bernama ilmu ajian Pukulan Halilintar. Pergunakan baik-baik jikalau engkau sedang terdesak saja. Karena pukulan itu akan menyedot setengah dari tenaga dalam dan luarmu. Engkau mengerti Samsul?”
Samsul Alam kembali mengangguk. Tak tersadar olehnya ketika ia terjatuh tadi kulit rusa yang ia pakai untuk menutupi auratnya terlepas. Ia menutupi auratnya dengan kedua belah telapak tangannya. Kejadian itu membuat Inyiak, harimau putihnya dan keenam ekor harimau tertawa terpingkal-pingkal. Sedang Samsul Alam hanya tersenyum kecil malu.
“Mandilah kau di telaga sana!” perintah sang Inyiak. Kakek tua itu lalu mengeluarkan lipatan pakaian berwarna merah yang ia letakkan di lepitan ikat pinggangnya. “Pakailah ini! setelah engkau mandi!” ucap kakek tua itu.
“Kami menyudahi pertemuan kita sampai disini Samsul” ucap harimau besar bernama Rajo kepadanya. Dia melangkahkan kakinya mendekati Samsul Alam.
Entah mengapa ada tenaga luar biasa yang mendorong kepalanya hingga terbungkuk. Tangan kanannya pun bergerak sendiri. Yang ia tahu ia sedang mencium tangan Inyiak saat itu.
“Bagus, anak pintar. Lain kali kita bertemu lagi ya! Segera kau temui gurumu Datuk Pidareh Hitam di gunung Merapi di sebelah timur tempat ini. Kemudian katakan padanya, benda yang selama ini ia jaga itu adalah untukmu, atas seizin Inyiak.” ucap Inyiak padanya sembari mengelus lembut rambutnya. Tapi yang ia rasakan lain, kepalanya seperti ditimpa beban begitu berat. Hingga ia harus menahan sakit dengan memejamkan matanya.
Namun ketika matanya terbuka. Kakek tua, harimau putih besar bermata hijau dan keenam datuk harimau sudah tak ada di tempat itu. Samsul tersenyum. Ia lalu bergegas ke telaga, sudah tak sabar rasanya ia turun gunung. Ingin segera ia menemui gurunya Datuk Pidareh Hitam. Guru yang ia tinggalkan semenjak tujuh tahun lalu.
***
Wangi harum dari daging kelinci bakar tentu dapat menggugah selera siapa saja. Terutama orang yang tersesat dalam hutan belantara ditengah kelamnya malam. Apalagi untuk seorang gadis sepertinya. Melati adalah seorang gadis berpenampilan cantik nan elok budi dan rupa. Mengenakan baju kebaya penjang berwarna merah muda. Rambutnya yang lurus halus tergerai dengan, membuat kecantikan parasnya bertambah-tambah. Karena perutnya sedari siang tak diisi, ia mencari-cari sumber bau makanan yang membuatnya semakin lapar saja.
Didapati olehnya seorang pemuda sedang duduk bersender pada sebuah pohon besar. Di hadapan pemuda itu terdapat api unggun yang bergolak membakar dua ekor kelinci dan beberapa buah kelapa muda. Pemuda yang mengenakan pakaian dan ikat kepala serba merah seolah curiga menatap semak di tempat ia bersembunyi saat ini. Melati yakin betul kehadirannya tidak diketahui oleh pemuda tersebut. Apalagi semak tempat ia bersembunyi cukup tebal.
Akan tetapi pemuda itu seperti tersenyum menatap ke arahnya lalu melambaikan tangan kepadanya, mengajak ia untuk bergabung. Tanpa berpikir lama, Melati keluar dari pesembunyiannya dan menghampiri pemuda tersebut.
Pemuda berpakaian merah-merah tersebut tersenyum kepada gadis yang baru menghampirinya. Lalu menepuk tanah disampingnya. “Duduklah..! Tak usah sungkan.”
Melati duduk tepat disamping pemuda tersebut. Pemuda berpakaian merah-merah tersenyum padanya. Cahaya temaram dari api unggun tak dapat menutupi keelokan wajah pemuda tersebut. Ia berparas tampan dan lembut. Namun dibalik wajah tersebut ada keteguhan dari seorang laki-laki. Melihat wajah yang tampan, apalagi tatapan mata mereka beradu. Membuat wajah Melati bersemu merah, wanita cantik itu tertunduk malu.
Pemuda di sampingnya menepuk bahunya. Melati tersentak. Si pemuda berpakaian dan berikat kepala merah tersenyum padanya. Lalu menyerahkan setusuk kelinci bakar padanya. Tak berpikir lama, Melati melahap kelinci bakar nikmat itu. Begitupun si pemuda, ia tersenyum melihat perempuan disampingnya, “Begitu kelaparannyakah gadis ini?” ucapnya dalam hati.
Perut mereka sudah sama-sama kenyang. Air dari buah kelapa pun telah membasahi kerongkongan mereka yang dahaga. Namun keadaan hening yang lama membuat Melati tak merasa betah. Pemuda disampingnya seorang yang pendiam. Ia sibuk membenarkan letak kayu pada api unggun di hadapannya. Namun untuk bertanya atau tegur sapa Melati merasa sungkan untuk memulainya.
“Hmmm.., Siapa namamu?” Melati memecah keheningan malam.
Pemuda berpakaian merah yang rupa-rupanya adalah Samsul Alam menoleh kepadanya sembari tersenyum. Senyum pada bibir tipisnya, membuat Melati tersipu malu.
“Samsul Alam. Namaku Samsul Alam.”
“Namaku Melati.” sebenarnya ia berharap agar pemuda disampingnya menanyakan namanya, tapi hal itu tidak terjadi. “Sedang apa kamu ditengah hutan seperti ini? Kamu tinggal dimana?”
“Oh aku berencana pergi ke gunung Merapi. Disana tinggal guruku, aku hendak mengunjunginya.”
Diam sesaat. Melati menanti pemuda tersebut bertanya kepadanya. Namun tak satupun kata keluar dari mulutnya. Melati menghirup nafas panjang.
“Bolehkah aku ikut bersamamu? Aku bosan berada di rumah.” ucap Melati.
“Jangan kau ikut bersamaku, bisa-bisa nanti aku dituduh sebagai penculik anak gadis orang nantinya.” ucap Samsul sembari tersenyum, namun wajahnya tetap menatap api unggun yang semakin meredup.
“Ah, orang tuaku pasti tidak mengkhawatirkanku.” Melati benar-benar merasuki ucapannya. Ia bosan dengan keadaan di rumah. Ia bosan warga kampung menatapnya segan, bukan karena ia dan orang tuanya adalah orang terhormat. Tapi karena alasan takut pada ayahnya. Takut karena keganasannya.
Samsul Alam telah merebahkan diri dipojok jauh darinya. Menatap kepadanya, sembari tersenyum. “Tidurlah gadis, kau pasti lelah.” ucap pemuda itu, lalu memejamkan matanya.
Sukar dipercaya bagi Melati. Selama ini baru ia mendapati pemuda seperti di hadapannya saat ini. Pemuda pendiam yang dingin, namun berhati baik dan lembut. Setidak-tidaknya ada kelembutan pada senyuman dan tatapan matanya. Melati menggeleng-gelengkan kepala, lalu merebahkan dirinya. Memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur, menghilangkan kelelahan pada tubuhnya dan kegundahan pada pikirannya.
***
Hari telah pagi, sinar mentari telah mulai naik dari ufuk timur. Suara mencicit dari burung-burung yang bertengger di ranting-ranting pohon begitu merdu terdengar. Embun pagi yang membasahi dedaunan menetes turun jatuh ke pelipis pemuda berpakaian merah-merah. Matanya terbuka. Adalah terkejut dirinya ketika ia mendapati dirinya sedang dirangkul tubuh perempuan. Wajahnya dan wajah perempuan itu terpaut begitu dekat. Ia merasakan hawa hangat menjalar pada sekujur tubuhnya. Ia berusaha untuk bangkit dan menepis rangkulan sang gadis dengan cara melepas tangan sang gadis yang melingkar pada dada sampai bahunya, lalu menggeser-geserkan tubuhnya.
Namun apa yang terjadi, gadis yang meletakkan kepala di bahunya itu ikut terbangun. Tersenyum kepadanya, lalu meraba dadanya. Tepat di tiga gores bekas luka besar yang panjang didadanya. “Maafkan aku, kemarin aku takut tidur di pojokan sana sendiri. Api unggun yang padam membuat malam bertambah mencekam.”
Samsul Alam bangkit duduk. Begitu pula sang gadis. Namun tak henti-henti mata sang gadis menatapnya.
Enggan berlama-lama dalam keadaan ini, Samsul Alam berdiri, membasuh mukanya dengan air kelapa sisa kemarin malam, ia berwudhu dengan air kelapa itu. Ia menyesali kecerobohannya, ia bukan hanya telat sholat shubuh, juga telah tertidur dengan rangkulan seorang gadis yang sama sekali bukan pasangannya.
Lalu pendekar berpakaian merah-merah dan berperawakan tinggi kurus namun kekar ini bangkit melaksanakan sholat shubuh. Ia menatap matahari, lalu meletakkan kemana arah kiblat untuk ia melaksanakan sembahyangnya.
Melihat hal itu, hati sang gadis yang bernama Melati terbersit rasa gundah. Sedang apa Samsul Alam. Itukah yang dinamakan sembahyang? Menghambakan diri pada Sang Kuasa. Seumur hidupnya ia tak pernah melakukan ritual itu. Ibunya tak pernah mengajarinya. Apalagi ayahnya. Kembali ia menyesali nasib, telah dilahirkan sebagai seorang anak perampok.
Selesai sembahyang, Samsul Alam menoleh kepada Melati. Lalu bangkit berdiri, dan duduk dihadapan gadis berkebaya panjang merah muda. Ia tersenyum dan menatap lembut kepada gadis di hadapannya. Sekali lagi diperlakukan seperti ini membuat dada sang gadis bergetar keras.
“Kemana arah kampungmu?” tanya Samsul Alam.
Melati menunjuk ke arah timur. Samsul Alam tersenyum.
“Berarti searah dengan tujuanku?”
Melati mengangguk.
“Ikutlah bersamaku, kita berjalan bersama. Akan kuantarkan engkau sampai ke rumahmu.”
Mereka akhirnya berjalan bersama. Di perjalanan sang gadis kembali bertanya-tanya pada Samsul Alam. Namun Samsul Alam hanya menjawab dengan jawaban yang pendek-pendek atau mengangguk-anggukkan wajahnya saja. Pendekar muda bertubuh kekar tinggi itu memetik beberapa buah untuk mengisi perut mereka berdua. Melati menilai hal ini sebagai sikap perhatian pemuda itu kepadanya.
Inilah pemuda gagah tempat ia menaruh hatinya. Pemuda yang tak menilainya sebagai seorang perempuan cantik dan bertubuh bagus. Pemuda yang tidak menjadikan nafsu diatas segala-galanya. Pemuda yang menghambakan dirinya hanya kepada Yang Kuasa. Melati terkesan pada semua yang dimiliki pemuda ini. Kelembutan wajahnya. Kelembutan cara ia memandangnya. Cara ia berjalan yang begitu tegap dan tidak dibuat-buat. Alangkah indahnya jika cintanya disambut baik oleh si pemuda.
Ditengah perjalanan, pemuda tersebut memetik sekuntum bunga melati putih yang tumbuh liar di semak-semak hutan. Menimang-nimang terus bunga tersebut dengan jemari telunjuk dan ibu jarinya. Sekali-kali mencium bunga tersebut dan tersenyum. Sesekali juga melirik kepada Melati lalu cepat-cepat menolehkan wajahnya, kembali tersenyum. Hal ini bukan tidak disadari oleh Melati. Gadis itu bersemu merah wajahnya, malu. Ia menggenggam tangan Samsul Alam erat.
Hari telah menjelang siang ketika mereka berdiri di perbatasan kampung saat itu. Samsul Alam menghentikan langkah kakinya. Lalu menatap wajah Melati. “Melati.., disinikah letak kampungmu?”
Melati menganggukkan wajahnya.
“Pulanglah.., orang tuamu pasti lelah mencarimu.”
“Tapi aku tak ingin tinggal di rumah itu. Aku bosan dengan keadaan di rumah itu. Ayahku…” Melati lalu menghentikan ucapannya. Ia sadar ia sedang berbicara dengan seorang pemuda yang baru saja ditemuinya semalam. Tak baik rasanya jika ia membicarakan keburukan keluarganya.
“Tapi aku ingin ikut denganmu Samsul.”
Samsul Alam menggeleng sembari tersenyum. Ia menyelipkan bunga melati yang sedari perjalanan tadi ia timang-timang. “Kau bertambah cantik Melati, dengan bunga ini menghias telingamu. Bunga Melati sama cantiknya dengan dirimu Melati.”
Melati tertunduk dan tersenyum. Dagunya disentuh kecil dengan jari telunjuk si pemuda. Gadis itu memejamkan matanya. Namun apa yang terjadi, begitu ia membuka matanya, pemuda itu telah lenyap entah kemana. Gadis itu hanya tersenyum memandang puncak gunung Merapi. Dalam hati ia berkata, “Kembalilah uda, adik akan setia menunggumu disini.” (uda = abang laki-laki)
Diposkan oleh Poetih Dekil